Surat untuk Anakku dari Balik Ruang Isolasi Mandiri

“Sejatinya dunia ini dibangun oleh pengetahuan, cinta kasih dan keberanian. Semuanya saling terhubung dan tarik-menarik”

Anakku,
ini sedikit cerita dibalik ruang isolasi mandiri/isoman. Sejak kapan ada istilah isoman? Entahlah mungkin dari tahun lalu, Maret 2020 dimana Pemerintah mempopulerkan istilah-istilah baru sejak covid melanda negeri ini. Ya istilah dengan ragam nama berbeda pula: isoman, lockdown, karantina wilayah, PSBB, sampai yang terakhir saat ini yaitu PPKM Darurat.

Anakku,
Surat ini mama buat membutuhkan waktu beberapa hari. Sebenarnya Mama ingin cepet menyelesaikannya, tapi apalah daya. Setiap batuk menyerang, setiap itu pula mama berusaha sekuat tenaga bertahan untuk tetap hidup. Ventolin dan oksigen adalah teman untuk memanjangkan nafas. Selain itu mama mencret setiap hari, setiap saat. Semua makanan yang masuk ke perut serasa dikuras abis. Mama lelah sekali, tapi mama optimis, situasi sulit ini pasti sanggup mama hadapi.

Mama hanya salah satu dari 166 orang pasien positif covid_19 yang terdata di organisasi mama. Atau lebih tepatnya mama hanya salah satu dari 2,49 juta pasien covid di seluruh Indonesia. Jadi tentu yang mama alami juga dialami oleh pasien covid yang lain, entah kondisinya lebih baik atau lebih buruk dari mama. Jika kondisi mama membaik, nantinya secara statistik mama akan masuk dalam data “pasien yang sembuh” dan itulah harapan mamamu.

Nak,
Saat ini mama terkurung dalam 1 ruang yang disebut dengan istilah “ruang isolasi mandiri”. Bukan ruang rumah sakit, dimana ada pengawasan dokter dan perawat yang secara langsung mengontrol kondisi kesehatan pasien. Saat ini rumah sakit sudah penuh dengan para pasien bahkan sampai membangun tenda di  halaman rumah sakit karena pasien membludak.
Iya, mama adalah pasien isoman di ruang kost biasa. Semoga dengan ini mama tetap bisa sembuh dan sedikit meringankan beban kerja para tenaga medis yang sudah overload. Di ruangan ini mama tidak boleh keluar agar tidak menularkan virus ke orang lain. Mama hanya keluar saat berjemur di pagi hari. Setiap hari mama menatap tembok, sesekali membuka layar handphone untuk berkabar tentang kondisi mama. Sesekali memandangi ikan yang menari-nari di akuarium. Maafkan mama yang belum bisa masak nasi goreng sesuai pesan WA mu beberapa hari lalu.

Sejak mama dinyatakan positif covid_19 melalui swab antigen, segera mama memberi tahu semua kolektif di organisasi, kawan dan keluarga. Ini harus dilakukan supaya mereka mengetahui kondisi mama, memantau dan memberi doa serta dukungan untuk mama. Bagi mama ini hal penting, supaya mama tidak merasa sendirian menghadapi situasi yang sulit, ya situasi antara harapan dan kenyataan.

Sebenarnya, mama mengalami gejala batuk dan sesak nafas sudah dari tgl 29 Juni lalu, tapi mama masih kuat menyelesaikan Ujian Akhir  Semester/UAS yang diberikan dosen.  Setelah ujian berlalu, sebenarnya mama berniat lebih fokus dengan kerja-kerja di organisasi, mengingat beberapa kawan sudah terpapar dan harus istirahat total.

Namun apalah daya, batuk mama kian parah. Hal inilah yang mendorong mama untuk segera mengambil jarak denganmu, mama tidak mau kamu tertular, juga keluarga yang lain. Hari Rabu, 30 Juni itulah pertarungan dimulai. Bukan hanya batuk dan sesak nafas yang menyerang mama, tetapi juga demam tinggi, flu, lemes, mencret datang silih berganti, berkejar-kejaran seolah semua ingin paling duluan menyerang tubuh mama ini.

Mama masih optimis ini flu biasa, karena semuanya sudah pernah mama alami, dan mama bisa sembuh. Mama juga paling taat protokol kesehatan, menggunakan masker, menjaga jarak dan handsanitizer selalu di tangan. Seperti biasa, Ultraflu adalah obat andalan mama selama ini. Mama minum 3x sehari. Kadang kondisi mama membaik, tapi lebih banyak tidaknya. Beberapa kawan menyarankan untuk segera swab, tapi mama sampaikan “iya, besok”.

Suatu malam, mama terbangun dari tidur tak lelap karena perut mules dan ingin segera buang air besar. Setelah semua isi perut terkuras karena mencret, badan mama terkulai lemes tersadar di tembok. Mama merasa, perut mama menjadi tipis seperti triplek. Segera mama ambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di perut, di hidung, di leher, di kaki, di tangan. Sungguh ajaib. Mama tidak tidak mencium bau minyak kayu putih itu. Oohh Tuhaaaaannn, cobaan apa lagi ini? Mama masih belum yakin, mama mengambil parfum, mama semprotkan di tangan, tidak ada bau sama sekali. Malam itu menjadi malam panjang yang mama ingin segera pagi. Mama bertekad harus swab, segera.

Esok harinya, 6 Juli segera mendatangi klinik untuk swab. Hasilnya, tidak terlalu mengejutkan. Mama positif.  Sungguhpun begitu, tangan ini gemetaran waktu berkirim kabar ke beberapa kawan, mendadak telat mikir/telmi seolah tidak percaya dengan fakta ini.

“Kawan-kawan, aku positif, sudah lapor ke Puskesmas terdekat, nanti akan hubungi kembali oleh petugas puskesmas via WA”. Begitulah pesan singkat yang mama sebar ke beberapa kawan dan grup WA. Respon segera datang bertubi-tubi, memberi dukungan untuk kesembuhan mama. Ya, mereka meyakinkan mama bahwa covid bisa sembuh, dan mama setuju itu. Ya, virus covid dengan macam varian itu, bisa sembuh dengan meningkatkan daya tahan tubuh, minim obat sesuai dengan gejalanya. Inilah pengetahuan anakku.

Hari-hari berikutnya, mama masih sibuk bertarung dengan batuk berdahak, mencret, menggigil dan demam yang naik turun. Kawan-kawan mama sangat sigap mengantarkan makanan, buah-buahan dan obat-obatan sesuai kebutuhan. Mereka sangat telaten mengecek perkembangan kondisi mama setiap saat melalui pesan WA. Apa yang dirasa, apa yang dibutuhkan. Setiap pagi, ada kawan yang mengantar sarapan. Setiap siang ada lauk yang diolah oleh tangan-tangan orang tulus di Rawa Mangun, dikirim ke mama di Jakarta Utara sini. Setiap malam ada saudara yang masak sepulang dia bekerja di pabrik, diantar untuk mama. Semua yang mereka kirimkan, dicantolkan di pintu, kemudian mengirim pesan atau telpon bahwa ada kiriman di pintu. Kamu tahu apa itu namanya nak? Itulah cinta kasih. Itu “solidaritas” namanya nak. Sebuah rasa yang menggerakkan nurani dan pikiran, untuk membantu sesama yang membutuhkan.  Beberapa kawan menggalang dana baik yang di Jakarta dan di luar negeri demi membantu pengobatan mama dan kawan-kawan yang terpapar. Ada yang berkirim kue pia, kue lopis, kue pancong, bubur, madu hingga ramu-ramuan kunyit putih,  jahe merah, lengkuas dan sere. Ada yang berkirim berita dan cerita-cerita tentang proses penyembuhan dari covid. Ada yang berkirim video lucu-lucu untuk menghibur. Ada juga yang berkirim obat dari Jawa Timur. Kawan yang satu ini sangat resah dengan kondisi mama dan kawan yang terpapar. Beberapa waktu lalu, kami sama-sama kehilangan Kawan aktivis buruh perempuan yang nyawanya terenggut oleh covid. Sungguh pilu kehilangan Kawan juang.

Suatu sore, mama batuk parah berkepanjangan dari jam 4 sore hingga jam 7 malam. Rasa sakitnya sampai ke ubun-ubun. Penderitaan ini belum berakhir rupanya. Mama panik, mungkinkah virusnya sedang ngamuk di tenggorokan? Kenapa dia ngamuk di tubuh ini. Kenapa obatnya gak bereaksi? Kenapa nafas mama pendek-pendek? Kenapa obat yang dijanjikan petugas puskesmas belum datang? Segudang pertanyaan kenapa itu, mama bereaksi untuk segera dibelikan obat oleh kawan. Malam itu dia meluncur berdua menjelajah apotek-apotek di Jakarta. Semua itu dilakukan bukan tanpa resiko, ada resiko terpapar dan lain-lain. Tapi dengan penuh percaya diri, resiko-resiko itu dihadapi. Sikap berani inilah yang dimiliki kawan-kawan mama nak. Berani bukan berarti tanpa kehati-hatian, bukan berarti ceroboh terhadap protokol kesehatan. Ini adalah Keberanian yang penuh tanggung jawab.

Anakku,
Beberapa hari lalu indera penciuman mama kembali. Mama kembali bisa mencium bau minyak kayu putih juga bau pesing kamar mandi. Apakah ini layak disyukuri? Entahlah. Hidung mama menjadi sensitif, asma mama belum juga pergi. Saat mama berjemur dan ada motor atau mobil lewat, kontan nafas mama menjadi pendek diikuti dengan batuk berkepanjangan. Ingin marah sama pengendara motor dan mobil? Gak mungkin. Ini jalanan umum, mama hanya penghuni kost yang hidup berdesakan di antara penduduk Jakarta lain. Mama tidak kehilangan akal, setiap akan ada motor dan mobil lewat, mama masuk dulu ke ruangan, setelah itu keluar lagi, berjemur lagi, begitu terus.

Mama pernah sampaikan padamu bahwa dunia ini dibangun oleh pengetahuan bukan? Saat ini, mama ingin meralat kata-kata sebelumnya.  Sejatinya dunia ini dibangun oleh pengetahuan, cinta kasih dan keberanian. Semuanya saling terhubung dan tarik menarik. Ada yang menggunakan pengetahuan untuk berbuat jahat. Sebaliknya masih banyak orang-orang yang menggunakan pengetahuan untuk semakin mewujudkan cinta kasih kepada sesama, merekalah orang-orang yang berani dan penuh tanggung jawab. Mereka adalah kawan.

Anakku,
Saat ini mama masih batuk, tapi tidak separah kemarin. Mama masih mencret tapi tidak sesering kemarin. Mama tidak sama sekali mengalami linu dan nyeri tulang, mungkin karena mama sudah divaksin pertama. Kesembuhan mama salah satunya karena doamu anakku. Doa adalah harapan. Mama tidak kehilangan harapan untuk bisa sembuh dan masuk dalam daftar “yang sembuh”. Itulah juga harapan kawan-kawan mama, dan harapan para pasien dan keluarganya di negeri ini. Semoga engkau sehat selalu ya nak, mama ingin melihatmu tumbuh dewasa.

Oh iya,
Mama punya cerita lagi. Saat ini mama punya kebiasaan mandi pakai air hangat dengan aroma sere. Rupanya selain uap hangat sere untuk pernafasan, air hangat sere jika dipakai mandi juga menyegarkan. Mama merasa virus itu akan segera pergi dari tubuh mama. Entahlah sugesti atau tidak, tapi hal ini menyenangkan. Dan hal menyenangkan ini akan memperkuat imun tubuh mama. Semoga.

 

Salam sayang dari mama,
Jumisih (11/07/21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 3 =