“Buruh Perempuan Belum Merdeka”

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/mulai-esok-3000-bendera-akan-menghiasi-jalanan-aceh

Oleh Jumisih

Potret Buruh Perempuan

“Perkenalkan, nama saya Haji subur, saya dari FBR yang punya garasi di depan. Keberadaan saya di sini adalah karena terikat kerjasama antara Menegement dengan kami selaku yang mempunyai wilayah untuk menjaga keamanan di Perusahaan ini”. Sejenak aku tenang dan cuek menanggapi seperlunya, namun emosiku mulai naik setelah kalimat-kalimat yang berikutnya di sampaikan Haji Subur.

“Terkait dengan kedatangan Ibu ke sini, saya akan memfasilitasi, dan saya yang menentukan siapa-siapa saja yang boleh berhadapan ketemu dengan Management”. Marah dan tersinggung aku menimpali ucapan-ucapannya dengan kalimat-kalimat bernada keras.

“…apapun yang Bapak sampaikan, saya tidak peduli, kedatangan saya ke sini adalah untuk bertemu dengan manejemen dalam rangka membela anggota saya…” kusampaikan dalam batas kemarahan yang mencoba tetap ku tahan.

“…,dan keberadaan saya adalah untuk membela Pengusaha” Jawab Haji Subur tak kalah kerasnya. Aku langsung berdiri, dan ku abaikan sederet ucapan kekesalanya. Ku ajak Olive, Ari dan buruh Insan Apparel meninggalkan Haji Subur. Langkah kami tegak ke arah ruang office PT EUNSAN APPAREL, sekitar 5 orang kawanan Haji Subur berbadan besar berusaha menghalangi , namun tak kami hiraukan. (sekilas kejadian di 31 juli 2015, di depan PT EUNSAN APPAREL – KBN CAKUNG)

Itu adalah sebagian kecil potret kondisi pabrik, Potret buruh Perempuan kini, yang tak lepas Pengamatan kita dari sisi sosial kesejahteraanya, dikondisikan untuk bekerja dalam industri padat karya, upah minimum, jam kerja panjang, korban skoring (kerja melebihi batas jam kerja tetapi tidak dihitung sebagai lembur), target produksi yang tinggi, menahan diri untuk tidak kencing demi tidak dimarahi atasan, menahan diri tidak mengambil cuti haid karena takut dimarahi superviser, takut berserikat, takut terPHK (diputus kontrak),takut demonstrasi meskipun tahu upahnya di bayar di bawah UMP, takut dengan preman-preman yang sengaja menakut-nakuti buruh, takut melawan teman atau atasan yang sering melakukan pelecehan seksual, takut menatap dan berbicara kepada atasan yang mencaci maki kita, takut dan berbagai macam ketakutan lainnya yang terus dibangun untuk menghantui jiwa dan pikiran buruh perempuan.

Sisi yang lain adalah, buruh perempuan tinggal dalam pemukiman buruh yang sempit ukuran 3×3 meter bersama suami dan anaknya. Di situlah buruh perempuan berusaha melepas lelah setelah seharian bekerja di pabrik, dalam ruang yang sempit dan pengap itulah buruh perempuan melakukan aktivitas domestiknya, mencuci, memasak, membersihkan kamar kost, menggosok baju, dan lain-lain. Juga melakukan aktivitas sosial lainnya, menerima tamu, belajar dan bermain bersama anak-anaknya. Dan diciptakanlah dongeng yang terus disampaikan kepada buruh perempuan, ya dongeng yang di buat oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama yaitu, bekerja yang rajin, jangan bolos, jangan melawan, bersyukur udah dapat rejeki, kalau bersyukur nanti rejekinya bertambah.

Merdeka Untuk Siapa?

Ada juga dongeng khusus untuk buruh Perempuan, misalnya “udah, buruh perempuan mah tidak usah berserikat, ga usah ikut-ikutan, khan bukan kepala keluarga, yang penting aman di pabrik, dan aman di rumah saja. Ga sopan dan ga wajar buruh perempuan teriak-teriak demo, buruh perempuan jadi pengikut saja”. Ya itu dongeng yang akan terus diperbaharui setiap saat dengan berbagai macam polesan bahasa demi memperpanjang dan memperlancar arus modal agar terus bertumpuk. Dongeng itu akan terus dilanggengkan oleh pemerintah, oleh tokoh agama, oleh pengusaha, demi langgengnya arus tumpukan modal-modal orang-orang kaya.

Buruh Perempuan lupa, atau bahkan tidak mengerti, bahwa dongeng itu adalah “jebakan”, dongeng itu adalah tipu muslihat untuk membius buruh perempuan, agar tidak cerdas, agar tetap terbelakang, dan mudah di arahkan sesuai kemauan para pengusaha dan yang mempunyai kekuasaan. Buruh perempuan menjadi korban, buruh perempuan menjadi tumbal keserakahan pengusaha.

Dongeng itu juga yang mengkondisikan buruh menjadi makhluk individualistis, mencari selamat sendiri-sendiri, bahkan injak bawah jilat atas menjadi tren demi menyelamatkan dirinya untuk disayang oleh supervisor agar tidak diputus kontrak. Kadang juga belajar main suap ke atasan, setiap habis gajian memberikan uang kopi ke pengawas, dari nilainya kecil dengan mentraktir pengawas, membelikan atasan setandan pisang, sampai memberikan Rp 500.000 demi perpanjangan kontrak kerja. Sungguh kejam alur situasi ini, kemana hukum ketenagakerjaan yang “katanya” di buat untuk mengatur dunia kerja? Kemana janji para politisi saat jelang pemilu, janji tinggal janji, saat buruh bermasalah tak ada yang peduli.

Sekarang, saat sebagian besar warga sedang mempersiapkan berbagai perlombaan di RT atau RW, dalam rangka menyambut kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70, kita malah berfikir, kemerdekaan yang mana ini? Merdeka darimana? Merdeka dari siapa? Merdeka dari sisi mana? Bagaimana mungkin kami layak di sebut merdeka, jika setiap menit , setiap detik, nafas dan aliran darah di tubuh setiap buruh perempuan, hanya diabdikan untuk bekerja memeras keringat untuk memperlancar arus produksi pengusaha, demi memperlancar ekspor, demi keuntungan melimpah yang tidak dinikmati oleh buruh perempuan. Ya, dari kerja keras buruh perempuan, hanya ceceran rupiah yang didapat, yang hanya bisa untuk bertahan hidup, agar esok harinya bisa kembali datang ke pabrik untuk bekerja kembali.

Merdeka yang bagaimana, jika jiwa dan pikiran para buruh perempuan berada dalam balutan ketakutan yang terus membesar. Merdeka yang bagaimana, jika setiap tanggal gajian, justru buruh perempuan di kejar-kejar rentenir untuk membayar hutang yang tak putus. Merdeka sebagaimana makna kemerdekaan, sejatinya masih jauh dari tatanan kehidupan kaum buruh, dari pribadi, pikiran, tindakan. Kita tidak benar-benar merasakan kemerdekaan itu.Oleh karena itu, seruan buruh perempuan berserikat, menjadi satu-satunya cara buruh perempuan untuk lepas dari Belenggu ketakutan, lepas dari belenggu penindasan. Supaya merdeka yang sebenar-benarnya merdeka, bisa di perjuangkan dan dirasakan bersama.

Karena harapan itu selalu ada, harapan akan lahirnya para pejuang-pejuang buruh perempuan, yang tulus, yang berani memijakkan kakinya membela buruh, yang berani berfikir dengan cermat dan bertindak untuk memerdekakan buruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × one =