Ulang Tahun Ketiga Marsinah FM dan NABUR Pertama

Oleh Dian Septi Trisnanti

21 April tiga tahun silam, kami (FBLP; Federasi Buruh Lintas Pabrik) mendirikan sebuah radio komunitas, Radio Buruh Perempuan Marsinah FM. Suatu angan yang dari lama tersimpan rapi dalam buku harian (saya). Terwujud, setelah bertukar pikiran, kerja keras, dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Cipta Media. Sebuah radio yang kami mau menjadi tempatnya buruh perempuan berekspresi segala suka dan duka. Studio pertama, kami bangun dengan keringat bersama. Ada Admo, Atin, Bima, dan beberapa kawan lain yang bersusah payah membeli kayu, menggeraji dan memakunya di tembok sebuah ruang yang akan kami jadikan studio. Bukan itu saja, beberapa yang lain membobok tembok dan memasang AC, memasang alat pemancar. Sejak itu, kami mulai mengenal mixer, pemancar, microphone dan bermacam kabel. Marsinah FM didirikan dari peluh keringat banyak orang dan sebagian besar adalah buruh perempuan sekaligus ibu rumah tangga. Ada beberapa kawan lelaki di dalamnya dan mereka pun luar biasa.

Menyenangkan, mana kala wajah teman-teman kami merona merah, malu, sedikit takut ketika hendak menyalakan komputer, menyalakan mixer dan mulai berbicara. Saya ikut senang tentu saja. Yang semula teman-teman tidak yakin bisa, menjadi yakin bisa. Semua bermula dari satu langkah pertama, “mencoba”. Kami mencoba tidak sendiri, kami mencoba bersama dengan bekal pengetahuan. Masih ingat kami dengan mas Budi, seorang wartawan Indonesia yang bermukim di Australia. Tahun itu, 2012, ia pulang ke Indonesia dan bersedia mengajari kami. Darinya, kami mengenal berita, bagaimana sebuah informasi dikumpulkan dan dicari akurasinya. Demikianlah, kami menjadi paham bahwa sebuah informasi tak serta-merta bisa dipercaya begitu saja, harus dicari kebenaran informasi sebelum disajikan. Dari sana, kami mengerti bahwa bilapun bersiaran dan hendak memberikan informasi, maka bukan sembarang informasi dan tentu memuat pengertian yang hendak kami usung. “kesejahteraan dan kesetaraan”. Dari Marsinah FM, kami buruh perempuan belajar tak hanya bekerja di pabrik, di rumah dan berserikat, namun juga bersiaran.

Marsinah FM memberi pengalaman berharga tentang arti kolektivitas. Untuk bersiaran, penyiar membutuhkan studio yang nyaman dan indah di mata. Artinya, ia membutuhkan orang- orang yang melakukan kerja – kerja agar studio jadi nyaman dan indah. Orang – orang itu adalah beberapa di antara kami. Tanpa kehadiran penyiar, program siaran tidak akan berjalan dan tiada pendengar. Tanpa kehadiran orang yang mengumpulkan lagu-lagu terbaru, penyiar tidak akan bisa memutar lagu yang diminta pendengar. Tanpa ada yang mengecek persoalan tekhnis radio, radio tidak akan berjalan. Demikian seterusnya. Namun, kami menyadari, kami belumlah penyiar handal, pun bukan tekhnisi handal. Bukan. Kami hanya buruh perempuan yang mau belajar, berekspresi, berkembang dan berjuang untuk diri sendiri serta teman-teman kami sesama buruh. Maka, tahun ke dua, adalah waktu bagi kami memperbaiki cara kami bersiaran, menyapa pendengar, menyampaikan materi siaran yang adalah keseharian kami. Tentang upah kami yang ditangguhkan berturut- turut, tentang kekalahan kami menghalangi penangguhan upah, hingga serikat kami diberangus, tentang teman kami yang menjadi korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), hingga tentang teman-teman kami yang lemburnya tidak dibayar. Tentangnya, banyak hal, tentang luka, tentang suka dan duka. Dari komunitas kami, kami belajar bahwa kami tidak pernah sendiri menghadapi segala luka maupun suka.

Dari Lingkar Suara Buruh Perempuan, Hingga Menabur Benih Perlawanan

Lingkar – lingkar suara buruh perempuan bermunculan melalui berita audio, video, tulisan dan lingkar diskusi di grup diskusi media sosial. Dari sini, kami belajar menulis kehidupan kami. Sebuah proses yang sukar karena kami belum terbiasa. Sekolah meski mengajarkan membawa buku tulis dan bolpen namun ia tak mengajarkan menulis sebagai tradisi apalagi pekerjaan yang menyenangkan.

Di antara kami, bahkan ada yang menulis dengan menggunakan media HP (menulis sms), ada pula yang menulis dengan tangan karena tak terbiasa menggunakan komputer. Semua kami lakukan di tengah kesibukan bekerja di pabrik, berserikat, bersiaran dan berumah tangga. Tapi kami gembira, karena setelah dituliskan ada rasa “plong” di dada. Tak hanya menulis, kami belajar menjadi presenter untuk membuat berita video. Kami bukan presenter handal di televisi – televisi itu, bukan. Kami sekedar mencoba dan belajar, semoga makin baik ke depan. Pun demikian dengan mengelola diskusi di media sosial. Dari komunitas, kami mengenal apa itu FB, WA, Twitter dan segala tetek bengek medsos lainnya. Dan tetap saja besar tantangan dalam mengelola grup diskusi media sosial, yang terus dicoba, di tengah himpitan kesibukan dan kelelahan. Tapi kami mengerjakannya dengan gembira. Inilah lingkaran – lingkaran kami, sebuah lingkaran yang garisnya masih putus – putus, belum tersambung dengan rapih. Bersama, kami akan merangkai garis putus – putus itu agar tersambung, rapi dan tebal hingga menjadi lingkaran bulat yang utuh.

nabur

Panggung Arena Buruh (Nabur), 12 April 2015

Dan  tentang NABUR. Apa yang kamu bayangkan tentang “NABUR”? NABUR artinya menabur, menabur benih. Benar, kami sedang menabur benih – benih perjuangan. Bukan hanya di pabrik – pabrik, namun juga di rumah-rumah, di lorong- lorong kontrakan, dengan membawa terang agar ia tak lagi gelap. Pun kami membawa alunan musik, tari, dan riuh puisi serta ekspresi. Kami menyebutnya NABUR (Arena Buruh). Jangan bayangkan ia sebagaimana aksi – aksi demonstrasi di depan istana. Bukan, NABUR adalah tempat buat buruh berekspresi, bukan sebatas ekspersi hobi semata, namun ekspresi juang.

Ada Sri yang membacakan puisi, Ari Widiastari yang menata panggung, Putera yang menulis naskah teater sekaligus menjadi sutradara. Ada admo yang menyiapkan musik, ada Kurniati yang merekam video, Thin Kusna yang menjadi presenter, Atin yang menarikan tarian India. Ada pula kawan – kawan lain yang bermain teater. Semua terangkum dalam NABUR (Arena Buruh). NABUR pertama sudah berjalan, ia ada di kampung buruh yang biar kumuh tapi penuh riang dan tawa anak kecil maupun orang dewasa. Wajah – wajah itu tidak akan pernah terlupakan, paling tidak bagi saya. NABUR 1 terselenggara 12 April 2015, dan akan kami selenggarakan NABUR 2 (kedua) pada 26 April 2015.

Benar, kami menabur benih – benih perjuangan itu di rumah – rumah buruh, dengan riang gembira. Kami bicara tentang kehidupan kami yang sederhana. NABUR menjadi puncak dari serangkaian lingkar – lingkar suara buruh perempuan di hunian – hunian buruh, yang kami suarakan bukan hanya di radio komunitas, tapi juga di pemukiman kami. Suara – suara itu makin riuh lewat tulisan – tulisan kami sendiri, berita – berita video, audio,maupun di media sosial.

Kami berharap, NABUR bisa menyuarakan pesan – pesan sederhana, bahwa himpitan hidup kami bukan tanpa sebab. Ada banyak aktor penindas, banyak pula kawan yang bernasib serupa namun belum saling bergenggam, berdandengan tangan. Dan kami mau membuat tangan – tangan itu saling tergenggam erat untuk saling menguatkan. Hingga suatu hari nanti, kami bisa menabuh genderang perlawanan.

Selamat Ulang Tahun Marsinah FM. Tiga tahun usiamu, teruslah memulai langkah baru dan membuat kenyataan- kenyataan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − four =