Target Kerja, Tak Pernah Manusiawi

Dalam proses produksi di sebuah pabrik, buruh seringkali dihadapkan pada target produksi. Sekilas, tentu wajar saja jika perusahaan mempunyai target untuk memproduksi produk tertentu. Namun, seringkali, penetapan target kerap menjadi sumber petaka bagi buruh.

Minggu lalu, saya berkesempatan ngobrol dengan beberapa orang buruh peremuan yang bekerja sebagai operator di sebuah perusahaan garmen yang berlokasi di KBN Cakung, Jakarta Utara. Melalui obrolan ini, saya semakin memahami betapa target produksi sangat tidak manusiawi.

Untuk pemasangan zipper jaket misalnya. Dalam 25 menit, buruh dituntut memasang zipper untuk 20 pcs jaket. Target ini ditetapkan tanpa membedakan size jaket, baik itu M, L, XL, da XXL. Padahal, tentu saja, semakin besar ukuran jaket, zipper yang harus dipasang semakin panjang dan lebih sulit. Lalu bagaimana hal ini menjadi masalah?

Begini. Setiap pagi, buruh yang saya ajak ngobrol, membawa satu botol air untuk persiapan minum saat proses produksi berlangsung. Tak jarang, air minum yang ia bawa habis sebelum jam istirahat. Namun, jarak meja produksi ke dispenser air minum terpaut sekitar 17 meter. Jika ia mengupayakan mengisi botol air minum terlebih dahulu, maka bayang-bayang kekahwatiran target tidak tercapai telah menghantui.

Namun, kadang juga ada buruh yang mencoba berlari saat mengambil air minum, saking hausnya. Atas nama target, kekhawatiran untuk terjatuh-pun kadang dikesampingkan. Jika tidak dapat mencapai target yang ditetapkan per 25 menit tersebut, seringkali atasan marah sembari berteriak dan kadang mengeluarkan kata-kata kasar. Karena kekhawatiran akan hal ini, tak jarang juga, buruh mengurungkan niat ke toilet karena takut target tidak tercapai. Ya, bagaimana mungkin meluangkan waktu untuk ke toilet, sementara untuk mengisi botol air minum yang telah kosong saja buruh mesti berpikir ulang?

Saat haus dan kebutuhan untuk ke toilet saja dapat dikesampingkan, kita tentu sudah dapat membayangkan betapa tidak manusiawinya target yang dituntut perusahaan kepada buruh.

Dengan tingginya target, waktu istirahat seharusnya menjadi waktu yang teramat istimewa bagi buruh. Pada waktu ini-lah semestinya buruh dapat kembali mengisi energi setelah berjam-jam dipaksa memenuhi target. Pada jam istirahat pula-lah biasanya keluh kesah akan tingginya target terdengar.

Namun, suasana pada jam istirahat tidak sepenuhnya santai. Untuk ke toilet, antrian panjang telah menanti. Padahal, tak sedikit buruh yang telah menahan diri untuk tidak ke toilet dikarenakan target yang tinggi. Tidak hanya operator di bagian produksi jaket, namun juga operator dari nyaris keseluruhan bagian produksi, mengantri di toilet karena target yang tinggi. Begitupun dengan antrian beribadah di mushola, begitu padat. Akhirnya, pemanfaatan waktu istirahat tidak bisa maksimal. Padahal, bisa saja perusahaan menyediakan fasilitas toilet dan mushola yang lebih layak agar jam istirahat benar-benar dapat dinikmati oleh buruh.

Selain tingginya target, buruh perempuan yang saya ajak ngobrol, juga menyatakan kecemasannya terhadap potensi penularan Covid-19 saat berkerumun mengantri di toilet. Ya, kerumunan yang utamanya disebabkan oleh target yang tinggi. Tapi sekali lagi, atas nama target dan keuntungan, potensi penularan Covid-19 diabaikan. Jangan-jangan, bagi perusahaan, jika ada buruhnya yang tertular Covid-19 itu tak dianggap sebagai masalah selama ada buruh-buruh baru yang menggantikan. Yang penting, target dapat terpenuhi untuk memperbesar laba.

Setelah seharian bekerja, saat jam pulang tiba, sudah sewajarnya buruh ingin bergegas pulang. Namun, masih berdasarkan cerita buruh-buruh yang saya ajak ngobrol, karena target pada jam terakhir belum tercapai, atasan malah berteriak, “ayo ayo  yang belum dapet target penuhi dulu baru pulang”. Hal tersebut sangat sering terjadi. Akibatnya, dibutuhkan sekitar 20 menit tambahan waktu untuk mencapai target dan itu tidak dibayar.

Keluhan akan tingginya target sebenarnya telah menjadi obrolan sehari-hari di kalangan buruh, khususnya buruh garmen. Harapan akan pengurangan target atau setidaknya agar perusahaan merekrut tambahan buruh untuk membantu proses-proses yang sulit hanya menjadi harapa kosong. Bagi perusahaan, makin sedikit buruh, berarti makin besar keuntungan. Meskipun harus mengeksploitasi buruh sejadi-jadinya.

Demi target, seringkali buruh tak memikirkan kesehatan. Kurang minum, menunda ke toilet, serta berkerumun saat antrian di toilet dan mushola. Di sisi lain, andai saja kebijakan upah ditetapkan berdasarkan waktu dan beban kerja yang dihabiskan buruh untuk membuat sebuah produk, tentunya dengan target yang begitu tinggi buruh sudah kaya raya. Namun, selama ini, tidak pernah ada informasi dari perusahaan mengenai berapa harga jual dari sebuah produk sehingga buruh mesti dibebani target yang begitu tinggi. Diperlukan pula keterbukaan brand atau buyer kepada buruh dalam membuat kontraknya dengan perusahaan-perusahaan pemasok dalam hal ini.

Tentu wajar saja jika buruh yang merupakan produsen langsung dari sebuah produk mengetahui  dengan jelas mekanisme penetapan target dan harga jual produk guna melihat seberapa adil keuntungan didistribusikan oleh perusahaan kepada buruh. Hanya dari tangan-tangan terampil buruh-lah suatu produk dapat dihadirkan kepada konsumen.

Namun, kenyataannya begitu miris. Buruh-buruh yang mengerjakan produk-produk yang harga jualnya begitu tinggi diiringi dengan sistem target yang ketat, bahkan tidak dapat membeli hasil produksinya sendiri karena diupah pas-pasan. Bagaimana mungkin hal ini dapat disebut hubungan kerja yang adil?

 

Oleh: Yati

Ilustrai: Wahyu A.P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 7 =