Selamat Hari Perempuan Sedunia Sayang. Teruslah Maju. Jangan Ragu

Tahun 2015 adalah tahun ke 105 Hari Perempuan Sedunia. Panjangnya usia hari yang dideklarasikan sebagai Hari Perempuan Sedunia, mencerminkan sekaligus panjangnya usia perjuangan perempuan di belahan dunia manapun. Namun, tentu saja usia perjuangan perempuan yang sesungguhnya jauh  lebih panjang lagi. Sebagaimana sebuah perjuangan, tak akan berhenti hingga kemerdekaan sepenuh-penuhnya didapat oleh kaum perempuan. Dalam hal ini adalah kesejahteraan dan kesetaraan. Itulah mengapa, ia menjadi slogan dan jingle radio komunitas kami. Biarlah ia terus diperdengarkan dan mengudara di angkasa.

Perempuan Industri Padat Karya dan Hilangnya Upah Sektoral Garmen

Adalah lazim, perempuan pekerja banyak memenuhi lapangan kerja industri padat karya dan pekerjaan informal. Minimnya akses pendidikan adalah salah satu yang membuat kaum perempuan menempati sektor industri yang dianggap “unskill” atau tidak ahli, dan itu ada di sektor industri padat karya dan informal seperti pekerja rumah tangga, TKI (Tenaga Kerja Indonesia) serta pekerjaan informal lainnya. Predikat “unskill” atau tidak ahli tetap dilekatkan, meski hampir seluruh manusia membutuhkan dan mengenakan pakaian, dan setiap manusia tak mungkin tidak hidup dari  kerja reproduksi (pekerjaan rumah tangga). Inilah bentuk paling vulgar dari pemiskinan perempuan.

Minusnya penghargaan pemerintah terhadap pekerja padat karya, jelas terlihat dari kebijakan pemerintah mengijinkan penangguhan upah di industri padat karya. Tak tanggung-tanggung, penangguhan upah melenggang aman selama dua tahun berturut-turut. Dan meski di tahun ke tiga, pemerintah seolah tak mengijinkan kembali adanya penangguhan upah, pembiaran pada praktek penangguhan upah terus terjadi. Paling tidak, itu yang kami alami di KBN Cakung, Jakarta Utara.

Tak cukup dengan pembiaran penangguhan upah, upah sektoral garment dihilangkan. Dalam SK Gubernur terkait UMSP (Upah Minimum Sektoral Provinsi) 2015, tercantum upah sektoral sandang, tekstil naik 0%. Dengan kata lain, musnah. Sebagian buruh yang sudah berserikat dan mengikuti proses perjuangan upah mengernyitkan dahi, naik 0% adalah pukulan lain setelah penangguhan upah yang bertubi – tubi. Bila diimajinasikan, maka kami pekerja perempuan garmen sudah babak belur, tersungkur di ring tinju melawan pengusaha dan pemerintah. Tapi ingat, kami sudah terbiasa bertahan dalam rasa sakit, dan rasa sakit itu tidak membuat perempuan pekerja berhenti berjuang. Sebaliknya, ia jadi pemicu untuk terus maju tanpa ragu.

Untuk Kesejahteraan dan Kesetaraan, Perempuan Butuh Demokrasi

Demokrasi. Ia adalah ruang bagi rakyat untuk bisa bersuara setiap saat, di mana saja, kapan saja. Makanya, demokrasi yang kita butuhkan bukan demokrasi lima tahunan. Ia disebut demokrasi rakyat atau demokrasi partisipatoris, yang memberi ruang bagi pelibatan rakyat seluas-luasnya, yang mana perempuan ada di dalamnya.

Demokrasi partsipatoris ini penting agar kita punya ruang untuk berbicara soal kita, soal perempuan, soal rakyat. Tanpa demokrasi semacam ini, sebuah media komunitas tidak bisa hadir. Nyatanya, demokrasi kita saat ini masih demokrasinya elit, yang tak suka rakyat pandai dan kritis hingga banyak suara. Demokrasi yang tidak menghargai kemanusiaan, makanya bisa ada hukuman mati. Seolah koruptor terus ada karena tidak ada hukuman mati, padahal koruptor terus ada karena tidak adanya penegakan hukum. Wajah demokrasi elit lainnya bisa kita lihat dari pembrangusan serikat, pembunuhan rakyat Papua, perkosaan di daerah konflik dan banyak lagi. Bila wajah demokrasi kita masih seperti ini, maka perjuangan pembebasan perempuan menuju kesejahteraan dan kesetaraan akan selalu terhambat.

Sedemikian penting demokrasi rakyat, maka perempuan mesti membela demokrasi. Agar tidak terjadi lagi pembantaian dan penghancuran gerakan perempuan pada tahun 1965 dan sesudahnya, agar tidak ada lagi perempuan jadi korban perkosaan dan dipersalahkan, pengambilan cuti haid dipersulit, diPHK ketika ketahuan hamil, dan masih banyak lagi. Perjuangan kita butuh lebih, maka harus ada demokrasi lebih. 

Akhir kata, di Hari Perempuan Sedunia ini, kami ucapkan Selamat Hari Perempuan Sedunia Terus Maju, Jangan Ragu!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × five =