Sebuah Monolog MENYULAM SI BRENGSEK

 BABAK I

 

Musik pembuka “I Never Woke Up in Handcuffs Before” karya Hans Zimmer penanda pertunjukan monolog dimulai.

 

Lami sedang duduk di lantai kamar kontrakan berukuran 2 x3  meter sambil menyulam. Di dalam kamar terdapat satu buah lemari susun dari plastik, satu buah meja yang di atasnya terdapat benang, sulaman, serta air putih satu botol. Terdapat juga kursi, serta kasur tipis. Tampak tali jemuran dipasang di dalam kamar, kedua ujungnya diikatkan di lemari yang terletak di pojok kamar dan paku tembok di sudut kamar lainnya. Maklum, sudah musim penghujan, sehingga banyak baju tidak kering.

 

Suara dari luar:

Titin

Mi.. Lami.. ikut gak ke Mbak Har? Mumpung masih sore..

 

Lami

Gak Teh.. capek aku, lain waktu aja (kepala menoleh ke arah luar kamar  dengan tangan masih memegang sulaman)

 

Lami menatap ke arah penonton sambil melanjutkan sulamannya

 

Itu suara Teteh Titin, kamar kontrakannya dekat sini. Orangnya baik, dari Kuningan. Sering Teh Titin ajak ke kontrakan Mbak Har, sama-sama buruh pabrik, tapi kontrakan Mbak Har di gang sebelah. Aku lagi capek banget, mending nyulam begini.. (sambil melanjutkan sulamannya)

 

Pinter lho Mbak Har itu. Kalo ngomong lancar sekali, sembarang omongan dia bisa. Pinter dan baik, dan kalau ke sana pasti diajak minum teh. Teh tubruk biasa, tapi enak banget rasanya, katanya dibawa dari kampung. Makanya teman-teman senang main ke sana, ngobrol, ketawa ketiwi, sambil nyruput teh tubruk. Tapi kadang juga ngobrol serius. Iya, benar-benar serius, apalagi kalo ada teman yang mengadu ada masalah di PT. Jauh lebih serius daripada sidang DPR.

 

Aku seneng dengan gaya Mbak Har yang begini.. (Lami berdiri, menaruh sulaman di atas meja dan memperagakan orang takut tertunduk).

 

Waktu itu Si Ning kan mengadu kalo dibentak pengawas, dan itu tanpa alasan jelas tapi  sering banget, sampai Ning gregetan. Kata Mbak Har begini, ” Ning, kan kamu begini to? Sambil bilang iya pak.. iya pak.. Menatap pengawas kan gak berani, apalagi membantah. Nah coba aja, sambil begini kamu bilang ke Pak Rudi, ya pak.. saya sudah takut kok, pelan aja membentaknya…

 

He..he.. lucu kan? Jadi Mbak Har itu ngajarin si Ning nunjukkin takutnya, tapi bakal terdengar ngledek bagi Rudi si pengawas galak itu. Lebih lucu lagi, ternyata Ning beneran nglakuin itu. Dan paling lucu adalah, resep Mbak Har itu manjur, Ning bilang tidak lagi dibentak gak jelas sama Rudi. Ning bilang begini waktu siangnya mempraktekkan resep Mak Har, ya pak, bentaknya pelan aja, saya sudah takut ini..

 

Trus Rudi bilang (sambil Lami memperagakan orang marah nunjuk-nunjuk), ‘Kamu ngledek aku?’

 

Ning merasa bersalah sambil jawab, ‘ya..pak..’. (Sambil Lami memperagakan orang menunduk di arah yang berlawanan dengan sebelumnya ketika memperagakan Rudi)

 

Rudi tambah marah, dan membentak lagi, ‘Berani kamu ya, berani ngledek?  (kembali memperagakan rudi marah)

 

Masih nunduk takut Ning jawab ‘Iya pak, pelan saja bentaknya’. (memperagakan Ning nunduk ketakutan)

 

Semua yang kumpul di kamar Mbak Har ketawa gak karuan, ngebayangin jengkelnya Rudi pengawas itu.

 

Kata Mbak Har ke Ning, ‘Jadi mikir itu Rudi, makanya gak gampang lagi bentak kamu, Ning. Biasanya kamu bilang iya dan dianggap takut, sekarang kamu bilang iya tapi dianggap tidak takut lagi’. (Lami memperagakan Mbak Har yang berbicara sambil berdiri dan tersenyum)

 

Lami kembali mengambil dan meneruskan sulaman sambil duduk di kursi.

 

Ya itulah pinternya Mba Har, daripada susah mengubah kebiasaan Ning bilang ‘iya’ jadi ‘tidak’, akhirnya dibiarin Ning tetap bilang ‘iya’ tapi dibuat  beda maksud. Ning.. Ning.. lucu aku kalo ingat itu. Apalagi setahun ini, Mbak Har ikut serikat FBLP,  ada aja yang diomongin. (Sambil berdiri, lalu bergerak duduk di lantai)

 

Pergantian Babak, ditandai dengan musik “Data Data Data” karya Hans Zimmer

 

BABAK II

 

(Lami melihat-lihat hasil sulamannya, trus melanjutkan lagi menyulam sambil duduk di lantai)

 

Aku seneng nyulam. Bukan karena namaku Sulami. Aku juga bukan pandai menyulam, tapi seneng aja. Kalo lagi suntuk, lega kalo sudah nyulam begini. Temenku juga kadang nanyain, bukannya tidur atau keluar jalan, tapi kalo capek dan suntuk kok malah aku nyulam. Memang enak kok rasanya, tenang, nyaman, kalo sudah nyulam pasti enak tidurku. Iya ya, kapan aku mulai menikmati menyulam ya? Lupa aku..

 

Lami menengadah menatap penonton sambil bicara, dengan tangan terus menyulam

 

Waktu kecil dulu aku seneng kalo lihat Makku menyulam. Tapi kalo hasil sulaman Emak bagus, dibentuk macem-macem. Emak bilang, ‘ Tuh Mi, benang gulungan kalo disulam jadi enak dilihat. Kalo yang enak melihat banyak orang, bakal jadi duit juga sulaman kita’. Mungkin maksud Emak, biar aku serius belajar nyulam, hasilnya banyak dan bagus, trus jadi kaya.

 

Lami menunduk lagi, menatap sulamannya sambil terus menyulam dan berbicara

 

Dasar Emak.. dikira orang jaman sekarang mau beli sulaman. Kalopun ada, seberapa banyak sulaman sehari. Aku sudah tahu itu sejak dulu, kalo emak pasti keliru. Orang itu paling doyan beli baju, celana, beli pakaian, dan bukan sulaman. Makanya aku ke kota memang niat kerja di pabrik garmen. Kalo pabrik garmen, sehari bisa menghasilkan banyak pakaian, untungnya bisa banyak. Ya kan? Itu dulu, pikirku begitu. Sekarang sudah .. berapa tahun ya.. sudah 9 tahun jadi buruh garmen, sudah lupa aku menghitung untung.

 

Lami meletakkan sulaman di atas meja, lalu berdiri dan berbicara pada penonton.

 

Untungnya kerja di garmen itu ya begini, bisa pulang malam, bisa nonton sinetron sebelum tidur, bisa bangun pagi walau badan pegel, pokoke bisa apa aja yang sial-sial itulah.. Dulu kan mikirnya belum bisa, jadi kepikiran kalo membuat barang yang dibutuhkan banyak orang, bakal jadi kaya, ternyata meleset. Emak kalo sekarang kubilang gak bisa ngirim banyak, malah ketawa. Emak malah ngledek ganti, ‘Mi, lihat bapakmu, kerjaannya petani, bikin padi. Padi jadi beras, jadi nasi, dan semua orang makan nasi. Tapi bapakmu jadi miskin, makin hari makin miskin. Itu kenapa kamu ke kota, karena tidak mau jadi tani, tidak mau jadi miskin. Tapi malah kamu kerja bikin baju, yang semua orang butuh baju, jadinya ya sama kayak bapakmu, miskin juga. Emak ketawa sambil ngomong agar aku tidak mikirin uang kiriman. Begitulah emakku, selalu bisa menghibur. Tapi benar juga kata-katanya. Kita bikin barang yang diperlukan semua orang, malah hidup kurang. Sebaliknya, mereka yang kerjanya bikin pasal-pasal, bikin aturan, malah bisa kaya. Aneh kan, ya kan?

 

Pergantian Babak ke Babak III.

 

BABAK III

 

Lami kembali mengambil sulaman, duduk di kursi dan melanjutkan menyulam sambil terus berbicara

 

Hmmm.. Jadi ingat pulang kampung, kangen sama emak. Emak itulah yang kenalkan aku dengan sulam. Katanya dulu aku pas dikandungan, kalo emak menyulam aku ikut gembira. Mungkin itu juga, bapak dan emak menamaiku Sulami. Baru setelah aku remaja, mak akhirnya yakin kalo aku cuman ikut-ikutan dan tidak juga pandai menyulam. Sekalipun di rumah kadang menyulam bunga-bunga, tapi Emak tau kalau aku gak suka menyulam.  Iya..ya.. sejak kapan aku suka menyulam ya..  Malah tidak pernah kepikir, aku menikmati saja memainkan benang dengan sulaman-sulaman ini. Mungkin karena menyulam menjadikanku merasa dekat Emak, walau dia di desa. Bisa jadi begitu, kan?

 

Rasanya tenang menyenangkan, kalo sudah main sulaman begini. Aku malah tidak ingat apa saja yang kusulam. Tidak penting hasilnya, yang penting ya menyulam itu saja..

 

Tapi.. sebentar.. mumpung kepikiran.. Kapan aku menyulam ini ya? Temen-temenku bilang, dulu aku sering bisa diajak jalan-jalan, tapi kemudian selalu sulit ajak aku, karena aku sibuk menyulam. Sebentar..

 

Lami bergegas ke tempat penyimpanan, mengeluarkan sulaman-sulaman

 

Biasanya kumasukkan saja ke sini sulamanku. Ini ada beberapa, ada lagi di sana..

Ini gambar wajah (sambil keluarkan sulaman lainnya).

Ini.. juga wajah.. (lalu lami meradang) Ya Allah!! Ini adalah wajah-wajah…

 

Musik “Psychological Recovery … 6 months” karya Hans Zimmer

 

Lami terdiam sebentar, mengambil satu botol air, meminumnya dan mengalirkan sedikit air ke mukanya sambil menatap penonton.

 

Aku paham sekarang, mengerti kenapa aku kehilangan banyak kesempatan bersama teman-teman. Aku mengerti kenapa jadi bungkam dan mengurung diri, memilih menyulam tapi semua orang tidak tahu apa yang kusulam. Aku menyulam untuk menyembunyikan diri sendiri. Aku sembunyikan sulaman-sulamanku, juga untuk menyembunyikan diri sendiri. Ini semua karena kalian!

 

Lami berdiri, membawa wajah-wajah hasil sulaman, dijemur di tali jemuran di kamarnya

 

Benar kata teman-temanku, yang bilang kalo tidak perlu ada nasib sial disembunyikan sesama buruh. Mereka bilang begitu, karena aku sering terlihat murung dan melamun. Kawan-kawanku benar, tidak ada sial buruh yang kumiliki sendiri, karena apapun sial itu pasti buruh lain juga mengalaminya. Benar kata selebaran itu, aku ini korban. Tidak salah, dan tidak bisa terus sembunyi. Biar mereka, para pelaku itu yang mencari tempat sembunyi, tapi tidak di sini. Karena persembunyian paling aman bagi mereka adalah ketakutanku, ketakutan para korban. Tidak lagi kalian, kubiarkan sembunyi dari diriku.

 

sambil selesaikan memajang sulaman wajah-wajah

 

Setelah selesai menjemur satu persatu sulamannya, Lami menunjuk satu demi satu sulamannya

 

“Kamu! Kamu bagian pemilik pabrik, tidak akan kusembunyikan lagi, bagimana kamu menyentuh dan melecehkanku. Tubuhku digerayangi, dipegang, bahkan diangkat bagai boneka. Bukan hanya aku, banyak temanku telah jadi korbanmu.”

 

“Juga kamu! Kamu! Dan Kamu! Kita sama-sama buruh. Tapi sebagai teknisi, setiap mesinku rusak, kamu selalu mengutamakan hasratmu untuk merendahkanku. Seakan tubuhku adalah harga untuk memperbaiki mesin, padahal aku tau itulah tugasmu.”

 

“Brengsek satu ini sama saja. Kamulah pengawas mata keranjang. Selalu beralasan tidak sengaja dan kamu bilang bercanda, ketika kau sentuh dada dan pantatku.”

 

“Nah kamu, preman pabrik! Pertama masuk pabrik kamu peras uangku, lalu mata dan tangan dan mulutmu terus menggangguku.”

 

“Kamu juga, yang sekarang sakit! Pengawas yang selalu bilang kalau aku harus diam dan nurut kamu lecehkan, agar tidak PHK, agar diangkat karyawan, agar tidak dipaksa lembur.”

 

“Lalu kalian, satu, dua.. lima satpam pabrik, yang sering melecehkan dengan alasan cek body”

 

“Kamu chip, juga kamu chip perempuan, mata, omongan dan tanganmu telah melakukan kejahatan padaku dan teman-temanku”

 

“Dan kamu! HRD bejat, aku tidak lagi takut padamu. Aku memang berhasil kabur dari terkamanmu, tapi aku juga tau dua temanku hamil olehmu dan di PHK.”

 

Tadinya sulamanku adalah persembunyian aman bagi kalian. Kini tidak lagi. Sulaman ini adalah pertanda bahwa urusan belum selesai dan akan merangkak ke permukaan mencari penyelesaian. Bukan, bukan, bukan, bukan aku akan asal damprat. Aku tau, kalau aku serampangan, pasti aku segera kalian usir tanpa pesangon. Kalaupun itu terjadi, pasti bukan sekarang. Aku akan menemui kalian, hai para pelaku kekerasan seksual, bukan saja untuk sendiri, tidak juga kulakukan sendirian. (Sambil menunjuk ke semua sulaman)

 

Lami berdiri, menatap ke arah penonton dan berbicara

 

Nanti kalau di kawasan ada posko pembelaan buruh perempuan, kalau di pabrik ada papan pengumuman melawan kekerasan seksual, akan terkumpul banyak kekuatan buruh untuk memenjarakan kalian.

 

Indahnya membayangkan, jika  di pabrik ada papan bertulis: Dilarang Melakukan Kekerasan Seksual. Kejahatan Seksual bisa berbentuk a, b, c, d.. Laporkan Jika Terjadi. Posko Pembelaan Buruh Perempuan Tersedia untuk Membela Korban, Datang dan Adukan. Terus memang ada posko itu di kawasan, pasti luar biasa. Keberanianku dan kawan-kawan akan berlipat ganda, jika ada dukungan semacam itu. Iya sih, semua tidak bisa ditunggu, harus disebut dan direbut, harus ada kapanpun segera mungkin

 

 Karya Sanggar Tipar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − three =