Sebuah Kronologi: Penangkapan Saat Aksi Cabut PP Upah, Jumat, 30 Oktober 2015

Jumisih (berjilbab tengah), Lanang (sebelah kiri Jumisih), Sahrul (Godam, sebelah kanan Jumisih), Ocul atau Hasim (disebelah kanan Sahrul/paling kanan)/ sumber: FB

Oleh Dian Septi T

19.30 WIB, Malam itu setelah bunyi gas air mata, kami yg di atas mokom FBTPI (Asmir, Fresly Manulang, saya sendiri, Gadis Merah, Sahrul Godam) menunduk. Saya hanya mendengar bunyi sabetan bambu. saya melihat Asmir kesakitan, pun Manulang. Yang paling saya kuatirkan adalah Jumisih atau Gadis Merah karena kami tidak berdekatan.

polisi brutal

Polisi memukuli mobil komando FBTPI dengan bambu

” Turun lo, turun semua. turun nggak? Anjing semua” Teriak beberapa polisi itu di mokom FBTPI sambil terus menyabet bambu. Kuamati, mereka mengenakan kaos biru dengan celana panjang coklat. Baru kali itu kulihat seragam macam begitu. Kulihat dahi Fresly Manulang terluka, darah mengalir dari dahinya. Kuberanikan diri menoleh ke arah Mokom bagian depan. Tak ada sosok Jumisih di sana. Kulihat juga polisi bergelantungan di mokom sambil menendang ke kaca Mobil bagian Kiri. Aku ingat Galita yang kerap duduk di samping sopir. Apakah ada Aini sang balita bersama ibunya, Galita di sana? Akhirnya kami putuskan turun polisi polisi itu menarik kami turun. Asmir dipukul matanya sebelah kanan dan digelandang. Manulang pun begitu dipukul kepalanya dan digelandang. Saya ditarik turun dan urung dipukul karena perempuan. Ironis bukan? Saya kembali melihat sekeliling, tak ada Jumisih, lalu apakah Ari Widiastari selamat dengan kameranya, Atin dengan kameranya? bagaimana dengan teman teman lain? Bambu. FBLP, Godam, LPB, FSPMI, Forum PUK, SPSI, SPN dan lainnya. Kugenggam erat tasku, ad HP di dalamnya , jangan sampai diambil.

20.00 WIB, Mobil Dalmas seringkali saya lihat sebagai Mobil yang mengangkut pasukan polisi dalmas. Saya diajak ke mobil itu sambil terdengar polisi itu berkata tak akan diapa apain karena saya perempuan. Di Mobil Dalmas saya lihat Galita, Pak Pujo, Novel Dan beberapa kawan lain yang tak terlihat karena gelap. Galita langsung menyalami dan memeluk saya, sempat saya bertanya tentang anaknya, Aini. Syukurlah, Galita sudah memulangkan Aini sekitar pukul 17.00 WIB, sehingga ketika polisi memecahkan kaca depan Mokom FBTPI dengan bamboo, Aini sudah tidak bersama ibundanya.

Selang beberapa menit kemudian, beberapa polisi membawa seorang lelaki dengan kemeja kotak – kota merah. Dia adalah Obed, pengacara publik LBH Jakarta. Bertubi – tubi ia menerima pukulan, HPnya dirampas dan dihapus foto-foto aksi. Wajah Obed memucat, ia dimasukkan di mobil Dalmas, tepat di depan saya duduk. Saya genggam jemari tangannya, erat, kupandang matanya. Sekedar untuk menenangkan, bahwa semua baik-baik saja. Sesaat kemudian, ia dipukul lagi di bagian kepala. Meski Obed sudah mengatakan ia dari LBH Jakarta, polisi tak berhenti memukul.

Lagi, beberapa polisi membawa dan memukuli, menendang seorang lelaki berkaos putih, ia dipukuli hingga babak belur, saya lihat ia muntah, ketika lelaki itu mendongakkan kepalanya, saya mengenali wajahnya. Wajah itu sudah tak asing lagi bagi saya dan mungkin sebagian buruh lainnya. Lelaki itu, Tigor, pengacara publik dari LBH Jakarta. Berkali – kali ia dipukul, di bagian perut, ditendang. Seorang polisi berucap “Hei, kamu foto apa aja tadi, mana fotonya. Hapus – hapus semua” Ucapnya kepada teman yang lain. Terlihat, seorang polisi yang lain menghapus foto – foto aksi. Lalu, polisi yang mengecek HP Tigor itu berkata “Heh, ini nih, di WAnya nih, di grup dia ngomong Reskrim Bangsat katanya”

Polisi lain berseru “Mana, mana? Kurang ajar nih berani-beraninya ngomong reskrim bangsat. Elo ya ngomong begitu? Elo ya…”

“Bak… buk… bak … buk…” bertubi – tubi lagi TIgor dipukul dan ditendang, kembali ia muntah.

“Ga bang, bukan saya yang ngomong begitu bang, itu kan di grup, orang lain yang ngomong begitu”

“Bak.. buk… bak… buk” Jawaban Tigor berbalas dengan bertubi – tubi pukulan.

“Bang,… sudah bang, jangan pukul lagi” Ucap saya dan Galita.

“Minum.. kasih minum. Muntah tuh. Awas lo ya berani ngatain reskrim bangsat!”

Obed saya lihat mengeluarkan sebotol air (tuppeware) berwarna biru. Mata saya terlempar pada sebuah tas kecil berwarna coklat. Dari sanalah ia mengeluarkan tupperwarenya.

Tigor meminumnya, lalu dipukul lagi kepalanya oleh seorang polisi.

“Bangsat lo ya… bangsat lo ya” ucap polisi itu

“Sudah bang, sudah” Ucap polisi yang lain

Setelah itu, gerombolan polisi itu bercanda – canda. Salah seorang di antara mereka menyanyikan darah juang sampai tuntas. Sambil tertawa-tawa, polisi yang usai bernyanyi itu berucap

“Pada pengikut Marsinah ini semuanya. Itu loh Marsinah … ha ha ha”

Kami terdiam, kupandangi wajah kawan-kawan yang masih terlihat oleh mataku. Kugengam tangan Tigor, kuusap rambutnya.

Tak lama kemudian, gerombolan polisi kembali datang, kali ini, seorang anak muda, dengan rambut keriting tapi potongan pendek tanpa kaos, ia juga tak bersepatu. Celana jeansnya berwarna hitam. Anak muda itu dipukuli membabi buta, ditendang perut dan kepalanya. Dipukul wajah dan kepalanya. Lalu, anak muda itu pingsan.

“Pingsan dia, kasih air.” Ucap seorang polisi sambil melempar anak muda itu ke dalam mobil dalmas, saya tarik, tangannya, dan meletakkan kepalanya di pangkuan.

“Bangun… bangun” ucap Galita.

“Bangun… bangun” kata saya. Obed pun mengeluarkan sebotol airnya lagi. Akhirnya anak muda itu bangun. Kuamati wajahnya dan langsung teringat sosok wajah itu.

“Ocul ya?”

“Iya” ucapnya

“Lah, gimana bisa ketangkep? Jumisih gimana?” Tanyaku

“Aman” Jawab Ocul, Juga Galita mengiyakan. Katanya Jum ditutupi badannya oleh Sahrul anak Godam juga seorang anak dari FBTPI hingga mereka berdua babak belur. Jumisih sempat ditarik dari atas mokom oleh polisi. Bahkan polisi dan ocul, sahrul, lanang sempat berebut Jumisih. Syukurlah, Jumisih aman. Saya bernafas lega.

“Gw tadi tuh balik ke arah mokom, mau nyelametin elo Di, lah malah ketangkep. Abis gw dipukuli”

“Gubrak!” Seorang polisi tiba-tiba naik bergelantungan di bagian belakang mobil dalmas, ia masuk dan memukuli dan menendangi kami semua. Kepala saya kena satu tendangan. Tentu saja berasa sakit. Tapi polisi lain menyergah

“Itu cewe bang”

“Oh ya, yang cewe, tangan pegang kepala ya” Katanya sambil terus menendang dan memukul semuanya kecuali yang perempuan. Kondisi gelap tapi saya mendengar suara pukulan, tendangan dan erangan kawan-kawan yang tertangkap.

“Sudah bang, sudah bang” Ucap Galita dan saya.

Kutatap wajah para polisi itu, masih muda – muda. Lalu teringat pada sepupu yang masuk tentara setelah lulus SMU, apakah sepupu saya, pemuda yang cukup lemah lembut itu akan jadi seperti mereka? Bengis dan kejam.

“Makanya mbak, jadi perempuan itu jangan suka demo begini. Kan kasihan sama anaknya, keluarga. Perempuan itu cukup di rumah lah. Beraninya di mokom ngata- ngatain kita, kita ini juga punya kesabaran mbak. Kesabaran itu ada batasnya” Ucap seorang polisi.

Kami semua diam. “Elo juga” Ucapnya pada seorang lelaki berkaos hijau yang duduk di samping Obed, ia adalah buruh dari Tangerang.

“Elo itu ngapain sih ikut demo, kalau mau upah tinggi, kerja keras dong. Kerja keras. Ingat tuh. Orang jawa itu suka kerja keras, seperti saya ini kerja keras!”

“ HP, siapa yang punya HP lagi bawa sini, biar kita hapusin semuanya!” Ucap seorang polisi lainnya

Di saat bersamaan, HP saya berdering di dalam tas. Saya peluk tas sambil batuk- batuk. Ada yang menelpon cukup lama, juga bunyi notifikasi pesan di WA, dan SMS.

dalmas

Kami disuruh berbaris

“Sialan” Ucapku dalam hati, beruntung polisi itu tak mendengar.

20.30 WIB, kami semua dibawa keluar dari Mobil Dalmas, disuruh berbaris dan memegang pundak masing-masing. Kami di bawa mungkin sekitar monas. Saya tidak terlalu ingat. Lalu kami diminta berjongkok. Perempuan dan lelaki dipisah. Ada 4 perempuan, yaitu Dian Septi (Saya sendiri), Gallyta (FBTPI), Sari (FBTPI) dan Wahyuni (SPSI). Wahyuni, tidak termasuk rombongan yang dibawa dari mobil Dalmas, ia ditangkap dan diseret oleh seorang polwan. Ia bercerita dirinya diperiksa, seluruh tubuhnya dan didesak mengaku bahwa ia berorasi di atas mokom. Tapi ia bersikukuh, tidak berorasi. Sementara rombongan lelaki dipukuli lagi, baru kemudian didata, didatangkan seorang dokter untuk diperiksa. Novel (KC FSPMI Bekasi), dahinya robek sehingga direkomendasikan untuk dijahit.

Sementara kami berempat di data juga, dimintai KTP, Gallyta tak bisa memberikan KTP karena ada di tas, tasnya ada di mokom dan kemungkinan hilang.

Sesaat kemudian ada seorang tentara bertubuh besar datang, dia bersama dua anak buahnya yang lain. Seorang polisi berucap padanya

“Ini pak, provokator yang kami tangkap”

Kulihat tentara itu hanya mengangguk, ia memakai topi, sehingga saya tidak jelas melihat wajahnya.

Sesaat kemudian, kami semua dimasukkan ke mobil pasukan polisi untuk dibawa ke Polda.

“Pak Gultom, silahkan dibawa ke Polda, dibebaskan di sana saja” Ucap seorang polisi berbakaian safari, Kemungkinan dia adalah atasan Pak Gultom. Baru kemudian kami tahu bahwa kami akan di bawa Ke Polda dan dilepas di sana. Padahal sebelumnya para polisi mengatakan kami akan dilepas di sekitar monas itu.

“Kalau kalian di lepas di sini, ntar kami kan ga tahu kalian pulangnya kemana. Ntar kami dikira tidak memulangkan kalian lagi” Ucap Gultom.

21.30 WIB , POLDA METRO JAYA. Biasanya, saya ke Polda dalam rangka memberikan surat pemberitahuan aksi. Kini saya bersama 24 yang lainnya datang untuk di BAP sebagai tersangka dan saksi. 21 orang dinyatakan sebagai tersangka, 4 yang lain dinyatakan sebagai saksi.

Saya dipisahkan dari rombongan lain, bersama 4 orang lainnya. Jadi kelompok saya ada 5 orang untuk di BAP.

Sabtu, 31 Oktober, 02.00 WIB dinihari, Saya dan teman-teman didamping oleh LBH Jakarta untuk mengikuti BAP. Sementara, saya juga baru tahu bahwa Ocul atau Hasim juga dimasukkan dalam kelompok berisikan 5 orang. Yang lain mungkin 15 orang menjadi satu kelompok.

Kami ditanyai seputar perencanaan aksi, mengapa memilih bertahan dan siapa yang menginstruksikan aksi tersebut. Maruli, pengacara saya berkali – kali mengingatkan supaya jawaban tidak meluas. Di akhir BAP saya menyatakan menolak menandatangani Berita Acara Tersangka dan Berita Acara Saksi, demikian juga beberapa kawan yang lain. Saya tidak cukup tahu.

Kami dituduh melanggar Kami dikenakan pasal 216 dan 218 KUHP dengan tuduhan menghasut serta melawan perintah aparat untuk membubarkan diri setelah diberikan 3 kali peringatan.

Sabtu, 31 Oktober, 05.00 WIB, Saya dan teman-teman sudah selesai BAP, ucap petugas kepolisian kami tinggal menandatangani Berita Acara Penangkapan dan Berita Acara Pelepasan dan menunggu serah terima pelepasan 25 orang.

para tersangka

25 yang tertangkap akhirnya dibebaskan setelah lebih dari 20 jam ditahan

Sabtu, 31 Oktober, 17.30 WIB, Sudah lelah menanti, akhirnya kami secara bergilir menandatangani Berita Acara Penangkapan dan Berita Acara Pelepasan.

Sabtu, 31 Oktober, 18.00 WIB, Setelahnya kami ber 25 orang dibawa ke ruang Direktorat Reserse Kriminal Umum. Di sana seorang pejabat kepolisian, berkaos kerah biru dan memakai sarung. Namanya, saya tidak tahu pasti. Katanya karena bukan hari dinas dan sedang sakit kakinya ia tidak memakai seragam.

Sambil mendengar dan melantunkan lagu romantis barat, ia tampak santai. Lalu berucap,

“Ya, lain kali pintar dikitlah. Kalau emang berencana aksi bertahan kan melanggar jam malam, sudah pasti digebukin toh,tahu kalau begitu. Ya pinter dikitlah, tau gimana ngatasinya”

Lagi, ia melantunkan lagu romantis itu, lantunan lagu itu di loud speaker sehingga kami juga bisa mendengarnya.

“Kami ini masih manusiawi, masih HAM lah. Ya, menurut kalian masih melanggar HAM sih. Tapi kalau di negara lain, dipentungi kalian pake pentungan listrik, disetrum.”

“Ya, apapun lah, kami ini cuma menjalankan tugas. Ntar di antara kalian ini siapa nih yang mau jadi anggota dewan? Dulu itu siapa namanya? Budiman Sudjatmiko juga jadi anggota dewan sekarang. Hi hi hi hi”

“Ya, terimakasih semuanya. Kami Cuma menjalankan tugas, kami minta maaf atas yang terjadi. Kalau kata agama kan kita semua ini saudara jadi ga ada salahnya minta maaf dan memaafkan. Ya toh?”

Ruangan hening, lalu kami dipulangkan. Hati rasanya masih berontak. Sebelum keluar ruangan, saya berbisik pada Pak Pujo, aktivis buruh FSPMI yang sangat militant.

“Pak, dia ini psikopat ya…abis merintah gebukin kita, dia masih bisa dengerin lagu romantis. Setelah itu minta maaf seolah tak terjadi apa – apa”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 1 =