Sebuah Janji Bersama untuk Media Buruh

Awan gelap menggelayut di atap langit, mengiringi kehadiranmu. Kau datang lebih awal dengan sisa kelelahan di hari itu. Kau bilang esok adalah Konferensi Nasional Media serikat tempatmu berjuang. Sebuah kabar baik tentu saja. Adalah kebanggaan kau hadir di tengah kami. Hujanpun menderas, mengguyur kota utara Jakarta yang masih siang tadi ditempa terik matahari. Hujan itu seolah menyambut kepulanganku. Kusebut pulang karena memang kantor radio komunitas ini tempat ku berpulang. Tiada yang lain.

Kita bercengkrama, melepas kisah juang kita tentang sebuah media komunitas, media suara rakyat, media suara buruh. Kau bilang, malam ini akan menginap di sekretariat serikat karena konfernas berlangsung di kantor serikat. “Seru” ucapmu. Sebuah kabar baik, memberi sejuk dan penambah semangat.

Hujan terus mengguyur, “Sudah hampir jam 7 malam” ucap Ari Widiastari, seorang buruh pabrik tusuk gigi yang giat menyandang kamera mengabadikan setiap momen meski dihajar lelah setelah seharian bekerja, bahkan bila pun masuk malam dan pulang pagi hari. Bila dihitung mungkin hanya beberapa jam saja ia rebahkan tubuhnya yang ringkih.

Dengan riang, kau duduk di kursi yang disediakan. Kursi itu berkaki roda tiga, sebenarnya ketika pertama kali dibeli tempat duduknya bisa dinaik turunkan sesuai selera pemakai. Meski dalam kondisi bekas ketika pertama kali dibeli  5 tahun silam, dijamin ia masih layak pakai. Namun, laju waktu memang tak bisa dihalang. Ia menua seperti kita manusia. Namun, kau, tak tersisa lelah di raut wajahmu.Mungkin aku yang tak peka, senyummu terlalu cerah menutup lelah wajahmu, kiraku.

Pemandu talkshow radio komunitas itu, Thien Kusna namanya, bak seorang profesional siap memandu acara. Sejak beberapa hari sebelumnya, ia sudah membaca naskah yang saat ini ia pegang. Di dunia ini, Thien Kusna adalah contoh bahwa belajar tidak mengenal kata terlambat meski usia sudah beranjak. Ia sigap, tak lupa syal melingkar di lehernya. Ari mempersiapkan mixer, microphone dan tak lupa hp untuk live streaming di FB. Semuanya serius, tak terkecuali dirimu. Tentu saja itu penghargaan buat kami, radio komunitas yang sedang terus dibangun ini.

Talkshow pun dibuka dengan sapaan Thien Kusna, tak lupa iklan  talkshow dan 3 lagu pembuka. Beberapa waktu, pemandu ini mengajakmu bercanda dan mengobrol. Tentu saja kau seperti biasa ramah membalas sapaannya. Tanya jawab pun berlangsung. Namun, selang 15 menit, ketika hujan makin deras mengguyur bumi, mixer kami padam, air menggenangi lantai studio. “Astaga, bocor” ucap Ari sigap, segera ia mencabut kabel supaya tidak terjadi hal yang diinginkan. Terimakasih untuk Ari yang sangat bertanggung jawab. Aku terkesiap, membantu ala kadarnya. Hari itu sebenarnya adalah hari terakhir kami mau ijin kepada pendengar karena kami akan off selama satu minggu, berhubung akan pindah sekretariat. Sekretariat kami, radio komunitas Marsinah FM, jadi satu dengan sekretariat serikat buruh kami, FBLP. Beberapa bulan, mixer dan pemancar itu mati karena sudah aus termakan waktu. Baru bulan September sembuh dari sakitnya, dan siap dipakai mengudara.

Ah, aku merasai pasti kau kecewa karena dari jauh menempuh jarak, tak terhitung berapa lelah dan waktumu terbuang dalam perjalanan. Kami mohonkan maaf atas kejadian itu. Kami bersepakat akan mengundangmu kembali di talkshow kami soal media buruh dan perannya dalam gerakan buruh. Semoga hujan tak lagi membuat lantai basah dan mixer kami rusak, agar kau bisa lagi menyapa studio kami di tempat baru.

Apalagi yang bisa kami lakukan untuk menebus rasa bersalah? Tak selang berapa lama, Ari, perempuan yang memimpin acara talkshow tersebut mesti berangkat lagi bekerja di pabrik, ia akan masuk kerja tepat jam 23.00 WIB. Melewati malam dengan pekerjaan rutin yang bisa membunuh manusia manapun dengan rasa bosan. Ajaib, sebagian manusia dengan sebutan pekerja bisa melampaui itu, dan dibuatnya lah kita terkagum – kagum pada semua pekerja yang bisa melewati kebosanan itu. “Kebosanan membunuhmu berkali – kali, dia membunuh jiwa” dan kau tahu, hanya dengan berjuang dan bermimpi besar lah yang bisa membuat pekerja bisa melewatinya. Takjublah kita pada pekerja pejuang.

Dan akhirnya kutebuslah rasa bersalah kami dengan mengajakmu ngopi. Aku lupa, kau tak begitu suka kopi pahit. Lain waktu, akan kutraktir kau minuman selain kopi. Harusnya kutanya pula, apa kesukaanmu. Untuk yang satu ini, aku khilaf.

Kita bercengkrama menemani malam, beruntung hujan sudah berhenti. Maka ngobrol lah kita, soal media buruh. Aku salut padamu dan teman – temanmu karena sanggup mengembangkan media buruh, tempat buruh menuliskan keluh kesahnya, menyampaikan pengetahuan soal perburuhan, keseharian buruh, nasib buruh, nasib kita. Dalam percakapan singkat itu, ditemani kopi gelap, kita membuat janji untuk sama – sama mengembangkan media buruh, tak lupa dengan kisah – kisahnya melalui cerita pendek, melalui untaian sajak dan puisi, melalui sastra dan seni, agar melembutkan rasa, mematangkan kemanusiaan kita.

Jangan lupa, bila kembali kau menerima undangan kami, jamahlah lagi studio kami yang sederhana. Semoga tidak hujan dan mixer tidak lagi mati. Selamat dengan konferensinya bung Kahar, semoga Koran Perjuangan terus bisa menjadi Suara Buruh.  Tabik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 2 =