“ … [S]aya tetapkan tanggal 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional” (1)

Oleh: Syarif Arifin

 

Judul di atas saya ambil dari pidato Presiden Soeharto saat menyambut hari ulang tahun Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang ke-18 di Jakarta, pada 1991.

 

Berikut beberapa petikan pidato sebanyak empat lembar itu:[1]

 

“Dalam zaman pembangunan lahir batin sekarang ini peranan para pekerja sangat penting. Pembangunan memerlukan kekayaan alam dan modal. Tetapi pembangunan juga memerlukan tenaga kerja. Mesin-mesin pabrik harus digerakkan, peralatan harus dipasang dan masih banyak lagi kegiatan lainnya yang harus dilakukan, sebelum kekayaan alam bisa diolah dan dinikmati hasilnya. Semuanya itu dilakukan oleh tangan-tangan kaum pekerja. …

 

Hal ini akan dapat lebih mudah terwujud, jika kita memandang hubungan pekerja dan pengusaha sebagai mitra kerja dan bukan sebagai buruh dengan majikan. Suasana kerja semacam inilah yang ingin kita wujudkan melalui Hubungan Industrial Pancasial, yang telah kita kembangkan sejak 16 tahun terakhir. …

 

Hari kelahiran SPSI tanggal 20 Februari 1973, merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan gerakan pekerja di Indonesia. Pada hari itu kaum pekerja Indonesia yang terpecah-pecah, melalui deklarasi pekerja Indonesia menyatakan dirinya untuk bersatu padu dalam satu organisasi.

 

Karena itu saya tetapkan tanggal 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional…”

 ***

Sehari kemudian, Soeharto menandatangani Surat Keputusan nomor 9. Surat tersebut menyebutkan, 20 Februari merupakan hari pekerja Indonesia dan hari pekerja tersebut bukan hari libur. Seperti rezim di Amerika Serikat yang menetapkan Senin pertama setiap September sebagai hari pekerja nasional dan tidak mengakui 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, Soeharto menetapkan hari buruh tersendiri. Penetapan tersebut tentu saja dibumbui dengan slogan-slogan anti-Barat dan mencintai ‘budaya Timur’. Mogok dan demonstrasi pun dianggap tidak sesuai dengan ‘budaya Timur’ yang mengutamakan musyawarah mufakat dalam bentuk berunding. Boleh mogok dan demonstrasi, tapi untuk berunding bukan untuk memenangkan tuntutan.

 

20 Februari merupakan tanggal dideklarasikannya FBSI (Federasi Buruh Seluruh Indonesia). Hari tersebut didaku sebagai hari kelahiran SPSI (serikat pekerja seluruh Indonesia). Nama SPSI muncul setelah Kongres II FBSI pada 23-30 November 1985. Imam Sudarwo dipilih sebagai ketua. Perubahan nama itu menandai perubahan bentuk dan struktur organisasi FBSI. Agus Sudono dan Imam Sudarwo merupakan dua tokoh yang banyak diperbincangkan dalam percaturan tersebut.

 

Cuplikan pidato di atas, memperlihatkan bahwa Presiden Soeharto menempatkan tenaga kerja sebagai penentu produksi. Kemudian logikanya beralih bahwa hubungan buruh dan majikan sebagai mitra kerja. Selanjutnya, menilai bahwa “… kaum pekerja Indonesia yang terpecah-pecah..”, telah diatasi dengan deklarasi FBSI pada “tanggal 20 Pebruari 1973 merupakan tonggak sejarah bersatunya para pekerja Indonesia.”

 

Diskusi mengeai hubungan buruh, serikat buruh, modal dan negara di zaman Soeharto telah banyak diulas oleh para ahli. Mereka menganalisisnya dengan luas dan mendalam serta disajikan dengan baik dan mempesona. Para ahli telah menyebut bahwa serikat zaman Soeharto adalah serikat yang dikendalikan negara dengan penuh kekerasan untuk kepentingan modal asing. Disebutkan juga, serikat di zaman itu adalah serikat korporatis. Di sini kita akan mendiskusikan mengenai perubahan-perubahan yang ditanamkan pada masa Soeharto kepada serikat buruh.

[1] Sambutan Tertulis Presiden Soeharto Pada Hari Ulang Tahun Ke- 18 SPSI. Tersedia di: http://soeharto.co/1991-01-19-sambutan-tertulis-presiden-soeharto-pada-hari-ulang-tahun-ke-18-spsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + ten =