Pidato Pembukaan Kongres Perempuan I

Dibacakan oleh Ketua Kongres, R.A, Soekonto

“Sebelum membuka kongres ini kami hendak menerangkan dengan ringkas tujuan kongres ini.

 

Mula-mula, di Perkumpulan Wanita Utomo, ada usul dari berbagai perkumpulan yang mengajak kerja sama. Akan tetapi, karena banyak kesibukan usulan itu tidak dapat terlaksana. Selanjutnya, suatu saat ada pertanyaand ari perkumpulan pergerakan kaum perempuan, apakah perkumpulan kita dapat mengirim utusan ke Honolulu, yaitu Kongres Pasifik. Hal itu tidak dapat dilakukan karena berbagai alasan.

 

Akhirnya kami bertiga, yaitu Nyi Ajar Dewantoro, Sujatin, dan saya sendiri berpikir kalau begitu kaum perempuan Indonesia masih kurang pintar dan ketinggalan dalam hal apapun. Kami merasa bahwa kaum perempuan Indonesia sangat tertinggal dibanding kaum perempuan di negara dan bangsa lain.

 

Betul bahwa di Indonesia sudah banyak perkumpulan perempuan, tetapi bagaimana kita dapat membicarakan nasib kaum perempuan jika perkumpulan perkumpulan itu tidak pernah berhubungan. Oleh karena itu kami bertiga mencari upaya supaya kita dapat berkumpul. Kami bertiga berpikir untuk menyelenggarakan kongres. Akan tetapi sudah tentu kongres tidak akan ebrjalan kalau diselenggarakan oleh kami bertiga saja. Oleh karena itu kami bertiga waktu itu dibantu oleh saudara sunaryati sebaga juru tulis. Kami berempat memohon kedatangan kaum putri di Yogya, baik dari anggota perkumpulan maupun bukan.

 

Setelah menjelaskan maksud kami, kaum putri yang tersebut di atas etuju akan menyelenggarakan kongres ini dan tuan putri dengan suka rela membantu. Oleh karena itu, dalam satu minggu telah berdiri komite kongres ini dan kongres ini dberi nama “Kongres Perempuan Indonesia”. Tuan putri dari perkumpulan mana saja akan dijelaskan oleh saudara Sukaptinah.

 

Selain itu, tidak mengherankan bahwa berdirinya komite kongres ini mendapat rintangan yang bersifat kritik. Kritik ini keluar dari pihak kaum kuno (kolot) yang masih cinta pada keadaan yang lama. pendeknya, yang masih suka dengan adat istiadat zaman yang saya tidak ketahui lagi. Akan tetapi, kritik semacam itu tidak kami pedulikan sebab sudah menjadi kebiasaan, hukum alam, jika ada yang berniat baik pastilah ada yang berusaha menggagalkan niat baik tersebut. Demikian pula yang terjadi dengan terbentuknya Kongres Perempuan Indonesia. Walaupun sudah jelas kepentingannya, kaum kolot masih merendahkan kaum perempuan saja.

 

Kritik mereka, “Kaum perempuan tidak perlu berkongres-kongres,” “Kaum perempuan di dapur tempatnya”, “Kaum perempuan tidak perlu memikirkan kehidupan, sebab itu kewajiban kaum laki-laki”

 

Ada lagi yang mengatakan “Kaum perempuan Indonesia belum matang, belum bisa bermufakat tetnang perkumpulan, demikianlah kata kaum pengganggu. Akan tetapi, orang yang ingin mencapai tujuannya harus berani melawan kritik melalui pembicaraan dan dengan sekuat tenaga yaitu bekerja dengan setulus hati. Dewasa ini telah terlihatlah kepentingannya pergerakan kaum perempuan. Zaman kaum perempuan dianggap hanya baik untuk tinggal di dapur saja itu zaman kuno. Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu, zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja.

 

Sudah pasti perkataan saya ini tidak bermaksud melepaskanperempuan Indonesia dari dapur. Kecuali harus menjadi nomor satu di dapur, kita juga harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama –sama dalam kehidupan umum. Artinya, perempuan tidak menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, tetapi derajatnya harus sama dengan laki-laki. Jangan sampai direndahkan seperti jaman dulu.

 

Demikianlah tujuan kami. Selain itu, masih banyaklah kebutuhan perempuan Indonesia yang pelru diperbaiki. Oleh karena itu, terlihatlah betapa pentingnya mengumpulkan perhimpunan perempuan dari seluruh Indonesia untuk membicarakan kebutuhan yang telah disebut tadi.

 

Kebutuhan ini tidak perlu disebutkan lagi sebab nanti akan dibicarakan oleh utusan-utusan dari perhimpunan perempuan yang hadir dalam kongres ini.

 

Sebagai penutup kami hendak menyampaikan hormat dan terimakasih dari komite pusat, pertama-tama kepada RT Djojodipoero yang sudah termasyur kemurahan hatinya terhadap semua perhimpunan kebangsaan kita dan yang telah menyerdiakan tempat untuk kongres kita; yang kedua kami dan perkumpulan-perkumpulan yang telah memberikan sumbangan dana maupun perlatan dan tenaga dan memberi tempat penginapan bagi tamu untuk keperluan kongres ini.

 

Lain tidak saya berharap dan memohon agar kongres ini akan berjalan lancar dan membawa hasil bagi kita, perempuan Indonesia.

 

Dengan ini kongres perempuan Indonesia yang pertama saya buka.

 

Sumber tulisan:

Tinjauan ulang Kongres Perempuan Indonesia, Susan Blackburn

Terinspirasi Kartini, http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://politik2.blogspot.com/2008/10/terinspirasi-kartini.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 3 =