Perempuan dan Kekuasaan: Refleksi dari Palestina

PADA TAHUN 2006

Kerapkali perluasan peran perempuan di kehidupan sosial diindentikkan dengan pemikiran Barat yang sekuler. Anggapan ini tak sepenuhnya salah, walau tak selalu begitu. Kita bisa tiba ke tahun 2006. Tahun terakhir ketika Palestina menggulirkan Pemilunya. Apa yang disebut peran penting perempuan dalam politik terlaksana di sana.

Di tahun 2006 secara mengejutkan Hamas meraup 76 kursi dalam pemilihan parlemen. Kekuatan status quo yang diwakili Fatah tercecer dengan 43 kursi. Sementara kursi yang diperebutkan 132 banyaknya. Hamas menang. Barat terkejut. Dan salah satu kunci utama kemenangan itu adalah peran kaum perempuan.

Ini adalah peristiwa lebih dari 16 tahun silam. Sebuah pelajaran lama. Tetapi yang lama tak melulu ketinggalan jaman. Kata orang, ‘old but gold.’ Kita juga tidak sedang mengajak untuk bersetuju pada ideologi Hamas. Kita hanya sedang belajar. Pepatah Arab bilang, ‘undzur ma qoola wa la tandzur man qoola’. Pepatah yang mau bilang kita bisa belajar dari siapapun.

Hamas mengoskestrasi kekuatan perempuan dengan sangat baik. Hamas mengorganisasikan perempuan demi kemenangan. Mengirim perempuan-perempuan bekerja dari pintu ke pintu dalam kampanye menit-menit terakhir. Mereka memegang daftar pemilih. Menyisirnya satu persatu. Militan? Tentu saja. Anda sedang membicarakan kekuatan politik yang sangat dikhawatirkan Israel.

Tetapi pekerjaan ini tidak datang tiba-tiba saat masa Pemilu belaka. “Kami memimpin pabrik, kami memimpin petani,” kata Jamila al-Shanty, seorang profesor di Universitas Islam yang memenangkan kursi di parlemen. Universitas Islam adalah salah satu ceruk penting pengorganisasian Hamas. Di sana perempuan berkumpul.

Hamas membangun jaringan bea siswa kepada perempuan-perempuan Palestina untuk belajar di universitas itu. Mendoronngnya memperoleh pendidikan tinggi. Membuatnya jadi pintar. Hamas mengadakan kursus-kursus kepemimpinan. Melatih mereka menggunakan komputer dan internet.

Menyebar berbagai keterampilan yang berguna membuat kaum perempuan terpikat. Darisana loyalitas terbangun. Mula-mula personal, lantas grup kecil, lalu grup besar, berikutnya perempuan sebagai entitas besar terikat kuat bersama Hamas. Ini adalah kekuatan politik yang kemudian tahun akan sangat mengejutkan. New York Time menulisnya sebagai, “Women, Secret Hamas Strength, Win Votes at Polls and New Role.”

Sementara kaum laki-laki paling mencolok perannya dalam perlawanan fisik, perempuan-perempuan Hamas memainkan peran sentral dalam jantung kehidupan masyarakat Palestina. Perempuan Hamas menjadi motor penggerak bagi program bantuan untuk janda martir dan orang miskin. Mereka mendirikan klinik kesehatan. Tempat penitipan anak. Taman kanak-kanak dan PAUD. Pun salon kecantikan dan pusat kebugaran khusus wanita.

Perempuan-perempuan Hamas adalah aktor keseharian dalam kehidupan rakyat Palestina. Mengingat banyaknya daerah rawan, mereka mengantarkan anak-anak Palestina pergi ke sekolah. Mereka juga yang menjemput siapapun yang sakit untuk tiba ke klinik. Mereka yang mengurus lansia. Mereka mengurus penghidupan warga.

Menurut Jamila al-Shanty, perempuan, dan terutama istri para pemimpin Hamas, telah lama memainkan peran sentral dalam kepemimpinan Hamas. Kaum perempuan, istri-istri ini adalah partner diskusi pertama bagi pemimpin-pemimpin Hamas. Setiap keputusan yang diambil oleh Hamas dibicarakan kepada mereka, bukan setelah keputusan dibuat tetapi sebelumnya.

Di tahun-tahun itu Fatah cenderung meremehkan peran perempuan. Mereka mengurus sekedarnya. Mereka akhirnya dihukum. Menelan kekalahan politik. Hamas melakukan hal berbeda. Pada 2006 mereka membuktikan bahwa perempuan adalah pemilik separuh langit.

 

Oleh: Adityo Fajar, ( Kabid Kaderisasi dan Ideologi Partai Buruh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + eighteen =