Pengurus Serikat dan Label Ajaran Sesat

Pengawas:  Hey Srintil, besok kamu jangan ikutin gaya orang serikat ya, datang jam 7 pulang jam 4. Udah seperti bos aja.

Srintil: Lho kenapa, Mbak?

Pengawas: Ajaran sesat itu. Kamu gak malu sama kawan-kawanmu yang rajin bekerja dan pada dapat target?

Srintil: Lho, aku kerja sesuai jam kerja. 8 jam kerja sehari kan, Mbak?

Pengawas: Pokoknya, jangan pulang pas jam 4. Lihat tuh, yang lain dapat target lebih tinggi, masa kamu gak bisa? Lagakmu kaya Ibu Negara aja.

 

Percakapan di atas adalah pembicaraan buruh dan atasannya di area produksi. Pembicaraan ini sering terjadi, tentu saja, di belakang pengurus serikat. Misalnya, saat pengurus serikat bertugas ke luar. Dalam kondisi ini, relasi kuasa sebagai atasan sangat mempengaruhi mental buruh untuk berani melawan atau pasrah dengan apa saja arahan dari pengawas.

Bagi serikat buruh, hal ini adalah salah satu masalah dan tentu saja harus diatasi. Serikat buruh atau pengurus serikat buruh kadang dijadikan kambing hitam yang dipersalahkan dengan tuduhan memberikan ajaran sesat. Padahal, ini hanyalah upaya penyangkalan terhadap kebenaran yang ada.

Para atasan di pabrik, baik itu supervisor, chief, kepala produksi, bisa diistilahkan sebagai manajemen bawah atau lower management. Mereka memang dipekerjakan untuk mengatur rantai produksi dari awal sampai akhir. Kalau dalam industri garmen, rantai produksinya terdiri dari proses cutting (pemotongan) bahan, penjahitan, diberi merk atau label, di cek oleh quality control (QC), disetrika, dibungkus, sampai dimasukkan ke kontainer untuk diekspor. Kapasitas untuk mengatur tim atau anak buah inilah yang sebenarnya diupah oleh bos. Makanya, selain upah pokok, biasanya atasan juga mendapat tunjangan jabatan.

Tetapi, seringkali lower management lebih mengandalkan luapan emosional dengan memanfaatkan kuasa jabatan yang dimilikinya. Pengawas, chief, mandor, dan lain-lain sering kali menggunakan kata-kata kasar berupa bentakan, bahkan penghinaan. Kadang, mereka melempar baju sampai menyindir dengan kata-kata bervolume rendah tetapi menusuk di hati. Luapan emosional ini sebetulnya disebabkan ketidakmampuan atasan mengatur proses produksi dengan baik. Kadang, para buruh mengistilahkan bahwa para atasan diupah semata untuk marah-marah.

Para atasan yang sering melontarkan kata-kata kasar tentu mempengaruhi psikologis para operator. Operator menjadi tidak tenang dalam bekerja apabila didekati oleh atasan, seperti monster yang siap memangsa dirinya. Bahkan, untuk kencing atau ganti pembalut ke toilet pun ditahan agar tidak berhadapan dengan amarah atasan. Saat ini terjadi, tentu saja akan mengganggu kesehatan reproduksi buruh. Posisi buruh yang menjahit dan duduk terlalu lama, mengurangi minum, dan menahan kencing berpeluang mengganggu kesehatan saluran kemih. Jika buruh perempuan sedang haid dan merasa sungkan untuk mengganti pembalut, ini juga akan berdampak terganggunya kesehatan reproduksi. Begitu dahsyatnya relasi kuasa dimainkan oleh atasan untuk menindas bawahan. Termasuk dengan membuang jauh-jauh aspek kemanusiaan kita.

Untuk menghadapi tantangan ini, serikat buruh memiliki peran penting dalam memberikan penyadaran kepada anggota. Baik melalui pendidikan yang terjadwal atau diskusi yang bersifat spontan. Untuk pengurus serikat buruh di tingkat pabrik, perannya dapat diperluas dengan memberikan contoh praktek di area produksi.

Untuk menghadapi tantangan ini, serikat buruh memiliki peran penting dalam memberikan penyadaran kepada anggota. Baik melalui pendidikan yang terjadwal atau diskusi yang bersifat spontan. Untuk pengurus serikat buruh di tingkat pabrik, perannya dapat diperluas dengan memberikan contoh praktek di area produksi. Selain melakukan advokasi atau pembelaan langsung ke manajemen jika anggota mengalami masalah, pengurus serikat di tingkat pabrik dapat memberi contoh bagaimana memberikan perlawanan di tempat seketika saat atasan memperlakukan buruh sewenang-wenang. Kenapa ini perlu? Karena jumlah anggota di area produksi mencapai ratusan sampai ribuan, dan tidak semua anggota berdekatan dengan pengurus setiap saat. Pembekalan ke anggota adalah pilihan yang tak terhindarkan.

Pengurus serikat di tingkat pabrik juga dapat memberi contoh bagaimana bekerja sesuai jam kerja. Sehari ya 8 jam kerja jika perusahaan menerapkan 5 hari kerja. Tidak boleh ada lembur paksa tanpa bayar atau yang dikenal dengan istilah skor, keiklasan, loyalitas, gotong royong, dan lain-lain. Jika atasan meminta target produksi yang tinggi dan bekerja lebih dari 8 jam kerja sehari, harus ada surat perintah lembur atau SPL. Keberanian untuk meminta SPL ini juga butuh dilatih.

Tantangan semakin besar saat para atasan menggunakan siasat adu domba untuk melunturkan semangat kerja sama atau kerja kolektif buruh. Contoh percakapan di awal tulisan ini menunjukkan bagaimana atasan mencoba mempengaruhi buruh, bahwa si A lebih baik dari si B, karena si A penurut, tidak melawan dan mendapat target produksi yang tinggi. Sementara si B adalah si pembangkang yang tidak patuh kepada atasan. Dipertontonkanlah kedekatan atasan dengan si A, misalnya setiap berbicara kepada si A, atasan selalu berbicara dengan nada lembut, tidak membentak, bahkan bisa istirahat dan makan bersama. Melalui cara ini, atasan hendak “mempengaruhi” agar si B tertekan dan berubah menjadi penurut terhadap apa saja yang diperintahkan oleh atasan.

Begitulah dinamika di pabrik. Pengurus serikat buruh bertarung pengaruh dengan para atasan di tempat kerja. Pengurus serikat berusaha memberi contoh di area produksi agar masing-masing buruh mempunyai daya lawan atas penindasan. Namun para atasan mengajarkan hal yang sebaliknya, bahkan dengan memberikan label bahwa pengurus serikat memberikan ajaran yang sesat karena mengajarkan buruh berani melawan.

Siapa yang sebenarnya sesat? Atasan yang melanggar hukum dan norma kemanusiaan? Atau pengurus serikat yang mengembalikan roh buruh untuk kerja kolektif dengan mengedepankan sisi kemanusiaan?

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah tidak ada atasan yang baik yang betul-betul mempunyai kapasitas memimpin tim? Tentu ada. Tetapi seberapa banyak? Kawan-kawan buruhlah yang bisa menjawabnya sendiri, karena beda pabrik bisa jadi berbeda juga kondisi kerjanya.

 

Jakarta, 16 Januari 2021

Jumisih – Wakil Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + fourteen =