Pengurangan Jam Kerja, untuk Siapa?

Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan gagagasan agar ada pengurangan jam kerja sebanyak dua jam bagi buruh perempuan. Alasannya, agar buruh perempuan masih punya waktu untuk mengurus anak dan keluarga.

Buruh dan Jam Kerja

Perjuangan buruh erat kaitannya dengan perjuangan pengurangan jam kerja. Sejarah May Day atau Hari Buruh adalah sejarah perjuangan pengurangan jam kerja dari belasan jam kerja menjadi delapan jam kerja. Dan untuk mendapatkannya, buruh harus berkorban nyawa. Namun, kini tuntutan pengurangan jam kerja sepi dari peredaran, bahkan di Hari Buruh yang sejarahnya adalah sejarah perjuangan pengurangan jam kerja. Seolah delapan jam kerja sudah final dan sempurna.

Namun, bukan berarti saya sepenuhnya bersepakat dengan gagasan JK. Pengurangan jam kerja selaiknya berlaku bagi seluruh buruh bukan hanya buruh perempuan. Sama halnya dengan tanggung jawab mengurus anak dan keluarga (domestik) bukan hanya tanggung jawab perempuan namun juga lelaki. Pun masyarakat serta negara tak bisa lepas tangan atas pengasuhan anak dan kerja domestik lainnya.

Kembali lagi tentang pengurangan jam kerja. Jam kerja adalah komponen penting yang oleh buruh dipertukarkan dengan upah. Kala buruh bekerja, ia juga menjual waktu  yang mestinya bisa ia pergunakan untuk belajar, rekreasi bersama keluarga atau handai taulan, memajukan seni, kreatifitas dan budaya, serta banyak lagi. Waktu dari keseluruhan hidup buruh inilah yang dihabiskan untuk bekerja kepada pemodal dan dipertukarkan dengan upah yang tak seberapa. Dari sinilah eksploitasi itu bekerja. Hidup yang mestinya bisa lebih berkualitas, gairah atas pengetahuan, kebudayaan, bersosial dengan sekitar direnggut bukan untuk dirinya tapi untuk pemodal. Mari tengok diri kita sendiri, seberapa sempat kita mengenali keluarga kita, tetangga kita atau sekitar kita. Apa kebiasaan, kesukaan, hobi dari orang –orang sekitar kita. Bisa hampir dipastikan, kita hampir tak sempat lagi mengenali apalagi bercengkrama.

Semakin banyak jam dihabiskan untuk bekerja, semakin banyak hal yang tidak kita ketahui soal sekitar kita karena terlalu lelah. Tanpa disadari, waktu itu sedemikian penting dan betapa terlalu rendah nilainya ketika dipertukarkan dengan upah yang tak seberapa itu. Ironisnya, untuk menambah upah, semakin sering buruh menghabiskan waktunya untuk bekerja. Namun tak kunjung hidup layak. Bukankah aneh bila buruh bekerja menghasilkan produksi yang dibutuhkan setiap orang namun justru hidup miskin? Ambil contoh buruh garment, bekerja sepanjang hari (kadang jam lembur tak dibayar), memproduksi jutaan baju (atau lebih) dibutuhkan setiap orang, namun hidup miskin. Atau contoh lain lagi, adalah petani (mungkin sebagian dari kita berorang tua petani), memproduksi padi, jadi beras, dimasak dimakan banyak manusia tapi petani tetap miskin. Padahal waktunya habis untuk  bekerja tapi tak kunjung sejahtera. Keanehan ini yang kemudian dianggap wajar, perampasan para bos melalui jam kerja dianggap normal, ujung-ujungnya jam kerja panjang tidak sejahtera dibilang sah.

Buruh Perempuan dan Jam Kerja

Se15128100-sketches-of-silhouettes-of-girls-housewife-de-iconsbagaimana yang sudah saya sampaikan sebelumnya, baik buruh lelaki maupun buruh perempuan berhak atas pengurangan jam kerja agar punya waktu lebih untuk dirinya sendiri, anak, keluarga dan masyarakat. Serta negara tak boleh lupa, bahwa negara pun punya kewajiban atau tanggung jawab atas pengasuhan anak sebagai generasi masa depan, misalkan tempat penitipan anak murah/ gratis berkualitas, sekolah murah/gratis berkualitas, makanan sehat bergizi bagi anak hingga subsidi untuk kerja domestik seperti yang berlaku di beberapa negara (Venezuela misalnya).

Pendapat JK bisa saja dibenarkan oleh banyak orang, karena masyarakat kita masih beranggapan hanya perempuan yang punya tanggung jawab di ranah domestik. Sehingga rasional ketika buruh perempuan dikurangi jam kerjanya agar masih bisa mengemban “kewajiban”nya di ranah domestik, untuk memastikan tenaga kerja baru (anak) cukup sehat dalam menjalankan roda ekonomi dan keuntungan pemodal berlimpah. Itulah, kenapa kerja domestik atau kerja reproduksi sedemikian penting bagi para pemodal karena kerja reproduksi tidak mengeluarkan ongkos sama sekali dari kantong pemodal. Ia telah secara gratis dikerjakan oleh kaum perempuan. Maka, buruh perempuan bekerja lebih banyak dengan jam kerja lebih panjang.

Mari kita bertanya dengan teman-teman buruh perempuan, berapa banyak yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan di dalam rumah tangga. Dan mari bayangkan hidup kita berlangsung tanpa ada yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tak ada yang belanja ke pasar, tak ada yang memasak, mengepel, menyucikan baju, dan seabrek pekerjaan rumah tangga lain. Semua itu adalah pekerjaan dan dari pekerjaan itu, roda ekonomi terus berjalan. Dalam hal ini, buruh perempuan tidak hanya dirampas kerjanya di pabrik, namun juga di rumah. Penindasannya lebih, hambatannya pun lebih maka butuh melawan lebih. Agar buruh perempuan bisa melawan lebih,  mesti ada upaya lebih agar buruh perempuan lebih sanggup aktif berjuang.

Penutup

Akhir kata, pengurangan jam kerja adalah pengurangan jam kerja bagi setiap buruh, bukan agar  buruh perempuan tetap pada kewajiban kerja domestik. Bahkan, negara dan pemodal tak bisa tidak memiliki kewajiban atas kerja domestik. Perempuan justru mestinya, bisa lebih punya banyak waktu dan kesempatan untuk maju dan berkembang, untuk berorganisasi (bukan sebagai obyek tapi subyek), belajar, berkarya dan sebagainya untuk diri dan sekitarnya.

Untuk memahami beban ganda buruh perempuan, terlampir video pendek berjudul “Impossible Dream”. Silahkan menikmati

DST 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × one =