Pengalaman Seleksi Train Attendent

Pada 20 Juni 2022, saya mengikuti pendaftaran train attendant (pramugara dan pramugari) PT Reska Multi Usaha/ PT Kereta Api Indonesia. Kabar mengenai hasıl seleksi pun saya dapatkan beberapa hari kemudian melalui email. Saya diundang untuk mengikuti seleksi lanjutan di Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan, Parangtritis Yogyakarta pada 5 Juli 2022. Setelah meminta izin pada orang tua dan kerabat terdekat, saya pun mengikuti seleksi lanjutan itu. Ketika itu, Ibu saya berkata “Sudah kamu ikutin aja itu kan cita – cita kamu dari kecil bisa bekerja di perkeretaapian, mama ijinin kamu kesana untuk ikut seleksi itu, di terima gak diterima kamu ikutin dulu prosesnya yah. Mama hanya bisa doain kamu dari sini dan dorong kamu untuk ikut seleksi itu.” Persiapan pertama yang saya lakukan saat itu adalah mencari tempat tinggal sementara. Dengan bantuan dari teman satu organisasi ibu saya, Mas Admo, saya pun akhirnya dapat tinggal sementara waktu di kediaman adiknya, Kak Novi dan Kak Widi.

Setelah mendapatkan kepastian mengenai akomodasi, saya pun bergegas menuju Yogyakarta dengan kereta api malam. Di dalam kereta, saya menemukan sebuah gerbong yang begitu mengasyikkan. Semua orang di dalamnya bernyanyi dan bergembira bersama. Selama perjalanan, saya duduk di samping seorang perempuan yang mengingatkan saya pada Ibu saya. Kami saling berbagi cerita hingga mengantuk dan tertidur. Tiba di Stasiun Lempuyangan, kami pun berpisah. Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal sementara di rumah Kak Novi yang berlokasi di Jalan Kadipaten Yogyakarta. Setelah beristirahat sejenak sembari merapikan barang-barang bawaan, saya pun diajak untuk sarapan bersama di sebuah pasar di daerah Keraton Yogyakarta. Saya begitu terkesan dengan harga makanan yang relatif murah di sana.

Pulang dari pasar, kami pun bercengkrama bersama, saling bercerita dengan penuh canda tawa. Sorenya, saya ke klinik dekat rumah Kak Novi untuk melakukan tes swab antigen, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk seleksi esok hari. Setelah itu, saya melakukan survei lokasi untuk seleksi besok. Dengan menggunakan motor milik Kak Widi dan petunjuk dari google maps, saya pun tiba di lokasi seleksi.  Dalam perjalanan pulang, saya melewati beberapa  tempat wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta: Alun-Alun Kidul, Malioboro, dan Jalan Parangtritis. Tiba di rumah Kak Novi, saya memutuskan untuk beristirahat lebih awal agar dapat mengikuti seleksi dengan baik keesokan paginya.

Pagi pun tiba. 5 Juli 2022 menjadi tanggal yang bersejarah bagiku. Tepat pukul delapan pagi, saya berangkat menuju lokasi tes di Sekolah Tinggi Teknologi Dirgantara, Parangtritis Yogyakarta. Pikiran saya dipenuhi seruan “aku pasti bisa melewati semuanya!!” di sepanjang perjalanan menuju lokasi seleksi pagi itu. Tiba di lokasi seleksi, saya bertemu banyak calon pelamar lain yang berasal dari berbagai daerah: Palembang, Surabaya, Jember, Jakarta, juga Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk mengikuti seleksi demi menambah pengalaman dan pengetahuan.

Seleksi pun dimulai dan tahapan pertamanya adalah “Melewati Tali.” Di tahapan ini, para peseta seleksi diminta melewati (sebuah) tali dengan tujuan mengukur tinggi badan para peserta seleksi. Banyak yang gugur  di tahap ini karena tinggi badan mereka tidak sesuai dengan tinggi tali yang digunakan. Para peserta yang lolos di tahapan ini kemudian mengikuti tahapan selanjutnya, yakni “Tes Fisik.” Ada beberapa hal yang dilihat dalam tes ini: tinggi dan berat badan ideal, buta warna/tidak, dan ketajaman mata. Dalam tes ketajaman mata, para peserta diminua melihat tulisan dengan beragam ukuran. Setelah lolos di tahapan ini, saya mendapatkan formulir untuk mengikuti  tahap “interview/wawancara.” Di dalam ruangan berisi 15 peserta, saya menunggu giliran untuk memasuki ruangan wawancara. Setelah memperkenalkan diri, kami diminta untuk menceritakan kemampuan dan pengalaman yang kami miliki.

Tak lama setelah tahap wawancara selesai, kami diberitahu bahwa dari 15 peserta yang mengikuti tahap wawancara, hanya 6 orang yang lulus seleksi. Saya termasuk ke dalam 9 orang yang tidak lulus di tahap ini. Kemampuan bahasa dan pengalaman kerja menjadi pertimbangan utama perusahaan. Mereka yang lulus pada tahap wawancara pertama ini pun melanjutkan seleksi dengan mengikuti “interview/wawancara” tahap ke dua.

Cukup berat bagi saya untuk mengabarkan Ibu saya mengenai hasil akhir seleksi ini. Namun, saya memutuskan untuk langsung menelpon beliau dan mengabarkan “belum rezeki untuk tahun ini.” Tanpa diduga, Ibu menguatkan dan merangkul saya, “Tidak apa-apa nak, mungkin belum rezeki di tahun ini. Mama sudah bangga kok, kamu di undang ke Yogya untuk ikut seleksi ini. Kamu juga sudah bisa mengalahkan 68.000 orang yang mendaftar sampai kamu ke tahap interview aja mama udah bangga kok. Ini awal perjuangan kamu nak, jadikan semuanya kamu pengalaman dan pengetahuan ya. Nanti akan di ganti yang lebih baik kok. Allah maha baik. Ya sudah kamu pulang ya ke Jakarta. Bilang Kak Novi terima kasih sudah mau terima kamu beberapa hari di Yogya.” Saya pun jadi lebih tenang. Dalam benak saya ketika itu, “Apa yang aku jalanin, apa yang aku lewatin adalah rintangan awal untuk menyambut masa depan yang baik. Menambah pengalaman yang baik menambah pengetahuan yang luar biasa.  Aku belajar, ini adalah perjalanan hidup.” Malamnya, saya pun kembali ke Jakarta dengan membawa sedikit oleh-oleh untuk Ibu dan keluarga di rumah. “Oke tahun depan kita coba lagi. Semangat menyambut masa depan yang baik.”***

Oleh: Rifky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 1 =