Panggil Aku, Kakak Ari Saja

keterangan foto: bersama kedua mentor ku, Aam (kiri) dan Papang (kanan)

Kadang cita-cita dan kenyataan sering sekali jauh dari harapan. Tapi tidak perlu menyesal ketika yang terjadi dalam hidup kita jauh dari cita-cita di masa muda atau masa sekolah. Inilah yang terjadi denganku,sudah beberapa kali aku ingin menuliskan ceritaku,tapi rasanya sulit kutuangkan.Tapi sebetulnya aku sangat-sangat bersyukur dengan jalan hidupku sekarang, meski ini bukan jalan pilihanku.

Terlahir dari keluarga yang pas-pasan, Mamak sama Bapak seorang petani penanam padi sawah tadah, jadi kalau bukan musim hujan ditanami kacang. Sering juga aku dulu ikut mereka ke sawah, ya..suka ngga suka sih,namanya juga keadaan. Dulu itu aku pengen sekali  jadi Polwan, kebayang dong gimana jadi Polwan? rapi,tinggi semampai,dan yang pasti jadi sosok perempuan gagah dan kece. Pokoknya kerenlah…Itu dulu.

Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 2000an, aku ikut saudara jauh ke Jakarta. Waktu itu belum langsung kerja karena masih bingung juga mau kerja apa di Jakarta tanpa bekal skiil apapun. Diajaklah waktu itu jalan-jalan ke sebuah kawasan pabrik-pabrik yang mayoritas Garment. Waduuhh….pikirku dengan rasa masih takut-takut, aku nggak punya kemampuan di bidang jahit sama sekali.

”Lek kalau ada jangan di pabrik jahitlah ya lek,aku ga bisa lek,apa ajalah yang penting jangan di tempat pabrik jahit” .

Hampir 1 bulanan aku nggak dapat kerja waktu itu, akhirnya ketemu sesama pelamar, orang Purwokerto, sudah lupa namanya. Akhirnya kami keliling kawasan berkali-kali sampai akhinya diterima di pabrik album foto, namnya DUMA ALBUM. Seneng banget karena akhirnya dapat kerja. Waktu itu gajiannya mingguan. Masih ingat gaji pertamaku Rp 80.000 satu minggu. Hampir 6 tahun aku bekerja di Duma Album. Hingga suatu hari PT. DUMA ALBUM hendak relokasi dan kami, para buruhnya, nggak ada yang mau ikut karena takut gajinya akan lebih kecil. Akhirnya aku mengenal organisasi serikat buruh dari peristiwa ini. Waktu itu pengusaha kekeh semua buruh ikut, kalau yang nggak mau ikut akan dikeluarkan tanpa dikasih pesangon. Akhirnya kami cari-cari tau soal masalah kami ini. Sanusi, salah satu teman kami yang sangat vokal dan berani, ia dari SBSI 92  dan banyak membantu proses PHK. Sekitar 4-5 bulan proses ini kami lalui. Waktu itu masih jadi anggota yang pasif gitu,takut dan kalau pas aksi ada di barisan belakang.

Beberapa waktu kemudian setelah proses PHK berhasil dan kami dapat hak meski ngga sesuai tuntutan kita waktu itu, jadilah aku pengangguran. Karena sudah ada banyak teman, jadi ketika melamar lagi udah bisa janjian sama teman-teman. Kurang lebih satu bulan aku menganggur, akhirnya dapat kerja di garment juga tapi bagian packing dan cuma bertahan 6 bulan waktu itu, karena habis kontrak. Dalam jangka 6 bulan ini aku sempat punya semangat mengajak teman-teman berserikat, sudah pernah bisa ngajak pendidikan dasar. Namun, karena harus keluar dan menganggur lagi, pekerjaan mengorganisir serikat terhenti.

Akhirnya aku melamar lagi, pada tanggal 19 Desember 2009. Aku mendapat kerja lagi di PT KH INTERNATIONAL, perusahaan pembuat tusuk gigi. Aku bertahan cukup lama. Hampir 10 tahun aku kerja di KHI. Di pabrik inilah banyak sekali perubahan hidupku secara ekonomi dan kualitas hidupku. Kenapa aku bilang begitu berkualitasnya hidupku. Di perusahaan ini aku meneruskan semangat yang masih tersisa dalam diri soal pentingnya berorganisasi,dan akhirnya aku bisa mengenalkan ini kepada teman-temanku di KHI. FBLP lah waktu itu yang menjadi pilihan organisasi kami. Aku berproses, teman-teman berproses, mulai dari pendidikan, rapat akbar, aksi dan masih banyak lagi aktivitas yang kulakukan bersama FBLP. Semakin luas pengetahuanku dan semakin percaya diri akan kemampuanku.

Tahun 2012 FBLP mengadakan wokshop/pelatihan vidio dan foto,dan salah satu peserta yang diberi kesempatan ikut waktu itu adsalah aku. Hmmmm…ini betul-betul hal baru buatku,sesuatu yang tidak sediktpun terbayangkan semasa hidupku, bahkan dalam cita citaku. Proses yang nggak mudah waktu itu. Peserta waktu itu hanya terbatas,6 orang yaitu aku,Mida, Atin, Juma, Dian, AdmoWokshop yang butuh komitmen tinggi, di tengah sela-sela hari kerja dan harus bisa menyesuaikan shif. Bisa kebayang betapa lelahnya kalau pas habis shif malam. Seharian harus melek dan nyimak materi teori dan praktek. Sangat bersyukur punya teman-teman dan guru yang baik hati semua. Dalam tim wokshop teman-teman yang banyak mengalah menyesuaikan jadwal kerjaku, guru yang kerenlah dan baik hati.

Waktu terus berjalan,proses wokshop dan kerja-kerja organisasi terus berjalan.Tahun 2016,  FBLP membuat sebuah film dokumenter,’Angka Jadi Suara”. Hasil wokshop vidio kami yang langsung dipraktekkan di lapangan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan suting-suting film, filmnya sendiri adalah fakta di lapangan yang sering terjadi dan dialami teman-teman pabrik.Dalam proses fim ini sendiri juga sangat membutuhkan komitmen tinggi. Di tengah situasi yang tidak mudah karena peserta sebagai camera person yang tinggal berdua, aku dan Atin. Mida harus merelakan semua waktu di organisasi dan kerjaanya karena harus ikut suami setelah menikah,Juma harus vakum karena harus fokus mencari pekerjaan demi keberlangsungan hidupnya. Ketika ada jadwal suting kadang aku bisa kadang  gantian dengan Atin karena aku kena shif malam atau siang. Kadang kalau Atin nggak bisa dan aku harus tetap jalan meski dalam keadaan hari kerja, terpaksa ijin sakit atau cuti.

Proses yang cukup lama, 2 tahun ketika semua selesai dan dinyatakan proses film final dan segera launching. Sumpah, deg degan, terharu, senenglah pokoknya.Tepat di bulan Mei di Gedung Kedutaan Belanda waktu itu di launchinglah film Angka Jadi Suara (AJS). Rasa bangga dengan diri sendiri, bisa dikelilingi orang-orang yang baik hati. Bagiku sendiri selain mentor atau guru yang mengenalkan aku dengan camera,vidio,foto juga peran besar organisasi tentunya. Mungkin saja kalau tidak mengenal FBLP dan orang-orang di dalamnya aku tidak akan megenal dunia lain selain hanya meratapi cita-cita yang usang.

Kini aku tidak menyesal ketika ingat dilahirkan dan berada di keluarga miskin,dan tidak bisa meraih cita-cita, tapi ternyata hidupku bisa berkualitas dengan membuka diri dan bergaul dengan banyak manusia. Aku meyakini ketika kita bisa membuka diri untuk hal-hal baru dan mau belajar apapun dan dengan siapapun maka sukses bisa kita raih.

oleh Kakak Ari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 8 =