NASIB SERIKATKU YANG HANYA MAMPU BERTAHAN 2 TAHUN (1)

Oleh Tisha

Upah Kecil, Tanpa Cuti dan Lemburan

Namaku Tisha. Aku berasal dari Kota Garut. Usiaku 33 tahun. Selama 12 tahun aku bekerja di salah satu perusahaan percetakan di daerah Cikarang, Bekasi. Pertama kali masuk bekerja di sana aku melalui psychotest, dan Alhamdulillah aku dianggap layak masuk kerja di sana. Saat itu bertepatan dengan tanggal 25 April 2002. Besoknya, aku mulai bekerja di sana, tanpa perjanjian apapun apalagi tanda tangan kontrak. Cuma dikatakan aku akan menerima upah seratus tiga puluh ribu rupiah per minggu. Jika ditotal, 1 bulan upah sama dengan UMR waktu itu karena sistem upahnya maih mingguan, dan disediakan catering. Lalu aku diberi tahu cara kerjanya dan aku ditempatkan di bagian sortir (bagian checking barang) dan divisi ini khusus perempuan. Seluruh divisi lain, mulai dari cetak sampai dengan finishing hampir seluruhnya diisi oleh laki-laki. Mungkin karena masih kaget dengan pekerjaannya, setelah dua hari bekerja aku jatuh sakit. Tapi aku tetap bertahan demi sesuap nasi. Dua minggu kemudian masuklah karyawan baru lainnya. Seluruhnya perempuan, jumlahnya 3 orang. Dan belakangan aku baru tahu kalau orang yang masukin aku kerja di sana yang juga supervisor di bagian finishing, memungut bayaran tiga ratus ribu untuk setiap orang yang masuk kerja melalui dia. Aku mikir, kenapa aku nggak diminta membayar ya? Yah mungkin dia merasa nggak enak karena kita memang kenal baik sebelumnya. Setelah 3 bulan bekerja, adikku lulus sekolah dan aku memasukkan dia ke tempat aku bekerja melalui supervisor ini lagi. Sebut saja supervisor itu Mas Ari. Karena merasa tidak enak, saat adikku gajian pertama kali aku ngasih uang rokok ke Mas Ari. Mas Ari menerima uang itu, tapi malah dia pake buat beli sebuah boneka dan diberikannya kepadaku. Ya sudah, yang penting aku ada niat baik ngasih. Karena teman-temanku pada bilang kalo dia nggak dikasih jatah, pasti dia ngoceh.

Selama bertahun-tahun bekerja, walaupun upah kami kecil tapi kami merasa nyaman dengan teman-teman. Dengan tidak adanya target dalam pekerjaan, kami tidak terlalu merasa capek. Saat itu kepala bagianku namanya Bapak Johan. Orangnya sangat baik. Kami bebas buat ngerumpi, jajan, maklumlah ibu-ibu. Pada tahun 2007, perusahaan itu dipimpin oleh anak tertua pemilik perusahaan yang baru lulus sekolah di Amrik. Pak Diki namanya. Orangnya sangat baik dan menghargai karyawannya. Dia begitu ramah, setiap karyawan yang berpapasan sama dia, pasti dia sapa dan mengangguk. Beda sekali dengan bapaknya yang terkenal sangat galak dan pelit. Di sana lah kehidupan kami bangkit. Sistem upah kami dirubah menjAribulanan dan ditransfer melalui bank. Kami semua didaftarkan menjAripeserta Jamsostek (JHT/Jaminan Hari Tua). Dan kami juga mendapatkan premi hadir yang selama ini kami tidak pernah merasakannya. Saat itu sebesar lima belas ribu rupiah per minggu. Peraturan mulai diterapkan, kami diberikan fasilitas baju seragam dan diwajibkan memakai sepatu. Karena selama ini kami bekerja cuma memakai pakaian seadanya dan kebanyakan pada memakai sendal jepit. Dan saat itu juga kami baru mengetahui kalau selama ini kami mempunyai hak cuti tahunan selama 12 hari dalam setahun. Mungkin karena kami rata-rata tidak berpendidikan dan cenderung bodoh. Tapi setelah tahu kita punya hak cuti pun, pengambilan cuti tetap aja dipersulit. Kita harus memiliki alasan yang tepat dulu, baru cuti diberikan. Jika tidak, jangan harap dapat cuti. Kebanyakan alasan yang digunakan dan jitu adalah pulang kampung. Itupun dibatasi maksimal 2-3 hari. Alhasil, karyawan yang kebanyakan orang asli Cikarang pada kebingungan, pengen cuti tapi tidak punya alasannya. Alasan pulang kampung yang dianggap paling jitu itu, tidak mungkin mereka gunakan, karena atasan tahu mereka orang asli Cikarang. Akhirnya mereka harus merelakan hak cutinya hangus. Dan tentang cuti haid? Saat itu kami tidak tahu apa itu cuti haid, dan ada atau tidak. Karena tidak pernah ada yang memberi tahu kami. Aku pernah merasakan sakit saat hari pertama haid dan itu aku harus menangis dulu baru diizinkan pulang sebelum jam kerja habis.

Dulu kami semua sangat bodoh dan terlalu takut untuk menuntut. Kami hanya bisa pasrah. Apa yang diberikan perusahaan kami akan terima. Walaupuan kami tahu itu tidak bisa mencukupi semua kebutuhan kami. Tapi kami tidak mampu berbuat apa-apa. Masalah mulai timbul saat Bapak Johan (Kepala Bagianku) resign. Mas Ari (supervisor-ku) mulai bertindak semena-mena dan mengintimidasi kami. Dari hasil pekerjaan sampai hak lembur. Aku merasa dia sangat sentimen kepadaku. Setiap yang lembur, orang-orangnya pasti dipilih dan aku seringkali tidak dikasih lemburan dengan berbagai alasan. Karena upah kami yang kecil, kami berlomba-lomba ambil lemburan agar bisa memenuhi kebutuhan kami dan dapat menutupi utang di bulan kemarin. Aku sering merasa sedih karena teman-temanku banyak lemburan dan upahnya besar. Tapi aku gak bisa apa-apa. Kekuasaan ada di tangan Mas Ari saat itu. Jadi suka-suka dia. Tapi ya sudahnya pikirku, mungkin rezekiku cuma sampai di situ. Dan yang paling aku tidak suka, Mas Ari seringkali melakukan pelecehan terhadap anak-anak sortir yang semuanya perempuan. Setiap lewat ada aja yang dilakukannya. Dari mencolek pinggang, menarik tali BH, atau tiba-tiba dari belakang mendekap pipi. Hampir semua diperlakukan begitu, gak pandang bulu orang itu punya suami atau tidak. Dan aku suka marah-marah kalau diperlakukan begitu. Mungkin karena itulah dia tidak suka padaku.

Atasan Semena – Mena, Kami Makin Ditindas

Karena ada kekosongan jabatan kepala bagian, akhirnya Pak Diki sebagai pemimpin perusahaan mengangkat  Pak Sukur sebagai kepala bagian. Setelah pegangkatannya, suasana dalam pabrik langsung berubah drastis. Peraturan diterapkan sesuai keinginan dia sendiri. Siapapun tidak boleh  menentangnya. Tugas kami hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Tenaga kami diperas, layaknya sapi perah. Kami tidak diperbolehkan sekedar berbicara apalagi tertawa. Kalau ada yang melanggar pasti langsung dipanggil ke kantornya, dimaki habis-habisan atau kalau membantah bisa-bisa disuruh pulang begitu saja tanpa pertimbangan apapun apalagi kompensasi, yang itu hanya mimpi. Apalagi terhadap anak-anak yang statusnya borongan harian dan borongan hasil. Kalau ada yang melakukan kesalahan pasti disuruh pulang dan tidak boleh bekerja lagi. Kalau ada yang mau ke toilet harus lapor dulu, kalau mau sembahyang seperti dikerjar-kejar setan. Kami bekerja di bawah tekanan dan intimidasi. Kami selalu dituntut untuk kerja lembur sampai malam dan hari Sabtu Minggu yang seharusnya libur kami juga harus lembur sehingga libur itu menjadi sesuatu yang langka.

Saat satu di antara kami ada yang sakit tetap dipaksa harus masuk kerja. Dia bilang “Selama kaki masih sanggup untuk berjalan, kalian harus tetap kerja.” Banyak orang yang tiba-tiba dipecat tanpa ada yang mampu membela. Karena dia mendapat kepercayaan dari pimpina, tidak ada yang berani menentang keputusannya, termasuk HRD. Sampai perekrutan karyawan barupun dia yang menentukan. Karena status kami saat itu tidak jelas, “disebut karyawan tetap kami tidak memiliki SK, disebut karyawan kontrak kami tidak pernah tanda tangan kontrak.” Jadi dia bisa dengan mudah membuang kami. Yang lebih parah setelah masa kekuasaannya berjalan, banyak bermunculan dan keluar masuk karyawan berstatus borongan harian. Selama bertahun-tahun mereka berstatus borongan, yang kalau masuk kerja mereka dapat upah, tapi kalau libur mereka tidak dapat apa-apa. Mereka tidak punya hak cuti, jaminan kesehatan ataupun insentive kehadiran.

Ada seorang teman satu divisi, Wati namanya. Dia sudah bekerja menjadi borongan sejak tahun 2004 lalu pada tahun 2007 diangkat menjadi kontrak oleh personalia yang saat itu dijabat oleh pak Sarto, orang Jogja. Beliau sangat baik dan bijaksana, selalu bisa ikut mengerti dan merasakan kesulitan kita sebagai bawahannya. Teh Wati dikontrak selama satu tahun dan tahun berikutnya masih diperpanjang. Pak Sarto bilang “Setelah kontrak kedua habis kamu boleh bekerja sebetahnya kamu, dan kamu karyawan seperti yang lain.” Tapi setelah Pak Sukur berkuasa dan mengambil alih perekrutan karyawan dari personalia, ia menerapkan peraturan lain. Beberapa karyawan kontrak termasuk Teh Wati dihabisi kontraknya dan menjadikannya borongan harian kembali. Otomatis semua fasilitas yang sudah didapatkan selama kontrak dihilangkan. Tetapi karena alasan butuh maka tetap bersyukur rdan bertahan. Kami sebagai temannya tidak sanggup membantu sama sekali. Kami cuma mampu memberinya support agar dia tetap semangat walaupun upah borongan harian tidak seberapa. Tapi lumayan bisa membantu suaminya yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojeg.

Pengalaman Geruduk Pabrik

Di tengah masa-masa kediktatoran kepala bagianku (Pak Sukur) pada tahun 2012 di berbagai wilayah sedang gencar-gencarnya serikat buruh berdemo dan melakukan sweeping ke tiap pabrik yang masih berproduksi. Masih lekat dalam ingatanku, kita yang tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa sedang serius bekerja tanpa mengetahui apa yang terjadi luar sana, tiba-tiba dikejutkan oleh derungan motor yang tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam ruang produksi. Dan orang-orang itu berteriak-teriak mengusir kami agar keluar dari ruangan. Kami semua langsung lari terbirit-birit, sambil bingung “Apa yang terjadi?” tapi setelah kami keluar ternyata massa sudah banyak berkumpul di luar memenuhi jalanan. Kami yang masih shock sampai gemetaran, sementara karyawan laki-laki dipaksa disuruh ikut konvoi tersebut. Dan kami para perempuan disuruh masuk dan bekerja kembali.

Hari berkutnya, pihak manajemen melakukan antisipasi. Setiap waktu selalu mengirim orang untuk berkeliling kawasan, memantau perkembangan di luar. Saat mendengar ada massa yang mengarah ke lokasi kami, manajemen langsung meminta kami untuk keluar dan berkumpul di depan gerbang. Setelah segerombolan massa lewat, kami berkumpul dan duduk di depan PT. Lalu ada beberapa securityy PT Enkei (yang letaknya persis di depan PT kami) dan beberapa orang yang menggunakan atribut FSPMI menghampiri kami.

Salah satu dari mereka bertanya pada kami “Kenapa pada di luar?”

Lalu dengan polosnya kami menjawab “Gak tahu pak, kami disuruh keluar, ya keluar aja.” Lalu dia bertanya lagi “Kalian dari serikat apa?” Kami bengong, termasuk aku yang berada tepat di depan orang-orang itu.

Dan kami serentak menjawab “Kami gak ada serikat.” Malu dan merasa kecil banget di depan mereka.

Sepertinya saat itu kita menjadi orang yang begitu bodoh…. karena kami merasa serikat itu hanya untuk perusahaan yang sudah bonafid dan karyawannya berpendidikan. Sementara kami, rata-rata masuk kerja cuma menggunakan KTP dan ada beberapa orang yang buta huruf karena mereka tidak sekolah. Dan merasa tidak berhak untuk berserikat.

Lalu orang-orang itu bertanya lagi “Siapa yang bertanggung jawab di sini?”

Kami tunjukkan ke HRD yang saat itu dijabat oleh Pak Maman. Lalu mereka menjelaskan ke Pak Maman kalau massa yang barusan lewat itu massa ilegal, bukan dari serikat. Ia menghimbau kami agar masuk kembali dan agar bisa membedakan antara massa ilegal dengan karyawan. Dan hari itu banyak sekali terjadi kerusuhan dan banyak orang tak bersalah yang terluka karena terjadi bentrok antara massa ilegal dengan FSPMI. Hampir setiap hari terjadi demo, produksi terganggu, pengiriman banyak yang tertunda. Kami selalu merasa ketakutan. Hasilnya, kami harus bekerja lembur untuk memenuhi order, hari Sabtu dan Minggu ada yang masuk lembur, bahkan harus ganti hari.

Kami tidak bisa menolaknya, cuma bisa menurut. Para karyawan laki-laki mulai berkoordinasi dan membicarakan begitu pentingnya kita berserikat.

Mereka bilang “Sekali-sekali kita yang sweeping, jangan disweeping terus.”

Akhirnya, karyawan laki-laki berkoordinasi dengan karyawan Rapipack yang berada di belakang PT kami. Baru pertemuan pertama ternyata sudah ada kebocoran informasi dan sampai ke telinga kepala bagianku. Dan dia langsung kalap menentang habis-habisan. Semua yang mengikuti pertemuan tersebut dikumpulkan di meeting dan diancam agar jangan coba-coba mendirikan serikat. Tapi itu tidak mengendurkan semangat mereka. Malah semakin bersemangat, dengan harapan bisa terlepas dari cengkeraman orang yang bernama Pak Sukur itu. Pertemuan kedua bocor lagi. Ada indikasi pengkhianatan di antara mereka.

Saat itu aku belum terlibat dan teman laki-laki bilang “Perempuan gak usah ikut-ikut dulu, nanti aja kalo dah siap baru kalian ikut.”

Dan terus terang kami masih merasa takut untuk terlibat langsung. Karena selama ini divisi sortir yang semuanya perempuan dianggap yang paling patuh dan bisa diatur. Saat itu kami hanya bisa memberikan support agar meneruskan perjuangan untuk berserikat.

Saat itu aku bilang sama mereka “Kalau sampai kalian muncul, pasti kalian akan lebih ditindas lagi. Bahkan bisa disingkirkan dengan mudah. Lebih baik mati melawan daripada mati jadi pecundang.”

bersambung 

1 Comment

  1. andharoe

    15/05/2015 at 09:03

    Hidup adalah proses pembelajaran…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 5 =