Narasi Pekerja Informal di Tengah Pandemi

Pekerja informal tak tersentuh bansos, ditolak kartu pra kerja, bingung memikirkan nasib keluarga.

1 April 2020, saya resmi jadi pengangguran karena dirumahkan dengan waktu yang tidak bisa dipastikan kapan bekerja lagi. Dirumahkan tanpa upaholeh pemilik usaha tempat saya bekerja. Saya buruh harian pekerja konveksi.

Saya dan kawan- kawan bingung, harus mencari penghidupan kemana, setelah larangan pulang kampung, diberlakukan oleh pemerintah pusat.

Setelah resmi menyandang status pengangguran, saya berharap dengan program pemerintah yang mengadakan kartu pra kerja. Namun harapan itu kandas, setelah beberapa kali mencoba, mendaftar kartu pra kerja selalu mendapatkan penolakan. Coba berkali-kali, tidak bisa juga, apa Yang salah pikir saya.

Karena penasaran, saya coba bertanya pada teman-teman senasib. Penolakan ketika mendaftat kartu pra kerja melalui aplikasi ternyata juga dialami teman- teman.

Setelah harapan untuk mendapatkan bantuan dari program kartu pra kerja juga pupus, saya dan teman-teman berharap ada bantuan sosial dari pemerintah.

Kami tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan di tengah situasi seperti ini. Lantaran penerapan kebijakan pemerintah demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Saya lihat ada di TV, Bpk Jokowi mengumumkan Bansos dari pemerintah pusat, untuk rakyat yang terdampak Covid-19. Selama 3 bulan, secara bergelombang. Semua rincian pembagian pun diumumkan. Gelombang pertama bulan April, 13 s/d 18 dan 19 s/d 29, dibagi per wilayah dan seterusnya. Katanya untuk warga yang kena dampak covid-19, tapi kenapa saya dan teman-teman tidak mendapatkan?

Sementara harus tinggal di rumah, tanpa ada yang bisa dilakukan. Keluar rumah dengan resiko, tidak mematuhi aturan dan terpapar. Diam di rumah, dengan harus melihat keluarga kelaparan.

Apa mereka pikir kami tidak terdampak ?
Apa mereka pikir kami punya banyak uang untuk memenuhi kebutuhan kami, selama diberlakukannya PSBB
Apa mereka pikir kami tidak butuh makan, untuk bertahan hidup?
Apa mereka pikir kami bukan bagian dari rakyat miskin?
Apa Yang mereka pikirkan tentang kami?

Setelah kami membantu para wakil rakyat untuk mendapatkan posisi mereka, ini yang mereka lakukan terhadap kami. Hanya air mata yang bisa mereka, para wakil rakyat,
berikan kepada kami.

Pemerintah pusat jangan pernah berharap pandemik ini akan berakhir karena kami terpaksa harus melanggar aturan PSBB, yang di buat itu. Karena kalian fikir, kalau kami tetap di rumah. Mungkin bisa membantu berkurangnya korban Covid-19, tapi kalian tidak berpikir, yang mati akan bertambah bukan karena Covid, tapi karena kelaparan.

oleh Anggi 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × four =