Mother Jones: “Perjuangan ada di mana saja, di setiap tempat”.

Perempuan ini menjadi legenda bagi dunia, sumbangannya untuk buruh dan perempuan tak perlu diragukan lagi. Dialah, Mother Jones. Demikian orang akrab memanggilnya. Mother Jones adalah seorang organiser buruh, sekaligus guru di Amerika Serikat. Ia terlahir dengan nama Marry Harris, di Cork, Ireland. Ketika bencana kelaparan kentang melanda, ayahnya berimigrasi ke Amerika Utara dan Marry pun turut serta kemudian. Marry,  tiba di Toronto saat ia menginjak usia remaja. Di kota itu, ia belajar bagaimana membuat baju dan mulai bekerja sebagai guru di Michigan dan Tennessee.

Ketika tinggal di Memphis, Mary bertemu dan menikah dengan George Jones, seorang pekerja besi dan aktif sebagai anggota Serikat Buruh Pekerja Besi. Setelah keduanya menikah, mereka memiliki 4 orang anak. Sayang, epidemi demam kuning kemudian merenggut nyawa sang suami dan semua anaknya. Tentu sebuah kehilangan besar. Untuk menghilangkan kesedihannya, Marry memulai hidup barunya di Chicago, di usia 30 tahun sebagai penjahit. Namun, bencana lain tiba dan menghancurkan toko baju dan semangatnya. Tragedi yang menghancurkan itu adalah kebakaran besar Chicago pada tahun 1871.

Banyak yang berpendapat, setelah bencana kebakaran tersebut, ia kembali aktif di kegiatan keserikatburuhan. Pertengahan tahun 1880an, saat ia menginjak usia 40an , ia bergabung ke Knight of Labor (Pasukan Buruh) dan pada tahun 1890an bergabung ke Serikat Buruh Tambang.

Ia mengabdikan hidupnya untuk mengorganisir pekerja Amerika Serikat (mayoritas pekerja batu bara) ke dalam serikat dan mendukung pemogokan, termasuk mengorganisir istri para pemogok untuk menjadi  brigade buruh ketika pemogokan berlangsung. Selain itu, pidatonya sangat memukau publik dan mampu menyadarkan publik tentang kondisi pekerja Amerika yang sangat memprihatinkan. Pada tahun 1903, Marry atau Mother Jones menggalang pemogokan buruh anak usia di bawah 16 tahun, yang bekerja di industri Textille. Pada saat itu, anak di bawah umur dipaksa bekerja dengan kondisi yang memprihatinkan. Marry mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan turut memperjuangkan agar tidak ada lagi buruh anak. Kepada publik ia berucap “Perjuangan ada di mana saja, di setiap tempat”.

Sebagai aktivis buruh di UMW (Serikat Buruh Pertambangan), ia kemudian dikenal dengan nama Mother Jones. Bahkan senat menetapkannya sebagai perempuan paling berbahaya di Amerika, dan nenek bagi semua agitator. Sebutan nenek bagi semua agitator ini membuatnya berucap “Aku berharap hidup lebih lama agar kelak bisa menjadi Nenek besar bagi semua agitator”

Mother Jones tidak hanya aktif di serikat buruh dengan segudang aktivitasnya, seperti mogok, aksi demonstrasi, pidato keliling. Namun, ia juga menjadi dosen. Tapi bukan dosen sembarang universitas, ia menjadi Dosen di Partai Sosialis mulai dari tahun 1904 sampai 1912 sebelum akhirnya kembali ke UMW. Menginjak tahun 1905, ia turut mendirikan Pekerja Internasional Dunia.

Pada tahun 1913, Mother Jones ditahan saat ia memimpin aksi rally di Virginia Barat. Yang terlibat dalam aksi tersebut diadili dalam pengadilan militer dan menghasilkan vonis penjara hingga 20 tahun bagi buruh yang terlibat dalam aksi demonstrasi tersebut. Pengadilan tersebut menggambarkan buruknya situasi pekerja/ buruh tambang saat itu. Mother Jones sendiri dipenjara dua kali karena pemogokan buruh tambang.

Akhirnya, Mother Jones meninggalkan UMW pada tahun 1922, namun ia terus mengadakan pidato keliling terkait isu perburuhan hingga ketika usianya memasuki 90an tahun. Kata-katanya pun terkenal hingga ujung dunia “Berdoalah untuk yang mati dan bertarunglah seperti di neraka untuk yang hidup”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 10 =