Mengenang Sosok Munir

Sudah 17 tahun, kasus Munir belum kunjung terungkap, namun sosoknya terus menjadi semangat dan inspirasi bagi siapa saja yang mencintai kebenaran dan hak asasi manusia.

Munir merupakan sosok penggiat Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM)yang menginspirasi dalam perjuangan melawan ketidakadilan yang di derita oleh warga  korban pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara. Rekan satu Angkatan yang juga pernah jadi rekan kerja Munir, di LBH Jogjakarta , mengatakan “Sosok Munir yang kukenal dia suka membaca,rajin orangnya,  terus semua buku hampir dia baca, bahkan buku-buku apapun dia baca.” Demikian,  Agus Yunianto yang juga teman kuliah Munir berbagi kisahnya dalam sebuah diskusi publik “Mengenak Sosok Munir”, pada Kamis, 2 September 2021 lalu.

Kala itu, di masa Orde Baru, represifitas memang tinggi. Ketika ada yang berkumpul dan bergerombol, langsung didatangi oknum aparat. Namun, energi Munir tak ada habisnya.

“Luar biasanya si Munir ini. Munir sama dengan mahasiswa lainya juga sebenarnya, namun ketika kawan – kawannya membangun tembok, justru Munir membangun jembatan ideologis kawan – kawannya” Tambah Agus. Munir menjadi sosok yang bisa menjembatani kelompok – kelompok mahasiswa yang kerap berbenturan dan terpecah belah, sehingga ia menjadi pribadi yang mudah diterima.

Konsistensi Munir pun membuat lawan – lawan Munir segan. Yang perlu dipelajari dan ditiru dari seorang Munir adalah sikap pantang menyerahnya dan sikapnya yang selalu mementingkan kepentingan bersama, baik dalam lingkup kuliah atau dalam lingkungan Kerja.”

Pada saat kuliah Munir juga mengajarkan kepada teman -temanya  supaya membaca buku apapun itu, sampai buku yang dilarang pun Munir baca. Selain itu Munir getol mendampingi korban tindakan rezim saat itu.

“Hobi Munir mengkoleksi buku sehingga  wajar bila bukunyalah yang paling lengkap. Saya dapat ilmu dari Munir banyak sekali”, tutup Agus dengan bangga

Hal itu dibenarkan Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty Internasional. Sebagai rekan kerja Munir kala itu, ia melihat sosok Munir sebagai pribadi yang gemar bercanda. Saat gejolak reformasi berlangsung tidak banyak yang mau menangani kasus, Munir adalah salah satu yang berani menangani kasus – kasus tersebut. Meski demikian, Munir tidak pernah marah pada aparat negara, baik TNI, tentara maupun anggota Kopasus. Munir mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan tugas dan kita wajib menagih pertanggung jawaban mereka saat terjadi represifitas.

Sosok Munir yang luar biasa, energi yang nyaris tidak pernah habis membuat kawan –  kawan kerjanya salut.

Hingga suatu hari, Munir ditemukan tewas dalam perjalanan pesawat ke Amsterdam.

“Saya kira terlalu emosional yah, orang yang hampir setiap hari, bahkan setiap saat bersama kerja bareng gitu,  tiba tiba dibunuh dan tanpa diketahui apa penyebabnya. Seolah mencari kebenaran dalam kegelapan. Dalam kasus Munir yang diracun dalam armada pesawat, racun itu nggak berbau kan?”

Lain lagi bagi ibu Sumarsih, orang tua korban tragedi Semanggi 1,  sekaligus klien Munir.

‘Saya berjuang bareng cak Munir pertama kali saat ia masih di KONTRAS. Saya sebagai sekretaris pada saat itu dan sering sarapan bareng cak Munir. Sebelum bekerja, kami membaca koran dan buku sebagai pelengkap sarapan kami.”

“Saat tragedi Semanggi 1 berlangsung dan Wawan, anak saya tertembak. Suatu hari, saya bertemu dengan Cak Munir dan ia  menanyakan sejauh mana kasus Wawan dan kawan-kawan” lanjut ibu Sumarsih.

Sosok Munir di mata Ibu Sumarsih adalah orang yang hebat,  tangguh dan selalu punya energi yang luar biasa.

Sampai bulan September cak Munir bertemu dengan keluarga korban, dan mengatakan “Berjuanglah untuk terus membela HAM. Ini akan cukup lama, mungkin bisa berpuluh – puluh tahun.”

Ucapan itu selalu diingat ibu Sumarsih, terlebih situasi saat ini sangat sulit untuk menggelar aksi kamisan. Kamisan adalah aksi yang bertujuan untuk terus mendesak ke presiden, agar kami dipedulikan.

“Banyak kata-kata Munir yang saya ingat sebagai penyemangat, bukan hanya kasus penembakan Wawan, anak saya, tapi juga banyak kasus HAM.” tambah Ibu Sumarsih”

Bagi Alif dan Diva, anak-anak Munir, Munir adalah sosok ayah yang baik.

“Ayah suka musik rock dan sering ia menyalakan musik di rumah dan main PS bareng saya” Ujar Diva.

“Ketika saya tinggal bareng Munir itu adalah pilihan. Itu adalah pilihan yang saya pilih dan itu adalah rahmat yang luar biasa” Ucap Suciwati, Istri Munir, menambahkan.

Setelah 17 tahun berlalu dan kebenaran kasus Munir tak kunjung terungkap, Suciwati berharap besar pada generasi anak muda untuk mempertahankan dan meneruskan perjuangan Hak Asasi Manusia. Hanya dengan begitu harapan akan penuntasan kasus pelanggaran HAM akan terus hidup.

 

Oleh: Tami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − fourteen =