Lolita: Buruh Jahit Jadi Aktivis

lolita

Selamat malam Sahabat Marsinah, bagaimana kabar sahabat  malam hari ini setelah giat bekerja? Semoga baik – baik saja ya. Sambil melepas lelah, stay tune deh di Marsinah 106 FM, bersama saya, Lamoy, di program siaran kesayangan kamu semua, Perempuan Pelita. Seperti biasa, saya akan memandu acara ini dari jam 7 malam sampai 8 malam. Kita akan berkenalan dengan sosok perempuan hebat dari benua Telenovela atau Amerika Latin, di sebuah negeri bernama Puerto Rico. Agar semakin asik, dalam satu jam ke depan, saya juga akan menyajikan lagu lagu kesayangan kamu semua. Biar tidak boring, kita dengarkan yuuuk lagu asik yang satu ini, cekidot (lagu dan iklan)

Sahabat Marsinah, pasti tidak asing ya dengan melodrama Amerika Latin atau Telenovela. Dulu sering banget kita disuguhkan segala macam telenovela. Tapi malam ini, kita akan mengenal sisi lain dari Amerika Latin, yaitu sosok perempuannya yang tangguh, pejuang kemerdekaan Puerto Rico. Namanya, Lolita Lebron, yang dikenal sebagai ibu pergerakan kemerdekaan Puerto Ricao yang meninggal di usia 90 tahun pada 2010 lalu.

Lolita paling diingat sebagai komandan utama pasukan ketika menyerang ibu kota Amerika Serikat pada tahun 1954. Ia bersama dengan 3 aktivis kemerdekaan lainnya menembak lantai dasar gedung DPR Amerika Serikat dari ruang galeri di lantai atas. Setelah melepas tembakan, Lolita mengibarkan bendera Puerto Rico sambil berteriak “Viva kemerdekaan Puerto Rico”. Tidak ada yang terbunuh dari penembakan tersebut namun 5 anggota DPR Amerika Serikat terluka.

Akibat dari tindakan nekatnya itu, Lolita dijatuhi hukuman penjara lebih dari 50 tahun. Ia kemudian dipenjara selama 25 tahun hingga Jimmy Carter membebaskannya dan ke tiga temannya pada tahun 1979.  Setelah bebas, Lolita mengatakan ia tidak pernah bermaksud membunuh siapapun dan bahwa ia dan ketiga temannya sudah rela mati dalam serangan tersebut. Polisi bahkan menemukan sebuah catatan di dalam dompetnya, “Hidupku aku berikan untuk kemerdekaan negaraku”. Catatan itu melanjutkan “Amerika Serikat telah mengkhianati prinsip –prinsip kemanusiaan  ketika menaklukkan negaraku”

“Saya adalah seorang aktivis revolusioner” Ucapnya suatu hari. “Saya membenci bom, tapi kami mungkin harus menggunakannya”.

Setelah bebas dari penjara, Lolita dan tiga temannya disambut dengan pesta dan kehangatan dari aktivis kemerdekaan lainnya di Puerto Rico. Lolita menjadi simbol kebanggaan nasionalis dan terus melanjutkan protesnya atas campur tangan AS di negaranya.

Hmmm … hebat ya sosok Lolita, sangat berani. Kita saja belum tentu punya keberanian sebesar itu. Digertak pengawas saja kadang kita sudah mengkeret, langsung melayu seperti bunga tak bersua mentari dalam waktu lama. Tapi belum terlambat loh untuk jadi berani, selama kita masih bisa bernapas. Ngomong ngomong soal berani nih, jangan beranjak dulu dari tempat kamu semua ya sahabat Marsinah, saya punya lagu khusus buat kamu semua tentang keberanian (lagu perjuangan)

Delores “Lolita” Lebron Sotomayor lahir di Lares, Puerto Rico, dari 5 bersaudara. Lolita dibesaran di Hasienda Pezuelas, sebuah barrio di  Lares. Ayahnya, bekerja sebagai petani Hasienda dengan upah sebesar $30 per bulan dan diperbolehkan tinggal di sebuah rumah kecil yang juga sekaligus menjadi tempat ia bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Lares sendiri adalah sebuah desa dimana, pada tahun 1868, wilayah ini bangkit melawan penjajah Spanyol dalam sebuah pemberontakan yang dikenal dengan El Grito de Lares (Tangisan Lares).

Amerika Serikat mengklaim Puerto Rico sebagai wilayah Amerika Serikat setelah perang Amerika – Spanyol yang menghasilkan persemakmuran Amerika pada tahun 1952.

Besar di Hasienda Pezuela,ia mengenyam pendidikan di sebuah sekolah komunitas yang kecil. Di masa kecilnya, Lolita menderita pneumonia sesaat setelah ia tiba – tiba jatuh di sebuah selokan yang penuh air. Akibatnya ia tumbuh dengan bekas luka di tubuhnya dan tidak bisa melakukan aktivitas tetap secara terus menerus. Tubuhnya mudah lelah bila terus beraktivitas. Karenanya Lolita tumbuh menjadi gadis yang tertutup dan kompletatif, dan sering menghabiskan waktu sendiri di sekitar Hasienda.

Dari Pezuela, keluarganya lalu pindah ke Mirasol, sebuah Hasienda di Lares, dimana ayahnya bekerja untuk Emilio Viellas. Di sana ia mendapat pendidikan yang lebih baik, menghadiri sekolah publik lokal. Saat Lolita menyelesaikan studinya, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah Segunda Unidad Rural, di Bartolo. Ia menyelesaikan sekolah formalnya di kelas 8.

Lolita tumbuh sebagai gadis yang juga cantik sehingga saat ia remaja, ia memenangkan kontes kecantikan Ratu Bunga Mei di Lares. Meski ayahnya adalah seorang Atheis, Lolita dibabtis sebagai seorang Khatolik saat menginjak usia 14 tahun bersama dengan saudara – saudaranya. Selama perayaan babtis, ia berjumpa dengan Fransisco Matos Paoli, yang kemudian menjadi kekasih pertamanya. Paoli dan Lolita saling berkirim surat yang isinya penuh dengan puisi. Keluarga Paoli menentang hubungan keduanya karena merkea menganggap Lolita hanya gadis biasa dari keluarga petani. Ayah Lolita juga menentang hubungan mereka dan meminta Lolita memutuskan hubungannya dengan Paoli. Meski demikian, keduanya tetap saling berkirim surat hingga ia pindah ke luar kota.

Akhirya Lolita kemudian pindah ke San Juan, dimana ia belajar menjahit dan terus berkirim surat dengan Paoli. Ia merasa wajib kembali ke Lares karena ayahnya beberapa kali terkena tuberculosis. Keluarganya lalu dipaksa pindah dari Hacienda, namun kemudian Ramon Santiago memberi mereka rumah baru.

Lolita pun merasa bertanggung jawab atas ayahnya. Ia lalu pergi ke kota terdekat untuk membeli obat untuk ayahnya yang harus diminum tiap 70 menit. Selama 7 hari, ia tidak tidur ataupun makan selama menjaga ayahya. Hingga kematian ayahnya, Lolita masih bekerja menenun baju.

Lalu bagaimana aktivitas politik Lolita, dari kapan ia bergabung dalam perjuangan kemerdekaan? Sabar sahabat marsinah, kita pasti segera menuju ke sana. Sebelum menikmati kembali kisah sosok Lolita, kita dengarkan dulu satu tembang cantik yang satu ini (Lagu dan iklan)

Pada tahun 1937, sebuah kelompok akitvis dari Partai Nasionalis Puerto Rico dibunuh saat demonstrasi damai berlangsung, yang kemudian dikenal dengan Pembantaian Ponce. Lolita berusia 18 tahun waktu itu, namun peristiwa tersebut memberi pengaruh besar dalam hidupnya.

Pada tahun 1941, Lolita berimigrasi ke kota New York, dimana ia bekerja sebagai seorang penjahit di beberapa pabrik dan merasakan bagaimana menjadi obyek rasisme. Ia dipecat beberapa kali dan bosnya menganggapnya sebagai pemberontak setelah ia melakukan protes melawan eksploitasi terhadap para buruh Puerto Rico.

Lolita tumbuh sebagai perempuan yang semakin frustasi dengan kehidupan masyarakat Puerto Rico yang miskin dan mengalami kemerosotan sosial. Pada tahun 1946 ia kemudian bergabung dengan Partai Nasionalis Puerto Rico, yang dipimpin oleh aktivis kemerdekaan Pedro Albizu Campos. Dalam waktu yang tidak lama, Lolita menjadi bagian dari pimpinan Partai Nasionalis Puerto Rico sebagai Sekretaris, wakil presiden dan delegasi eksekutif dari New York.

Setelah pemerintah Puerto Rico berubah menjadi “Persemakmuran”, Partai Nasionalis mulai melakukan berbagai aksi revolusioner untuk kemerdekaan termasuk serangan Lolita pada tahun 1954.

Lolita kemudian menjadi advokat bagi hak perempuan dan anak dan berjuang lebih banyak lagi untuk sistem ekonomi yang lebih setara. Gagasannya didasarkan pada prinsip feminis dan sosialis.

Pada tahun 2001, diusianya yang ke 81, ia ditahan ketika sedang melakukan aksi demonstrasi menentang serangan militer Amerika Serikat ke pulau Puerto Rico di Vieques dalam serankaian bom. Akibatnya, ia kembali dijatuhi hukuman penjara selama 60 hari.

Setelah aksi protes yang meluas, akhirnya serangan bom ke Puerto Rico dihentikan pada tahun 2003.

Dewasa ini, pejuang kemerdekaan mengatakan bahwa Puerto Rico adalah koloni AS dan rakyat harus punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan memutuskan kedaulatan bangsanya.

Beberapa tahun terakhir sebelum meninggal, Lolita mengucapkan bahwa perjuangan untuk keadilan sosial bisa menang tanpa kekerasan.

“Saya berpikir berulang kali, waktu telah banyak berubah, dan tak perlu lagi membunuh untuk bisa merdeka” Ucapnya kepada sebuah media cetak, EL Mundo, pada tahun 1998. “Saya tidak akan memilih perjuangan bersenjata untuk saat ini, namun saya memahami bahwa rakyat punya hak atas pilihan metode juang yang hendak dipilih untuk memerdekakan dirinya”

Sosok Lolita akan selalu diingat sebagai sosok yang heroik, figur pemimpin bagi rakyat Puerto Rico untuk keadilan, kesetaraan dan kemerdekaan.

Kesetaraan seluruh umat manusia tanpa penindasan adalah mimpi siapa saja yang mau hidup damai. Tapi ingat kedamaian hanya bisa terjadi bila keadilan sudah ditegakkan, tanpa itu hanya ada kedamaian palsu. Karenanya perjuangan merebut kesetaraan, kemerdekaan selalu hadir di setiap zaman. Para aktor perubahan ini muncul dari kondisi sosial yang mempengaruhinya, termasuk Lolita. Buat sahabat marsinah, jangan ragu mencontoh sosok seperti Lolita ini sebagai penerang hidupmu. Semga kita sehat selalu, saya beserta kerabat radio Marsinah undur diri, salam setara, sampai jumpa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 17 =