Lagi-lagi, Hanya Kabar Buruk yang Terdengar

Malam ini, lagi-lagi aku mendapat kabar buruk. Sebenarnya memang sudah dari bulan Februari lalu. Kabar buruk ini terus berkelanjutan, entah puncaknya sampai kapan. Merenung sedikit, aku jadi teringat masalalu, ketika aku duduk di bangku kelas 2 SD. Dengan suara lantang, bibir monyong yang terlihat tidak imut sama sekali, menyanyikan lagu dari Sabang sampai Merauke. Lagi ciptaan R. Suharjo . Lalu, ketika ada kegiatan menggambar, aku selalu dengan pemikiran itu itu saja, menggoreskan pena dan jadilah pemandangan. Menurutku itu menggambarkan Indonesia. Lalu ketika duduk di bangku kelas 4 SD, aku dengan berani membaca teks pembukaan UUD 1945 pada upacara bendera hari Senin. Aku sedikit tau diri, nilai PPKn ku memang sangatlah minim. Tapi, semangat untuk mempelajari hal-hal yang memang harusnya aku ketahui tentang Negara-ku sendiri sangatlah tinggi.

Beranjak remaja, jalan hidup semakin berubah. Bercita-cita tinggi untuk merubah nasib keluarga. Entah itu ekonomi, moral,pemikiran dan tata cara hidup. Ah, mengingat masa yang menyenangkan memang sangatlah membuat mata berkaca-kaca. Tapi, sekarang mungkin cita-cita itu sangat amatlah sulit untuk di gapai. Sedikit demi sedikit hati ini menjadi ragu, apakah kaki ini benar-benar berpijak pada negara yang berkedaulatan rakyat? Apakah kecintaan yang tertanam sedari kecil ini sangat salah? Memikirkan siapa yang salah hanya membuat hati ini di rundung kemarahan yang menggebu.

Jam menunjukkan pukul 21:00 WIB. Ku lihat bilik kamar Ibu-ku. Masih kosong. Lalu, dengan gadget yang merknya sudah ketinggalan jaman, ku pencet no yang memang sering ku hubungi. Dering yang sangat lama, membuat aku sedikit geram.

Tuuuuuuttttttt

“Iya ada apa, Teh?”, suara lirih terdengar, membuat hatiku semakin kalut.

“Mama dimana? Udah malem, lembur?”, dengan nada yang menahan marah.

“Iya, udah dulu ya, mau kelarin target nanti mister marah”, tut tut tut. Sambungan terputus.

Ya, kukatakan marah, memang! Aku sangat marah terhadap pengusaha yang seenaknya saja memperkerjakan karyawannya dengan seenak jidat. Waktu Ibu ku dengan keluarga jadi sangat sedikit. Apalagi, aku dengar cerita Ibu ku minggu lalu. Dia bilang, dia lembur tidak dibayar. Hari Sabtu pun hanya di hitung kerja bakti. Lagi-lagi, tanpa di gaji. Mau kerja lebih dari 48 Jam pun gaji hanya tetap UMP Jakarta, sekitar Rp. 4.200.000. Aku sebagai anak perempuan pertama, sudah sering menghela napas. Berpikir keras, agar aku dan ke-3 adikku tidak merasakan hal yang sama seperti Ibu ku.

Merancang step-step menjadi sukses. Mencari penunjang. Secerca harapan-harapan. Tapi, boleh sekarang aku mengatakan bhawa aku sedang berada di fase pesimis terhadap keadaan. Melihat situasi yang sangat mengecewakan. Situasi yang sulit di ubah. Hah, rasanya mata yang awalnya berkaca-kaca sudah menjadi setetes air mata. Dan situasi ini di buat oleh pemimpin Negara-ku sendiri. Wakil rakyat Negara-ku sendiri. Adu domba dan sebagai macamnya sudah membuatku sangat muak. Ceritanya melibihi menjalin hubungan dengan pasangan sendiri. Lebih rumit.

Ketidakpastian kerja dari dulu memang sudah terjadi. Tapi, dengan sikap orang-orang berjas itu membuat, tingkatan itu menjadi melebihi kapasitas. Pusing rasanya karena aku juga berada di dalam orang yang tidak beruntung tersebut. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Yang berjas semakin lancar, yang lusuh semakin kelaparan.

Kulihat lagi Ibu-ku yang baru sampai. Badannya tidak setegap dulu. Dia, Ibu tunggal. Yang bertanggung jawab sendiri. Menangis hati ini karena penunjang untuk mencapai cita-cita itu sudah di renggut. Harapan hilang. Tapi, aku berpikir tidak boleh terus seperti ini. Lawan adalah salah satunya jalan. Dengan berpengelaman dan menjadi anggota Serikat Buruh. Harapan yang awalnya hanya setitik sudah menjadi sebesar batu.

Kebijakan pemerintah malam ini adalah kabar buruk bagiku, meneken UU Cipta Kerja yang menjadi dasar acuan untuk para pekerja dari sektor manapun. Membuat para Buruh termasuk Ibu ku akan menjadi lebih terpuruk lagi. Bukan hanya itu, aku pun akan terkena imbasnya. Semua masyarakat akan sangat dirugikan. Membuat mahasiswa sulit mendapat kerja, dan yang hanya lulusan SMK/SMA/STM tidak kebagian lapangan kerja tersebut. Apalagi yang hanya lulusan SMP, bahkan anak-anak yang tidak bisa merasakan bangku sekolah. Entah faktor ekonomi atau dengan alasan lainnya.

Lekas sembuh Indonesia-ku. Lekas pulih pikiran-pikiran Wakil Rakyat.

 

Jakarta, 3 November 2020

Oleh: Dewi Febriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + eight =