Kisah BAMBU (Barisan Maju Buruh) Perempuan dari Garis Depan

Aksi Tolak PP Pengupahan di depan Istana 30 Oktober 2015/dok.Mulyadi Thea

Oleh Thien Kusna

30 Oktober 2015 di Istana Negara

Bambu (Barisan Maju Buruh) perempuan terdiri dari: Lanang, Iis, Wahyu, Kesih, Lami, Wiwik, Kokom, Tyas Mahardhika,Thien Koesna, Parti dan Tata ( Ati )

Pada pukul 16.15 WIB, Ketua umum FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik), Jumisih menyampaikan bahwa akan ada pertemuan antara Menteri dan pemimpin- pemimpin serikat buruh. Selama pertemuan, kami dari pasukan khusus Bambu diharapkan untuk bersiaga, bersamaan dengan perundingan, di luar istana terus berlangsung aksi masa dengan orasi – orasi juga bernyanyi. Akhirnya pertemuan antara menteri dan pimpinan serikat buruh sudah selesai, dan hasil dari pertemuan tersebut intinya pemerintah tetap menolak tuntutan buruh untuk mencabut UU no 78 tahun 2015. Tentu saja ini menimbulkan reaksi kaum buruh semakin geram dan pimpinan dari beberapa serikat buruh memutuskan untuk tetap bertahan.

Ketika Azan Magrib berkumandang, tepatnya pukul 18.00 WIB, kami dari pasukan khusus Bambu pun tetap bersiaga selama sholat berjamaah. 15 menit kemudian, massa aksi bersholawat bersama, berorasi dan bernyanyi bersama, semua itu diarahkan ke pintu depan istana negara. Yang berorasi dari berbagai macam serikat, suara massa aksi semakin riuh, manakala mobil water canon sudah muncul di depan istana. Situasi semakin memanas ketika ketua umum FBLP, Jumisih, berorasi yang dalam orasinya menghimbau agar massa aksi bertahan “Kawan – kawan kita akan bertahan di depan istana dan siapa yang meninggalkan kita di sini itu berarti pengkhianat”

“Horeeee…. hooorreeee hidup buruuuuhhhh………” begitu situasi saat Jumisih menyampaikan orasinya dan orasi Jumisih cukup ampuh. Itu terbukti, pimpinan- pimpinan serikat yang lain langsung mendekati mobil komando dan sebagian ada yang naik ke atas mobil komando. Begitupun orasi dari Ilham syah atau biasa disapa Boing, sangat memanas dan membuat semua massa aksi langsung bersiaga, baik pasukan khusus ataupun massa aksi, di sisi lain pasukan Huru hara tanpa horee (polisi), juga sudah siaga dengan atributnya. Kami, pasukan Bambu, bergeser ke samping kiri karena ke-5 mobil komando akan berbaris rapi, pasukan khusus KPBI pun sudah mulai membentuk Formasi

Entah pukul berapa, ketika Kapolres Jakarta Pusat memberikan peringatan, agar massa aksi diminta membubarkan diri. Massa aksi justru bergemuruh dan bersorak menolak bubar sambil bernyanyi ”Jangan kembali pulang sebelum kita yang menang”

water canon pertama

Water Canon meluncurkan airnya/dok.Mulyadi Thea

Situasi mulai memanas , himbauan dari pimpinan KPBI, Boing, menghimbau agar massa aksi tetap bertahan tanpa melakukan tindak anarkis atau keributan. Peringatan keduapun sama. Semua massa aksi bersholawat, bernyanyi dan bersorak “Horeee…. hidupppp buruh, Jangan kembali pulang sebelum kita yang menang”. Hingga peringatan terakhir disampaikan, seluruh pasukan khusus semakin merapatkan barisan, yakni Garda Metal, Godam, LPB, BAMBU.
Benar saja, semprotan air pertama disemprotkan, masa aksi bergemuruh dan bersholawat di bawah guyuran air. Berikutnya, semprotan air lebih keras. Kawan Lanang mengintruksikan “Merunddduuukkkkkkk……..”

Massa aksi sempat oleng, terus air disemprotkan dan pasukan khusus Bambu terus memberi intruksi agar merudukkk….. terus berpegangan……. massa aksi yang lain sudah mulai bergeser ke belakang, tak jauh dari kami, kawan Budi Wardoyo terus memberikan semangat agar tetap dan terus bertahan dan mengajak semuanya bernyanyi “jangan kembali pulang sebelum kita yang menang “

Terlihat mobil komando KPBI disemprot cukup keras terutama speaker sehingga mati total

Pasukan Godam, Bambu dan LPB langsung membentuk rantai manusia agar masa aksi tidak berpencar dan berlari, sementara itu pasukan huru hara tanpa horee (polisi) bergerak ke arah kami sambil menghentakkan tameng dan sepatunya TREEK.. TREKK….TREEK.. TREEKK…. Greeekkkk…greeekkkk…..greeekkkk… Sempat saya kaget ketika Garmet bergeser satu baris, begitu terus diikuti barisan di belakangnya, bergeser lagi satu baris, sehingga barisan itu sangat tipis dan suara tameng dan sepatu polisi semakin terdengar TREEK…TREEKK…..TREEK GREEEKKK…GREEKKK. Ketua Basis FBLP PT Amos Indah Indonesia, kawan Rahma memberanikan diri menoleh ke arah suara itu dan Rahma langsung mendesah “.. Ya Allah”

Benar saja, barisan polisi itu sangat dekat, sekitar 5 meter dengan kami. Iis dari pasukan Bambu pun menoleh dan menyampaikan, hanya Godam, LPB dan Bambu yang berjarak cukup dekat dengan pasukan bertameng itu. Pantas suara trekkk…. treeekkk….. nyaring sangat. Setelah sebagian pasukan khusus Garmet bergeser, tiba- tiba “…. DUMMM..” “DUUMMM……..” seperti kembang api berwarna kuning, meluncur di atas kepala kami. Rupanya, itu tembakan gas air mata.

Saya melihat barisan depan sudah mulai batuk dan menahan perih di mata, kami masih tetap berusaha bertahan, sehingga tembakan gas airmata terakhir membuat kami dan kawan FBLP mulai mundur, awalnya semua kawan FBLP yang berpegangan, terlepas, karena asap yang cukup pekat itu membuat beberapa massa aksi jatuh. Ada yang menabrak pohon, dan menabrak trotoar.

Kami dan massa yang lain mundur teratur dari depan Istana, dan terkaget lagi ketika di dekat RRI, pasukan berkaos biru itu tiba- tiba menyerang Mobil Komando. Saya melihat pasukan berkaos itu seperti kesurupan, mereka naik mobil komando memukul, menendang, menyeret, dan menginjak-injak dan disini saya melihat kembali pasukan Garmet, Godam dan Bambu terus bersi baku. Terlihat Jumisih akan ditangkap, namun, Syahrull, salah satu pasukan Godam langsung sigap menyelamatkan Jumisih. Ia dibantu kawan Lanang dari Bambu dan kawan Ocul dari KP FMK (Federasi Mahasiswa Kerakyatan) untuk mengamankan Jumisih. Syahrull waktu itu dipukuli hingga parah dan dilarikan ke RS. Kawan Ocul pun dipukuli, ditendang, lalu ditangkap.

Suasana benar – benar tidak baik, saya melihat kawan Iis mengamankan massa aksi, kawan Wahyu dan Kesih mencari massa yang terpisah. Sementara, kawan Tyas dan Dinov dari Mahardhika, menolong massa aksi yang sesak nafas. Kawan Lanang juga terkena pukul ketika membantu mengamankan jumisih. Saya sendiri terkena pukul, saat hendak mengevakuasi korban yang tak berdaya

Lalu di mana Boing? pasukan khusus Godam sudah mengamankannya, jadi siapa yang di pukulin diatas mobil komando? Oh, itu Manulang sekjen SBTPI, mana Dian Septi? Dian, Sekjen FBLP ditangkap. Lantas, itu yang diseret, yang duduk di mobil komando siapa? Itu Gallyta dari FBTPI dan masih ada beberapa kawan lagi yang dipukuli, diseret, ditendang, diinjak-injak lalu ditangkap.

Saya melihat 2 mobil komando sudah tidak bisa bergerak lagi karena pasukan kaos telah merusaknya, situasi kembali ramai ketika salah satu anggota bambu bernama Lami belum berkumpul, lalu dimanakah Lami malam itu?

Pengalaman juang bersama Barisan maju buruh perempuan, tetap semangat mogok nasional.

Jakarta, 3 Nov 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − twelve =