Jasvinder Sanghera; Perempuan Korban Jadi Pejuang

Jasvinger Sanghera, dalam sebuah acara televisi

Kabur Dari Rumah, Melawan Pernikahan Paksa

Namanya Jasvinder Sanghera, panggil saja dia dengan Jasvinder. Pahitnya hidup sebagai perempuan mendorongnya untuk berjuang bagi jutaan perempuan korban kekerasan. ia lahir pada bulan September 1965 di Derby, Inggris dari keluarga asli Punjab, India. Ayahnya, meninggalkan Punjab, India dan memutuskan tinggal di Inggris pada tahun 1950an dengan membawa nilai – nilai dan keyakinan masyarakat Punjab, termasuk tentang pernikahan yang diatur. Setelah lima kakak perempuannya terpaksa menikah dengan lelaki yang tak mereka kenal, Sanghera menolak mengikuti jejak kakak-kakaknya. Ia menolak menikahi lelaki yang sama sekali tidak ia kenal, lagi pula ia masih anak-anak. Karena itulah ia kabur dari rumahnya di kota Derby, Inggris, di usia 15 tahun untuk menghindari pernikahan paksa.

Waktu itu, saat usianya menginjak 14 tahun, orang tuanya dengan senang menunjukkan kepadanya sebuah foto lelaki asing yang kelak jadi suaminya. Rasa gundah, marah bercampur jadi satu dan mendorong keberanian untuk lari sejauh mungkin dari rumah. “Saya pernah memiliki pengalaman personal sebagai seorang anak perempuan terlahir di Inggris dan harus menghadapi kenyataan pernikahan saya diatur di usia sangat muda. Sangat jelas, saya tidak punya pilihan dan saya tidak mau menikahi lelaki itu, yang saya tidak kenal sama sekali dan akhirnya saya kabur dari rumah. Waktu itu hanya ada dua pilihan, mati sebagai anak di hadapan keluarga saya atau menikahi lelaki itu”.

Sebagai anak kecil, tak mudah bagi Sanghera hidup sebatang kara. Sempat ia mencoba bunuh diri sebanyak dua kali. Kala itu, ia sangat depresi. Ia berjuang menghadapi kerasnya hidup di jalanan, setiap hari ia tinggal di jalanan. Dan itu tak merubah pendiriannya. Namun, diam-diam ia tetap berkomunikasi dengan kakak perempuannya, bernama Robina yang sering kali curhat soal pernikahannya yang sangat buruk dan penuh kekerasan. Berkali – kali, Sanghera menawarkan bantuan pada sang kakak dan itu tidak mudah. Bagi kakaknya, dan mungkin juga mayoritas perempuan, apa yang diucapkan keluarga dan masyarakatnya tak boleh dilanggar dan lebih penting dari kebahagiaannya sendiri. Tapi suatu saat, sang kakak pergi dari rumah sang suami. Sanghera kemudian meminta kakaknya supaya bicara pada ibu mereka dan kepada kepala adat di Derby tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Namun, kepala adat tersebut malah meminta kakaknya untuk kembali pada suaminya, karena bila tidak keluarganya akan menanggung malu dan aib luar biasa. Mendengar hal itu, Sanghera meminta kakaknya agar tidak kembali pada suaminya. Ia memohon dengan sangat. saat itu usia Sanghera 22 tahun dan sang kakak 25 tahun. Betapa sedinya Sanghera ketika sang kakak akhirnya memutuskan pulang ke rumah suami. Benar saja, sesaat setelah pulang ke rumah suami, ia mendapat kabar mengejutkan. Kakaknya, Robina bunuh diri dengan membakar dirinya sendiri. Sangherapun berkesempatan pulang ke rumah untuk memberi pengistirahatan terakhir kepada sang kakak. Saat itulah ia bertemu kembali dengan ibundanya, namun Sanghera menyadari dari tatapan sang ibunda bahwa ia sudah dianggap mati. Sejak itu, Sanghera pun menjadi sadar diri bahwa keluarganya pun sudah mati bagi dirinya. Mereka jadi asing satu dengan lainnya. Kematian kakaknya pun menjadi penanda buat dirinya untuk segera membangun sebuah organisasi untuk membantu perempuan korban kekerasan.

Organisasi, Senjata Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan
Organisasi itu bernama Karma Nirvana yang ia dirikan pada tahun 1993. Hingga kini, Karma Nirvana sudah menolong ribuan perempuan dengan menyediakan penampungan bagi perempuan Asia Selatan yang jadi korban, serta membentuk help line agar perempuan korban bisa mengadu setiap saat. Organisasi itu dia bangun di tengah kesunyian masyarakat dan pemerintah kala banyak anak perempuan menghilang begitu saja dari bangku sekolah tanpa sedikitpun pertanyaan apalagi peringatan dari pihak sekolah. “Organisasi ini dibangun berdasarkan pengalaman pernikahan paksa, dan salah satunya adalah saya” ucapnya suatu kali. Sebelum mendirikan Karma Nirvana, Sanghera menjadi sebatang kara dan menanggung label sebagai anak yang tidak berbakti pada keluarga.

Sebagai seorang aktivis, Sanghera getol sekali mengkritik pemerintah yang tidak membiarkan praktek pernikahan paksa dan tidak memberikan perlindungna pada perempuan. Karma Nirvana di tahun 2008 kemudian memperkenalkan diri sebagai organisasi yang juga melindungi anak – anak perempuan dari keluarga mereka sendiri.

Karma Nirvana menggunakan metode Help Line untuk membantu perempuan korban kekerasan,terutama anak-anak perempuan korban pernikahan paksa, terbilang cara yang efektif. Selain Help Line, Karma Nirvana juga yakin, pihak sekolah harus memberi pelatihan yang lebih pada para guru untuk menyadari indikasi pernikahan paksa pada siswinya. Sehingga ketika sudah mengenali indikasi ini, para guru bisa lebih sigap mencegah pernikahan paksa.
Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah Inggris, 250 anak perempuan usia antara 13 sampai 16 tahun terpaksa meninggalkan bangku sekolah pada tahun 2006. Sementara berdasarkan data Minarva Nirvana, mayoritas anak sekitar 57% dari total yang menghubungi help line berusia 17 tahun berasal dari Timur dan Barat Inggris dan kota London. Meski lelaki juga bisa adi korban pernikahan paksa, 89% korban adalah perempuan. Sementara, kekerasan pada perempuan menurut korban dilakukan oleh keluarga dan suami.

Sanghera menganggap penting kisahnya untuk dituliskan agar menjadi inspirasi bagi korban lainnya. ia tuangkan kisahnya dalam sebuah memoar berjudul Shame yang diterbitkan oleh Hodder and Stoughton. Sementara kisah berbagai perempuan korban yang ia advokasi ia tuliskan di bukunya yang ke dua berjudul Daughter of Shame. Kedua bukunya ini kemudian diterjemahkan dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Jepang,Spanyol dan Polandia.
Memoarnya, Shame, adalah salah satu karyanya yang mengambil perjalanan hidupnya sebagai tema. Tentang bagaimana ia memutuskan kabur dari rumah di usia yang masih sangat dini, bagaimana ia menghadapi kematian kakaknya hingga ia merasa penting untuk menghentikan kekerasan pada perempuan. Menulis bak candu bila kita sudah asik dengannya. Pada tahun 2008, ia muncul dalam sebuah reality show “The Jeremu Kyle Show” untuk berbicara tentang pengalamannya terkait pernikahan paksa dan kini di usianya yang menginjak 40an tahun, ia sudah memiliki 3 anak bernama Natasha, Anna dan Jordan.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron sempat membuat pernyataan bagaimana Sanghera mampu membuatnya menoleh ke problem pernikahan paksa. Dengan giat, Sanghera melakukan lobi – lobi ke pemerintah agar tindak pernikahan paksa masuk dalam kategori kriminal. Akhirnya, pada tahun 2012, pernikahan paksa dimasukkan dalam kategori kriminal spesifik di Inggris dan Wales dan sudah dilegalkan menjadi Undang- Undang. Tanpa upaya Sanghera dan organisasinya, Karma Nirvana, perubahan ini tidak akan pernah ada.

Sanghera memanfaatkan momentum ini untuk terus mengkampanyekan anti pernikahan paksa. Ia muncul di beberapa acara televisi seperti “48 Jam” di tahun 2012, “Family’s Honor” (Baca femeli aner) di tahun 2008 dan beragam acara televisi lainnya.

Namun, kegigihannya berkampanye tak kunjung membuahkan perubahan pikiran pada ayah dan keluarganya. Jauh sebelumnya, Ayahnya pernah menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Sanghera adalah aib, ketika Sanghera membantah, ayahnya menambahkan kalau Sanghera tak akan pernah bisa kembali ke India karena kelakukannya itu.

Berkunjung Ke Keluarga Besar di India

Kini, setelah 29 tahun ia meninggalkan rumahnya, ia tinggal di Yorkshire bagian barat serta memiliki dua anak perempuan. Salah satunya yang bernama Natasha telah menikah dengan laki-laki yang ia cintai. Saat hendak menikah, Natasha mengundang seluruh keluarga termasuk keluarga dari ibunya, dengan harapan akan bisa terjadi rekonsiliasi dengan keluarga ibunya itu. Momentum itu pun Sanghera gunakan untuk berkunjung ke India menemui keluarga besarnya. Ia memilih mengunjungi saudara perempuan dari pernikahan pertama ayahnya di India hanya dengan berbekal foto saudara perempuannya itu.

Selama perjalanan menuju Punjab, India, Sanghera merasa dekat sekali dengan ayahnya yang kerap berkisah tentang lingkungan alam Punjab, tentang masyarakatnya, lingkungannya, ladangnya dan masih banyak lagi. Ada pula rasa takut bakal ditolak oleh saudara perempuannya itu. Namun sesampainya di sana, kenyataan sungguh bertolak belakang dengan alam pikirnya selama ini. Kumpulan ibu-ibu bergerombol menyambutnya “Kau adikku, kau adikku, sungguh suatu hal baik sebelum ajal menjemput kita”. Sanghera terpana, ini sungguh di luar dugaan dan rasa bahagianya pun tak terlukiskan. “Ini adalah hal terindah dalam hidupku” ujarnya suatu kali. Bahkan ketika ia menanyakan pada saudara perempuan soal tindakannya yang kabur dari rumah karena menolak dinikahkan paksa, saudara perempuannya itu menjawab abaikan saja tindakan keluarganya itu. Sungguh suatu hal yang mengherankan buat Sanghera karena nilai-nilai keluarganya di India jauh sekali bila dibandingkan dengan keluarganya di Inggris. Selama 29 tahun, Sanghera merasa kehilangan keluarga, namun setelah bertemu dengan saudara perempuannya di India ia merasakan kembali kehangatan keluarga.

Menanggapi situasi tersebut, seorang produser BBC, Dan Fathing, berpendapat bahwa dalam pergantian waktu antara generasi imigran pertama yang pergi ke Inggris, terjadi pergeseran kultur di India yang tidak diketahui oleh generasi imigran pertama yang sudah tinggal di Inggris.

Setelah kembal lagi ke Yorkshire, Sanghera kembali melanjutkan aktivitasnya di Karma Nirvana, dan terus menjalin komunikasi dengan saudara perempuannya. Kunjungannya ke India memberinya perspektif baru dan memberi banyak perubahan atas perjuangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 11 =