Iis : Buruh Menjadi Penggiat Koperasi (1)

Dari Boikot Massal Pelajaran Bahasa Inggris hingga Jadi Security di Perusahaan

Malam itu, sambil menjaga tokonya, tampak Iis sedang bercengkrama dengan beberapa buruh perempuan. Mereka adalah anggota koperasi yang sedang mendiskusikan persoalannya. Dari persoalan utang piutang, lembur yang tidak ada habisnya, para bos dan pengawas yang menjengkelkan hingga persoalan keluarga. Dengan sabar, Iis mendengarkan, sesekali dengan diiringi canda tawa. Derita yang sehari hari itupun menjadi lebih ringan.

Begitulah aktivitas Iis sehari hari sebagai penggiat koperasi, dengan kesabaran, menjadi telinga bagi teman- temannya yang punya tumpukan masalah dan keluhan.

Kepada Marsinah FM, mengalirlah cerita tentang kehidupannya.

Iis adalah  anak perempuan kelahiran Jakarta. Meskipun bapak emaknya orang Jawa Tengah, dia tidak pandai berbahasa Jawa. Waktu masih bayi, bapaknya meninggal dunia, sehingga ia tak merasakan bagaimana kasih sayang seorang Bapak.

Sepeninggal Bapaknya, emaknya menjadi orang tua tunggal yang bekerja dan berusaha menghidupi delapan anak. Iis merupakan anak paling bontot. Emaknya berjualan pecel, untuk menghidupi keluarga besar itu. Itulah juga mungkin yang mendorong Iissedari kecil sudah mempunyai bakat dagang. Sambil sekolah ia berjualan handuk, sandal, perlengkapan sekolah atau apapun yang bisa dijual untuk membantu emaknya agar tetap bisa makan bersama saudara-saudaranya.

Selain rajin membantu emaknya, dia juga sering mencuri waktu untuk ikut kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Awalnya, dia sangat menyukai olahraga, terutama lari. Paskibraka juga tidak pernah ketinggalan. Namun, pelecehan yang menimpa dirinya dan teman-temannya saat olah raga renang memukulnya. Peristiwa itu terjadi di kolam renang. Pelakunya adalah bapak-bapak. Kejadian itu sudah diadukan ke guru olahraganya, tapi guru olahraganya tak percaya dengan pengaduan itu. Kejadian itu membuat Iismundur dari tim olahraga di sekolah. Ia sekaligus bertekad bahwa dia tetap bisa sukses di bidang lain. Dari situ Iisberalih aktif di kegiatan pramuka.

Iis kecil tergolong anak yang berani. Saat dia merasa tidak mampu menguasai mata pelajaran bahasa Arab, dia minta temannya, Ajizah untuk mengajarinya. Namun ternyata Ajizah tidak mau. Iispun jengkel, dengan penuh keberanian dia sembunyikan tas Ajizah. Meskipun Ajizah menangis dan melaporkan ke guru, tetap tak dia kembalikan tas Ajizah.

Iis memasukkan tas Ajizah itu ke dalam tasnya dan dia bawa pulang.

Sesampainya di rumah, Ajizah dan ibunya sudah menunggunya di rumah. Ajizah masih terus saja menangis.

Ibu Ajizah : “Kenapa kamu sembunyikan tas Ajizah?”

Iis : ” Lagian, dia nakal, ga mau ngajari aku bahasa Arab, Khan aku mau ngajari dia matematika, kenapa dia pelit?”

Ibu Ajizah : ” Ooh itu masalahnya, sampai kamu buat Ajizah menangis?”

Iis: “Iya, biarin aja dia nangis, biar tahu rasa”

Ibu Ajizah : “Sekarang kamu kembalikan tas Ajizah ya, kasihan Ajizah nangis melulu”

Iis: “Tidak”

Ibu Ajizah:” Nanti ibu bilang ke Ajizah ya, untuk belajar bareng sama kamu, jadi kalian bisa saling belajar, gimana Ajizah?”

Ajizah : mengangguk saja

Iis: “Iya”

Dengan berat hati, Iis mengeluarkan tas Ajizah dari dalam tasnya, dan dia serahkan ke Ibunya Ajizah. Ajizahpun berhenti menangis.

Esok harinya mereka sudah bisa bermain dan belajar bersama lagi.

Saat SMP, pelajaran yang paling tidak disukainya adalah Bahasa Ingris. Setiap kali ada pelajaran itu, setiap kali itu juga dia mencari-cari alasan untuk bisa keluar kelas. Entah ke toilet, entah ke kantin, atau pulang.

Saat ujian bahasa Inggris di kelas, gurunya menyampaikan “Anak-anak hari ini kita akan ujian bahasa Inggris ya, bagi kalian yang tidak mau ikut ujian, silahkan keluar tidak apa-apa”.

Merasa dapat kesempatan, Iisberdiri dari tempat duduknya dan keluar menuju kantin.  Kelakuan Iisdiikuti oleh teman-temannya, hampir 2/3 dari seisi kelas mengikuti dia ke kantin dan ulangan kelas hanya diikuti oleh 1/3 dari murid di kelas itu.

Esok harinya Iis dipanggil ke ruangan BP, untuk mempertanggungjawabkan kelakuannya.

Guru BP               : “Sudah tahu kenapa kamu di panggil ke ruangan Bapak?”

Iis                            : ” Belum Pak”

Guru BP                : ” Kenapa kamu kemarin tidak ikut ulangan bahasa Inggris Is ? Kenapa kamu mengajak teman-teman mu malah bermain di kantin?”

Iis                            : “Mereka sendiri yang mengikuti aku, aku tidak mengajak mereka kok, lagian aku memang tidak suka pelajaran bahasa Inggris”.

Guru BP                : “Kenapa kamu tidaksuka pelajaran Bahasa Ingris?”

Iis                            : “Aku tidak suka selalu di panggil-panggil, pada berisik, selalu aku di panggil is is is is, aku jadi pusing”

Guru BP                : “Ya ampun, mereka itu tidak panggil-panggil kamu, khan memang di pelajaran bahasa Inggris ada tentang to be, salah satunya ya  is itu.”

Iis                            : “Tapi aku tidak suka, kalau aku baru mau baca, udah di panggil lagi, mau nulis di panggil lagi, pusing aku pak”

Guru BP nya geleng-geleng kepala, sembari tarik nafas panjang, ia tetap berusaha menjelaskan pentingnya mengikuti pelajaran bahasa Inggris.

Suatu ketika, emaknya menangis karena salah satu kakaknya yang sudah bekerja di salah satu perusahaan di KBN Cakung, tak kunjung pulang sudah 2 hari. Tidak terlacak kemana kakaknya pergi dan menginap dimana.

Tidak tega melihat emaknya yang terus menangis, dia mencari informasi keberadaan kakaknya ke rumah teman-teman kakaknya, satu persatu. Sampai akhirnya dia dapat informasi bahwa kakaknya disembunyikan oleh teman kerjanya namanya Andre.

Dengan penuh keberanian, Iis mendatangi pabrik, satpam yang menghalangi dia untuk masuk ke pabrik, tak dia hiraukan. Iis masuk ke dalam pabrik dan berteriak “Mana yang namanya Andre? Mana yang namanya Andre ?”

Kontan seisi pabrik dikejutkan dengan suara Isrowati, kehadiran anak usia belia itu tanpa tahu ada masalah apa.
Merasa namanya dipanggil-panggil, Andrepun menemui Isrowati. Tanpa pikir panjang, dia seret Andre keluar pabrik, dia maki-maki, dan dia minta segera mengembalikan kakaknya .

Andrepun Menurut bagai kerbau ditusuk hidungnya. Andre membawa Iis ke kontrakannya, lalu menyerahkan kakaknya untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, emaknya bisa bernafas lega karena kakaknya telah kembali.

Dalam berkawan, dia berkawan dengan siapa saja baik yang seumuran maupun yang diatas umurnya dia. Dia juga berkawan dengan anak-anak STM, dari perkawanan itu Iis pun belajar dari mereka, Iis sering membuka-buka buku anak STM dan belajar tentang listrik. Ilmunya itu yang kemudian dia terapkan di keluarga dan tetangga sekitar, kalau ada masalah terkait listrik, tak segan dia membantu tetangga.

Masuk dunia kerja

Lulus SMP Iis tak melanjutkan sekolah karena emaknya tidak cukup mampu untuk membiayai sekolah, hanya kedua kakaknya yang laki-laki yang sekolah sampai SMA.

Iis belia masuk melamar kerja ke salah satu perusahaan di KBN Cakung,  PT Targus Indonesia, dia bekerja sebagai security atau satuan pengamanan (satpam).

Kesehariannya tentu saja sebagai penjaga perusahaan, dia ditempatkan di bagian belakang, kadang di samping, kadang di pos depan bergantian, kadang menjaga pintu dekat toilet.

Suatu ketika, ada 3 buruh laki-laki bagian Sewing yang mondar mandir ke toilet, dan ditegur oleh Iis. Merasa terganggu dengan teguran itu, ke 3 buruh sewing itu mempunyai niat buruk, mereka membayar buruh toilet untuk tidak membersihkan toilet. Sehingga toilet menjadi kotor dan bau.

Saat IIs bertanya pada buruh toilet, dia diam saja. Tetapi ke 3 buruh sewing itu menyampaikan

“Jangan cuma mondar-mandir dong, bersihkan toilet sekalian, enak sekali kerja seperti makan gaji buta.”

“Kita bekerja sudah ada bagian masing-masing, kenapa kalian yang usil?” Jawab Iis ketus.

Buruh Sewing itu tak menggubris, dan berlalu kembali ke ruang produksi. Setelah mereka berlaku, buruh bagian toilet menyampaikan bahwa  dia dibayar oleh 3 buruh sewing itu untuk mencari-cari masalah dengan Isrowati.

Tanpa pikir panjang, Iis mendatangi mereka yang sedang menjahit.

“Ooh kalian yang mau cari gara-gara sama aku, kalau berani ayo kita keluar ke lapangan, jangan beraninya menfaatin orang lain”.

Iis menarik mereka keluar area pabrik, dan “gulat” dengan mereka 1 persatu. Iispun terluka di bagian punggung, kena celurit. Setelah dilerai dengan security lain, ke-3 buruh itu di bawa ke Pospol depan KBN, lalu dibawa ke Polres Jakarta Utara. Sementara Iislangsung masuk ke ruang personalia dan menyatakan mengundurkan diri saat itu juga.

Personalia melarang IIs berhenti kerja, bisa dibicarakan baik-baik katanya. Namun Is bersikeras berhenti kerja. Dia keluar dari ruang personalia, sembari membawa 3 koper produksi PT Targus Indonesia. Dengan penuh amarah, dia mendorong-dorong 3 koper merk “Travel Time” itu ke arah belakang KBN, sampai kos dia.

Sesampainya di kos, emaknya dan kakak laki-lakinya menyambut dengan hawatir.

Setelah menceritakan kejadian itu, emaknya menarik nafas panjang “lihat adikmu itu, laki-laki apa Perempuan coba, berantem melulu kerjaanya”.

Sementara kakaknya langsung memeriksa luka di punggung Isrowati, membersihkan luka dan mengobatinya dengan obat merah.  Sembilan bulan bekerja di PT Targus Indonesia adalah pengalaman pertama menjadi buruh pabrik dalam usia belia.

Menjadi buruh Pabrik tusuk gigi.

Demi terus menjaga agar dapur emaknya tetep mengepul, Iis masuk kembali bekerja di PT KH Internasional, salah satu perusahaan di KBN Cakung yang memproduksi tusuk gigi dari bahan wayer untuk diekspor ke luar negeri. Salah satu Merk tusuk gigi yang di produksi adalah Samstar.

Di sini Iis bagian produksi, namun dia juga belajar teknisi, sehingga saat mesinnya rusak dia tidak perlu panggil mekanik, tapi bisa membetulkan mesinnya sendiri. Di sinilah dia bisa menyalurkan ketertarikannya terhadap permesinan, sama seperti waktu SMP dulu. (gm)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 15 =