Hidup Sebagai Pekerja Rumah Tangga

Oleh Guruh

Beberapa hari ini saya sibuk mencari Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan kadang terpikirkan cerita apa yang akan PRT itu kisahkan kelak. Dari dua PRT sebelumnya, biasanya setelah beberapa bulan dan cukup akrab, mereka akan membagikan kisah pribadinya. Dua kisah PRT saya sebelumnya mirip sinetron dan selalu bermasalah dengan suami. Keduanya menjadi tulang punggung keluarga, dan ironisnya, suami tidak berusaha mencari penghidupan.

PRT pertama, sebut saja namanya Endah, bukan nama sebanarnya, menikah dengan suami yang lebih muda. Suami itu kebetulan saudara jauh saya. Setelah menikah, mereka tinggal di sebuah kampung di kaki pegunungan Karst Gombong Selatan. Mereka menikah ketika suaminya maish berumur 20an awal.

Setelah menikah, suaminya tak kunjung bekerja, bahkan setelah dikaruniai anak. Ia terus luntang-lantung bermain dengan pemuda-pemuda sebaya. Anak mereka dirawat oleh orang tuanya. Karena kondisi ekonomi yang semakin menghimpit, akhirnya Endah memutuskan merantau ke Jakarta menjadi PRT.

Singaknyat, Endah menjadi tulang punggu keluarga. Namun, berbeda dengan laki-laki, kemampuannya menghasilkan nilai ekonomi tidak lantas menaikan posisi tawarnya di keluarga. Dengan gajinya, Endah membayari kredit motor dan menghidupi suami serta anaknya. Dan, jerih keringat endah malah digunakan oleh suaminya untuk luntang lantung, motor dimodifikasi, dan ia terkadang melacur sambil minum-minuman keras. “Dek, kemaren saya bercinta dengan perempuan ini sambil mabok, rasanya enak, murah,” kata suaminya menceritakan pada Endah sembari tanpa dosa.

Rasa kesal terhadap suaminya tak bisa ia bending lama-lama. Di bulan ke-5 bekerja di tempat saya, ia semakin memperlihatkan gelagat tidak niat bekerja. Selalu minta libur dan sering mengunci diri di kamar sebelum jam kerja kelar. “Lah, capek pak, masa aku kerja bojoku enak-enak,” katanya. Sekarang kabarnya mereka sudah memiliki anak kedua, dan entah bagaimana bertahan hidup dengan dua anak dan kerjaan yang tidak pasti di Gombong, kota dengan UMP hanya Rp 1,3 juta.

Derita di Senja Usia

Berbeda dengan PRT pertama, PRT kedua, sebuat saja Pariyem, berusia 50an; sudah kenyang makan asam-garam. Dia dulu cukup berada dan tinggal di pusat kota Bogor. Ini karena suaminya bekerja sebagai buruh dengan posisi manajerial di sebuah perusahaan. Mereka memiliki dua anak, yang pertama perempuan dan kedua lak-laki.

Sejak karir suaminya terus melejit, hubungan mereka semakin tidak harmonis. “Ia sering besenang-senang bersama temannya dan mengabaikan keluarga,” keluh Pariyem. Puncaknya, ketika anak perempuannya hendak melahirkan cucu pertama, anaknya terlambat mendapat pertolongan.

Alhasil, ia mesti kehilangan anak yang disebutnya rajin bekerja dan menabung. “Suami saya tidak kelihatan ketika saya pontang-panting mengurus anak,” keluhnya. Masih terasa rasa kesal terhadap suami dalam nada perkataan itu.

Sudah kehilangan putri kesayangan, ekonomi keluarga Pariyem ambruk. Suaminya nekad maju sebagai calon legislatif untuk DPRD. “Suami gampang dipanasin teman-teman,” katanya. Suaminya bahkan berhenti bekerja untuk urusan politik ini. Dengan penuh keyakinan merasa ia akan merebut kursi dan balik modal.

Politisi karbitan ini gagal lolos dan rumah sudah terlanjur terjual. Mereka akhirnya terlempar jauh ke pinggiran kota satelit itu. Kini mereka tinggal di Sentul. Rumah yang ia tempati juga patungan dengan saudara. Belakangan, saudara itu mengusulkan rumah itu dijual untuk membayar utang.

Jatuh miskin dan kehilangan anggota keluarga memukul psikir Pariyem, dan anaknya yang kedua. Anak lelakinya menjadi pendiam dan sering termenung sendiri. Kondisi ini membuat ia semakin susah bekerja. Sekarang, anaknya sudah bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran menu bebek di Margonda.

Setelah gagal, suami Pariyem tidak siap miskin. Pariyem bekerja sebagai PRT di Kelapa Gading. Di situ, ia akhirnya berhenti dari pengguna jasa yang lama karena merawat saudara yang sakit berkepanjangan.

Selain itu, ia merasa lelah. Ia sering membawa anak pengguna jasa jalan-jalan keliling mall dan tidak membeli apapun. Ia bahkan sering menunggu di lobi hotel ketika pengguna jasanya bekerja melayani pelanggan. Pengguna jasanya seorang pekerja seks.

Dari bekerja sebagai PRT, Pariyem mampu menabung dan membelikan suaminya gerobak untuk berjualan. Suaminya sempat berjualan jajanan di kebun raya Bogor. Namun, suaminya tetap saja tidak menerima keadaan kemiskinan itu. Rasa malu membuat suaminya berhenti berdagang dan hidup mengandalkan penghasilan istri. “Suami gak mau prihatin. Kadang malah makan di restoran,” ujarnya.

Seperti Endah, ia menjadi tulang punggung namun tetap tidak mampu mengendalikan uang hasil kerjanya. Suami tetap mengendalikan dan punya kuasa politik. Bahkan, di depan suami ia tetap lemah meski menjadi sumber nafkah. Bahkan, ia beberapa kali mengeluhkan suami yang ringan tangan itu. Terkadang memukul dan sering berkata kasar.

PRT saya berhenti bekerja setelah sepekah saya pindah ke Kabupaten Bekasi. Di perumahan subsidi itu, ia tidak menemukan komunitas PRT seperti di apartemen murah di Kelapa Gading. Tiba-tiba ia mengatakan ingin berhenti dan kembali ke Purworejo, menghabiskan masa tua mengurus lahan bersama saudara-saudaranya. Saya tidak lantas percaya. Tapi, mungkin ia merasa memiliki posisi tawar lemah dan takut berterusterang soal alasan sesungguhnya berhenti. Saya pun tak bisa memaksa meski penasaran setengah mampus.

Sekarang, entah cerita apa lagi yang akan saya dengar ketika mendapart PRT untuk ketiga kalinya. Saya tidak pernah bertanya, sungkan mengorek kisah pribadi orang. Tapi, seakan-akan kisah itu yang mendatangi.

Ketika pembaca bertemu PRT di jalan, atau bahkan mempekerjakan PRT, mungkin juga mereka memiliki kisah-kisah serupa, ditelantarkan suami sambil dibebani anak. Dan, jika mempekerjakan PRT, upah yang Anda berikan tidak lagi sekedar untuk menghidupi PRT itu, tapi juga anak dan keluarganya.

 

Jakarta, 12 September 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + 13 =