Hari Kelahiran dan Bunda Maria Itu

gambar : https://pin.it/5Lnlt7v

Celia terlahir dari keluarga kaya yang bermukim di ibukota. Garis keturunannya cukup makmur, dia mewarisi silsilah perternak besar di Buenos Aires. Celia memiliki ayah pintar, penyuka buku, sesuatu yang kelak menitis ke puterinya dan selanjutnya cucu lelakinya. Sebagai profesor, Juan Martin menghabiskan waktu dengan  mengajar di Fakultas Hukum Universitas Buenos Aires, selanjutnya bekerja menjadi duta besar.

Tetapi kepintaran dan pekerjaan yang bagus tak menghalangi Juan Martin  untuk mengakhiri hidup lebih dini. Juan Martin bunuh diri ketika Celia masih berumur dua tahun. Ibunya, Edelmira Llosa, meninggal tiga belas tahun kemudian. Carmen, kakaknya yang menikahi penyair komunis kemudian  mengasuhnya. Kematian dini kedua orangtua itu tak lantas membuat Celia jatuh dalam kesukaran hidup, setidaknya untuk satu hal: biaya hidup. Mereka adalah pemegang kekayaan yang sangat penting.

Sebagai gadis ibukota yang berkelimpahan, suatu waktu Celia mempertimbangkan diri menjadi pelayan Tuhan. Keluarganya memang bukan keluarga shalih. Diantara mereka kerap bersikap anti klerikal. Selepas lulus dari sekolah Prancis ‘Hati Kudus’, Celia mencoba jalan Kristus, menjadi biarawati. Tetapi keinginannya itu pada akhirnya patah. Agama meminta kepercayaan penuh, ketertundukan, dan seperti yang sudah diduga, hal-hal seperti itu tak akan pernah cocok buat Celia.

Menjadi biarawati bukan jalan mudah, lebih-lebih untuk seorang gadis yang sejak muda menunjukkan kepribadian yang kuat. Suatu hari, para biarawati memaksanya untuk melafalkan ‘Doa Bapa Kami’ lebih dari 10.000 kali. Di lain waktu mereka mempermalukan dirinya dengan meletakkan gelas tanah di sepatu dan memintanya berlutut di atas biji jagung. Celia tak suka, kemudian memutuskan tidak lagi sudi menyisakan kepercayaannya kepada Tuhan, seperti halnya kakaknya Carmen.

Celia menjadi feminis generasi pertama di negerinya. Mungkin itu  didorong oleh kegemarannya  pada buku atau bakatnya untuk tak segan-segan melakukan penghinaan terhadap aturan-aturan yang berlaku. Di Argentina dia merupakan salah satu perempuan yang pertama mengenakan celana panjang, merokok, mempromosikan kebebasan seksual, memotong pendek rambut. Dan sebagai gadis berada, tentu saja dia mengendarai mobil sendiri. Semua hal-hal yang tak lazim pada jamannya.

Celia lantas bertemu dengan Lynch, perayu kawakan yang gemar menari tango. Mereka dipesuakan sebagai mahasiswa. Keduanya menjadi kekasih dengan cepat. Lynch mendapat penghasilan dari galangan kapal Rio de la Plata, yang dimiliki beberapa anggota keluarganya. Lynch suka pergi ke kawasan kumuh perkotaan, tidak lain untuk hobinya: Tango. Tarian nasional Argentina yang kala itu masih dianggap rendahan dan menjadi domain eksklusif kelas pekerja dan kaum imigran.

Lynch kerap bersikap lepas. Dia pernah menampar Jorge Luis Borges. Teman sekolahnya yang kelak menjadi sastrawan besar  Amerika Selatan. Lynch sering dinaungi keberuntungan, semisal menampar calon juru sastra tadi, namun puncak keberuntungan Lynch bisa jadi ialah Celia. Lynch sendiri mengakui ia telah memenangkan lotre dengan menikahi Celia. Gadis yang digambarkan disukai semua orang di kotanya dan tidak terjangkau oleh siapa pun.

Lynch lalu meninggalkan studi arsitekturnya. Berbekal  uang warisan dia membeli perkebunan di Puerto Caraguatai. Daerah pedesaan di provinsi Misiones. Itu merupakan wilayah yang sangat jauh, 1200 kilometer dari Buenos Aires. Pada suatu hari di penghujung tahun 1927, Lynch dan Celia, -yang telah hamil tiga bulan-, menikah di rumah saudara perempuannya. Demi menyembunyikan kehamilan yang sudah lanjut, mereka segera memulai petualangan untuk tinggal di Misiones.  Fakta tersebut dapat dikutuk untuk standar moral pada tahun-tahun itu. Menikah dan minggat sesukanya.

***

“Ayah saya hidup tanpa ingin diikat. Bisa dibilang dia agak terlalu bebas. Namun itu memberikan perasaan bahwa kami bisa bepergian, menyaksikan dunia.”

“Ibu saya lebih berprinsip, dia memiliki pemikiran yang sangat kuat.”

Lantas, “Che adalah campuran dari keduanya.”

Demikian pengakuan Juan Martin Guevara, anak bungsu dari Celia de la serna dan Ernesto Guevara Lynch. Ya, Celia dan Lynch yang tadi. Anak-anak ibukota.

Keluarga ini memang berbeda. Tidak seperti penduduk di kotanya, mereka besar sebagai pendukung kaum Republik pada Perang Sipil melawan fasis di Spanyol. Saat akhir pekan tidak ada diantara mereka yang pergi ke gereja. Anak-anak hidup dalam kebebasan, sehingga biasa keluyuran sesuka hati dan bergaul dengan kaum proletar serta petani. Di rumah mereka ada  3000 buku bersesak-sekan. Si Sulung Ernesto Guevara rajin melahap timbunan kertas beraneka judul. Konon di usia empat belas tahun dia telah menyelesaikan karya Nietzsche.

“Baginya, pengetahuan dan pembelajaran sangat penting dan, seperti orang tua saya, dia tidak pernah mencoba memaksakan sesuatu.”

Begitu yang diceritakan Juan Martin Guevara dalam memoar bertajuk, ‘Che, My Brother’. Memoar yang ditulis dengan bantuan  jurnalis Prancis Armelle Vincen demi memperingati setengah abad kematian abangnya .

“Dia selalu tampan, dengan mata besar yang ekspresif, tertawa, rambut hitam tebal, tetapi acuh tak acuh pada penampilan. Dia tidak memainkan peran sebagai kakak yang suka memerintah dan sombong; sebaliknya, dia protektif.”

Juan Martin Guevara, -nama yang diwarisi dari kakeknya-, mengenang kakaknya lebih sebagai pria yang patut dicontoh, dibanding figur yang mesti dipuja atau  menjadi kultus. Untuk dua terakhir ini, sejarah rupanya berniat lain. Che dengan semua kehidupan dan kematiannya, terlanjur menjadi apa yang ingin diingat dan digunakan oleh orang-orang. Hal-hal ini diluar kendali. Sebagai mitos, Che masuk dalam ruang yang mana saja.

Mercedes Benz memakainya untuk objek iklan dagangan. Pablo Neruda menggurat puisi kematiannya selaksa kidung pujian bagi pahlawan tak tergantikan. Anak-anak muda Eropa tahun 1970-an memakai gambar ikonik hasil jepretan Alberto Korda, untuk mensinonimkan wajahnya dengan pernyataan anti kapitalisme. Rage Against The Machine menjadikannya sampul album. Dan ada yang lebih jauh dari itu, persis ketika kematiannya tiba. Sesuatu yang profan lambat laun menjadi sakral.

Petani-petani di La Higuera, sebuah desa di Bolivia tempat kematiannya, memotong rambut Che untuk dijadikan jimat. Banyak lagi yang menyakininya sebagai orang suci. Para perawat yang mengurus jenazahnya merasa arwah Che mengisi ruangan selayaknya Yesus.

“Mereka mengatakan dia tampak seperti Kristus,” kata Susana Osinaga, seorang pensiunan perawat yang membantu mencuci kotoran dan darah dari jasad Guevara.

“Orang-orang hari ini masih berdoa kepada Santo Ernesto. Mereka mengatakan dia memberikan keajaiban.”

Betapapun Juan Martin tak suka, tetapi dia harus mengatakan sesuatu untuk semua itu,

“Menjadi saudara laki-laki Che tidak pernah menjadi masalah sepele…Ketika orang mengetahui siapa aku, mereka tercengang. [Mereka merasa] Kristus mustahil memiliki saudara lelaki atau perempuan.”

Teruntuk sebagian rakyat, Che adalah dongeng kudus. Bagi yang lain, pria Argentina ini serupa bara yang tak kunjung padam, bisikan hati kepada mereka yang berlawan. Ernesto Che Guevara, lahir pada tanggal 14 Juni di Rosario. 92 tahun silam terhitung hari ini. Seorang ‘Kristus’ abad dua puluh yang lahir dari rahim calon biarawati murtad. Celia adalah Bunda Maria yang merokok, hamil duluan, keras kepala dan tak mempercayai Tuhan.

***
14 Juni 2020,
Fajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =