Habis Gelap, Terbitlah Terang

Gadis Jepara Cerdas yang Menolak Beasiswa

Apa jadinya, bila kala itu Kartini tetap menerima beasiswa untuk belajar Ke Belanda dan tidak memberikannya pada seorang pemuda lainnya, Agus Salim? Mungkin sejarah akan berkisah lain. Tapi toh pada akhirnya Kartini memilih menolak beasiswa tersebut dan bila ditanya kenapa ia menolak ia hanya akan memberi jawaban yang sama “Kasihan ayah, dia sudah tua dan sakit-sakitan.”

Dalam sebuah suratnya, Kartini pernah menuturkan bahwa tubuhnya ada di dua dunia, bagian bawah tubuhnya terbenam di bumi, sementara bagian atasnya menengadah ke langit. Penuturan Kartini ini menggambarkan betapa ia tak sanggup melepas belenggu dari adat feodal yang mengungkung dirinya dan masyarakat. Seberapa majunya pemikiran Kartini, ia merasa sulit untuk lepas dari itu semua. Di kala ia masih bocah, ketika masih bersekolah di ELS, seorang sahabatnya dari Belanda bertanya pada Kartini “Ingin jadi apakah kau setelah besar, Ni?” . Resah dengan pertanyaan itu, Kartini bocah bertanya pada ayahandanya. Kakak lelaki Kartini hanya tersenyum geli, “Ingin jadi apa? Anak gadis tentu akan menjadi Raden Ayu.” Dari situlah, Kartini baru mengerti, bahwa ia besar di sebuah lingkungan yang menetapkan dirinya sebagai Raden Ayu, yang artinya tidak memiliki ruang gerak sebagaimana saudara-saudaranya yang lelaki.

Raden Ayu, dalam lingkungan ningrat jawa, artinya menjadi garwa padmi seorang bupati. Artinya seorang bupati sudah semestinya memiliki Garwa Padmi, atau permaisuri alias istri utama, istri resmi yang tugasnya mendampingi Bupati ketika melakukan kegiatan. Perempuan biasa tidak akan pernah boleh menjadi Garwa Padmi, Garwa Padmi hanya milik Raden Ayu, seperti Kartini ini. Karena itulah, meski memiliki banyak istri, jika belum menikahi Raden Ayu, seorang lelaki belum akan bisa ditahbiskan menjadi bupati. Ah, inilah yang kemudian tidak disukai Kartini, dibencinya habis-habisan karena melukai martabat dan harga diri perempuan. Perempuan hanya dinilai sebagai benda, penghias, bukan pemeran utama. Ia hanya pemeran pembantu, kalau bukan ningrat, maka jangankan menjadi pemeran pembantu, mendapat peran pun tidak.

Kartini juga membenci adat pingitan bagi perempuan yang telah menginjak 12 tahun dan untuk bebas dari pingitan pun mesti diharuskan menikahi seorang Bupati. Itu artinya, Kartini diharuskan mengikuti adat, budaya feodal yang sangat dia benci. Hiburan Kartini dalam pingitan hanya satu, membaca. Terbitnya koran leestrommel atau kotak bacaan tiap bulan telah menghibur hatinya, mempertajam pikiran-pikirannya.

Tajamnya pemikiran Kartini membutuhkan ruang untuk mengeluarkannya, tak bisa hanya sekedar dipendam di dalam kepala. Karenanya Kartini membutuhkan sahabat pena untuk bertukar pikiran. Ada stella, seorang feminis sosialis Belanda, ada Abandenon dan mungkin ada beberapa lagi lainnya. Dalam satu surat ia mengisahkan kehidupan memperihatinkan sebuah keluarga, yang kepala keluarganya memiliki 25 istri dan hampir 70 anak, sementara gajinya kecil. Dalam surat yang lain, ia mengisahkan seorang laki-laki yang menikahi perempuan lain saat istrinya tengah berjuang melahirkan anaknya. Ia mengkritik kehidupan poligami semacam itu. Tidak adil, dan menurutnya kurang bertanggungjawab.

Memberi Terang Dalam Hidup yang Singkat 

kitlv-nl-kartini17

Kartini bersama anak- anak didiknya

Kartini, dia boleh saja meninggal di usia yang teramat muda, yaitu 25 tahun. Tetapi di masa hidupnya yang singkat itu, ia telah memberikan banyak hal yang belum lazim di masanya. Kartini pernah menulis beberapa artikel di majalah de Hollansche Lelie, ia juga pernah membuat paguyuban pengrajin kayu Jepara untuk membantu para pengrajin kecil, dengan mencarikan pasar yang lebih luas untuk hasil karya mereka. Ia pun mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan dan sekali lagi, satu-satunya perempuan yang mendapatkan beasiswa bersekolah ke Belanda.

Selain Kartini ada pula perempuan hebat lainnya seperti Rohana Kudus, dan Rahma el Yunusiyah, juga Tjoet Nja Dhien. Indahnya bila kemudian di hari – hari kita ada banyak hari bagi perempuan – perempuan pejuang ini. Ada hari Kartini, hari Rohana Kudus, hari Tjoet Nja dhien dan banyak lagi. Kalau demikian banyak dong nama hari – hari khusus? Iya, dan itu luar biasa baik.

Tulisan-tulisan Kartini, mungkin sebagian menganggap itu tidak cukup  namun tulisan – tulisan Kartini memberi api bagi siapa saja, terutama kaum perempuan yang membacanya. Ia menjadi penggerak dari mereka yang mau ada perubahan. Dan, meski Kartini telah meninggal di usia yang masih belia, pemikirannya terus dibaca banyak orang dari generasi ke generasi, ia menjadi api, menjadi pelita. Pelita itu dia bagikan pertama-tama kepada para sahabatnya, salah satunya Stella, seorang aktivis Femnis Belanda, dan berikut tulisan suratnya kepada Stella

Saya  selalu merindukan untuk berkenalan dengan seorang “gadis modern” yg bangga, dan  wanita yang independen (tidak tergantung), yang merebut simpati saya. Dia yang bahagia dan mandiri, berjalan dengan ringan dan waspada dalam kehidupannya., penuh dengan antusiasme dan perasaan yang hangat, pekerjaannya bukan hanya untuk kesejahtaraannya sendiri, tetapi untuk kebaikan seluruh umat manusia.

Saya bersinar dengan antusiasme terhadap era baru yang telah datang, dan benar-benar dapat mengatakan bahwa pikiran dan simpati saya bukan milik dunia indian (Indies/Indonesia), tetapi kepada  saudara saudara perempuan saya yang  pucat (putih)yang berjuang untuk maju jauh di Barat.

 Jika hukum negri saya mengijinkan, tidak ada yang saya ingin lakukan selain memberikan diri sepenuhnya kepada usaha dan perjuangan daripada wanita baru di Europa, tetapi tradisi  tua yang tidak dapat dirusak, menangkap kami, membelengu degan tangannya yg pantang menyerah. Suatu saat nanti mereka akan melonggarkan tangan dan membiarkan kami pergi, tapi saat itu masih jauh dari kami, jauh, tak terhitung jauhnya. Saat itu akan datang, yang saya tahu; mungkin tiga atau empat generasi setelah kami. Oh, Anda tidak tahu bagaimana rasanya mencintai era baru yg muda ini dengan hati dan jiwa, namun tangan dan kaki terpasung,  dirantai oleh semua undang-undang, kebiasaan, dan konvensi suatu negri/tanahair. Semua lembaga lembaga kami secara langsung menentangan kemajuan yang begitu lama saya idamkan, demi kepentingan rakyat. Siang dan malam saya berfikir dengan cara apa tradisi kuno ini bisa diatasi. Bagi saya sendiri, saya bisa menemukan cara untuk menepiskannya, mematahkannya, kalau bukan ikatan lain,  ikatan yg lebih kuat daripada tradisi tua , mengikat saya ke dunia saya, dan itu adalah cinta yang saya rasakan bagi mereka,  kepada mereka saya berhutang hidup, dan kepada mereka saya harus berterima kasih untuk semuanya. Apakah saya punya hak untuk mematahkan hati mereka yang telah memberi saya apa-apa selain cinta dan kebaikan seumur hidup saya, dan mengelilingi saya dengan rawatan yg lemah lembut?

Tapi  bukan suara saja yang menggapai saya dari jauh, terang itu, Eropa yang baru lahir itu, yang membuat saya ingin merubah kondisi yang ada. Bahkan di masa kecil saya pun, kata “emansipasi” menyihir telinga saya, memiliki suatu makna yang tidak dimiliki hal hal lain,  makna yang jauh di luar pemahaman saya, and terbangun di dalam saya akan  kerinduan yang semakin dalam untuk kebebasan dan kemerdekaan – keinginan untuk berdiri sendiri. Kondisi lingkungan dan orang lain di sekitar saya mematahkan hati saya, dan  kesedihan tampa nama yg bekepanjangan  untuk kebangkitan negri saya.

Lalu suara-suara yang menembus dari kejauhan itu menjadi lebih jelas,  sampai  mencapai saya, menjadi kelegaan buat orang yang mencintai saya, tetapi kesedihan buat orang lain, membawa benih ke hati saya, berakar, tumbuh kuat dan subur.

Dan sekarang saya harus mengatakan tentang diri saya, sehingga anda dapat mengenal saya.

Saya adalah anak sulung dari tiga anak perempuannya Bupati Jepara yg belum menikah, dan saya memiliki enam saudara saudari. Dunia apa ini, eh? Kakek saya, Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, seorang pemimpin besar dalam gerakan progresif di era beliau, dan  bupati pertama dari Jawa tengah yang  membuka pintu kepada tamu tamu dari seberang laut – peradapan dunia barat. Semua anak-anaknya memiliki pendidikan Eropa; semua dari mereka memilikinya, (beberapa dari mereka telah wafat). Semua cinta   akan kemajuan, cinta yg diwariskan ayah mereka, kemudian di wariskan ke anak-anak mereka, didikan keluarga  yang sama seperti yang mereka sendiri telah menerima. Banyak dari sepupu  dan  saudara-saudara lelaki saya yang lebih tua lulus dari  Sekolah-Hoogere Burger,  institusi tertinggi yang kami miliki di Indie; dan anak bungsu dari tiga saudara lelaki saya yang lebih tua telah belajar selama tiga tahun di Belanda, dan dua lainnya melakukan pelayanan negara itu. Kami anak perempuan, mengenai hal pendidikan, terbelenggu oleh tradisi dan konvensi  kuno, telah beruntung sedikit oleh perkembangan ini. Adalah kejahatan besar terhadap kebiasaan atau tanah kami jika kami harus dididik sedikitpun. terutama jika kami harus meninggalkan rumah setiap hari untuk pergi ke sekolah. Karena kebiasaan negara kami yang sangat kuat melarang gadis untuk keluar rumah. Kami tidak pernah diperbolehkan pergi  kemana saja, walaubegitu pun, jangankan ke sekolah, satu-satunya tempat pengajaran yang dibanggakan oleh kota kami,  dan terbuka bagi kami, adalah sekolah dasar gratis bagi Eropa.

Ketika saya mencapai usia dua belas tahun, saya ditahan di rumah – saya berada di dalam “kotak”, dikurung, terputus dari semua komunikasi dengan dunia luar, ke arah dimana saya mungkin menajdi tidak aman di samping calon suami – orang asing- lelaki yang tidak dikenal yang dipilih oleh orangtua saya untuk saya – lelaki yg ditunangkan kepada saya tampa pengetahuan saya. Teman teman Eropaku,   ini saya dengar kemudian – dan  telah berusaha dengan segala cara yang mungkin untuk menghalangi orang tua saya agar tidak melakukan hal kejam ini terhadap saya, anak muda dan yang penuh kasih, tetapi mereka tidak  mampu melakukan apa apa. Orang tua saya tak terhindarkan, saya pergi ke penjara saya. Empat thaun lamanya, saya habiskan diantara dinding dinding  tebal, tanpa pernah melihat dunia luar.

Bagaimana saya melewati waktu, saya pun tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa itu sangat mengerikan. Tapi ada satu kebahagiaan yang besar meninggalkan saya: membaca buku Belanda dan korespondensi dengan teman-teman Belanda tidak dilarang. Ini satu satunya cahaya di kekosongan itu, saat yang muram, hanya itu, tanpa itu, mungkin saya sudah jatuh, ke dalam keadaan yang lebih menyedihkan. Hidup saya, bahkan jiwa saya pasti sudah kelaparan. Tapi kemudian datang teman  dan penyelamat kepada saya – Rohnya Zaman, langkah kakinya menggema di mana-mana. Dengan bangga, dasar bangunan2  kuno yang kokoh  terhuyung-huyung saat didekatinya. Pintu pintu yg tertutup kokoh  terbuka menerjang, beberapa menerima seperti diri mereka sendiri, yang lain hanya setengah hati, namun demikian mereka terbuka, dan membiarkan tamu tak diinginkan.

Akhirnya di usia enam belas, saya kembali bisa keluar. Terima kasih Tuhan! Terima kasih Tuhan! Saya bisa meninggalkan penjara saya sebagai manusia yang bebas dan tidak dirantai  kepada mempelai pria yang tak diinginkan. Kemudian  dengan cepat didikuti oleh peristiwa peristiwa/perayaan2 untuk memberikan kembali kepada kami anak perempuan  kebebasan yg pernah hilang.

Pada tahun berikutnya, pada saat penobatan Putri muda, orang tua kami memberiakan kembali kebebasan kami dengan  ”resmi”. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, kami diizinkan meninggalkan kota kami, dan pergi ke kota-kota tempat di mana perayaan diadakan dalam menghormati kesempatan itu. Betapa itu suatu kemenangan besar yang tak ternilai! Gadis-gadis muda seperti kami yang  harus menunjukkan diri di depan umum terjadi di sini, dan belum pernah terdengar kejadiannya.  ”Dunia” berdiri terperanjat, lidah ditetapkan bergoyang-goyang akan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teman teman Eropa kami bersukacita, dan untuk diri kami sendiri, tidak ada ratu sekaya kami. Tapi saya jauh dari puas. Saya masih akan pergi lebih jauh lagi, selalu lebih lanjut. Saya tidak ingin pergi ke pesta pesta itu, atau hiburan yand sedikit sembrono.  Itu tidak pernah penyebab kerinduan saya akan  kebebasan. Saya mengidamkan  untuk bebas, untuk dapat berdiri sendiri, untuk belajar, untuk tidak tunduk kepada siapapun, dan di atas semua itu,  tidak pernah, tidak pernah diwajibkan untuk menikah.

Tetapi kami harus menikah, harus, harus. Tidak menikah adalah dosa terbesar yang bisa dilakukan oleh wanita Muslim, aib terbesar oleh seorang  seorang gadis  terhadap keluarganya.

Dan perkawinan di kami, penderitaan adalah suatu ungkapan yang lemah untuk mengekspresikannya. Bagaimana tidak?  saat hukum  menyajikan segalanya untuk pria tetapi bertangan kosong terhadap wanita? dimana hukum dan konvensi melayani keperluan lelaki, ,segalanya diperbolehkan untuk lelaki?

Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta disini? Bagaimana kita bisa mencintai orang yang kita tidak pernah kenal? Dan bagaimana ia bisa mencintai kita? Itupun hal yang tidak  mungkin. Pemuda pemudi  harus tetap terpisah kaku, dan tidak pernah diizinkan bertemu […….]

 Saya sangat ingin tahu  pekerjaan anda.  Semuanya itu sangat menarik bagi saya. Saya ingin tahu tentang studi anda, saya  tahu sedikit mengenai Toynbee evening anda,  dan masyarakat abstinence (abstinence=memantangkan hal hal buruk seperti sex and alcohol atau kebiasaan buruk) yang sebagai anggotanya anda sangat bersemangat dan menyanjung.

Di antara kami orang India (mungkin sebagai sebutan buat Indies juga), kami belum meminum iblis itu untuk melawan, terima kasih Tuhan! –  Tapi saya takut bila kami minum sekali – maafkan saya –  Peradaban Barat telah berpijak di antara kami –  kami juga harus memiliki iblis itu untuk puas. Peradaban barat adalah berkat, tetapi juga memiliki sisi gelap. Kecenderungan untuk meniru adalah bawaan lahir,  saya yakin itu. Massa meniru kelas atas, yang pada gilirannya meniru orang-orang dari jajaran yang lebih tinggi, dan ini lagi mengikuti orang orang Eropa.

Di kami tidak ada pesta pernikahan tanpa minum. Dan festival festival penduduk asli, di mana mereka tidak memiliki keyakinan agama yang kuat (dan biasanya mereka beragama Islam hanya karena nenek moyang mereka, kakek dan leluhur jauh adalah Muslim-dalam kenyataannya, mereka sedikit lebih baik dari kafir), botol persegi besar selalu tersedia (alcohol). dan mereka tidak pelit dalam memgunakan ini (minum secara royal/kencang).

Tapi hal yang lebih jahat daripada alkohol adalah di sini dan itu adalah opium. Oh! Penderitaan kengerian yang tak terkatakan itu telah dibawa ke negara saya! Opium adalah hama Jawa. Ya, opium jauh lebih buruk daripada hama. Hama tidak  bertahan selamanya; cepat atau lambat, ia pergi, tapi kejahatan opium, setelah terbentuk, tumbuh. Bertambah menyebar, bertambah, dan tidak akan pernah meninggalkan kami, tidak pernah berkurang, secara singkat/apa adanya – opium itu dilindungi oleh Pemerintah! Semakin menyeraknya penggunaan opium di Jawa, semakin penuh kas perbendaharaan.

Pajak opium adalah salah satu sumber terkaya dari penghasilan Pemerintah – apa masalanya jika berakibat baik atau buruk terhadap penduduk? – Pemerintah menjadi makmur. Kutukan dari penduduk ini mengisi perbendaharaan Pemerintah Hindia Belanda Timur dengan ribuan – bukan itu saja, bahkan jutaan. Banyak yang mengatakan bahwa penggunaan opium bukan hal buruk, tetapi orang yang mengatakan itu  tidak pernah mengenal India atau mereka pasti  buta.

Apa yg membunuh kami sehari-hari, kebakaran pembakar, perampokan, tetapi akibat langsung dari penggunaan opium? Benar, keinginan akan opium tidak begitu buruk selama seseorang itu bisa mendapatkannya – ketika seseorang itu memiliki uang untuk membeli racun itu,; tapi apabila seseorang itu tidak dapat memilikinya, ketika seseorang itu tidak memiliki uang untuk membelinya,  dan adalah seorang pengguna yang berat? Kemudian seorang itu menjadi berbahaya, seorang yang sesat. Kelaparan membuat seseorang menjadi pencuri, tapi rasa lapar untuk opium akan membuat dia pembunuh. Ada pepatah di sini – “Awalnya Anda makan opium, tetapi pada akhirnya opium itu akan memakanmu.”

Sangat mengerikan untuk melihat kejahatan dan tidak berdaya  melawannya.         Saya tahu buku bagus oleh Nyonya Goekoop itu. Saya telah membacanya tiga kali. Saya tidak akan pernah bosan akan  itu. Apa yang tidak akan saya beri untuk dapat hidup di lingkungan Hilda? Oh, kami di Indie sudah sejauh ini, buku itu dapat menyebabkan kontroversi kekerasan di antara kami, seperti apa yang disebabkan Hilda Van Suylenburg di negara Anda. Saya tidak akan pernah beristirahat sampai H. v S. muncul dalam bahasa kami untuk melakukan yang hal baik juga hal yang merusak dunia India kami. Ini adalah soal perbedaan,  apakah hal itu baik atau merusak, jika hal itu meciptakan suatu kesan,  itu menunjukkan bahwa seseoarng itu tidak lagi tidur, dan Jawa masih dalam tidur nyenyak. Dan bagaimana penduduknya bisa dibangunkan, ketika orang orang yang pantas menjadi contoh, sangat mencintanya tidur yg bayak?. Kebanyakan besar perempuan Eropa di India  hanya perduli sedikit atau sama sekali tidak terhadap  usaha saudara perempuan mereka di tanah air.

Apakah Anda tidak akan mengatakan sesuatu tentang buruh pekerja, hambatan hambatan, sentimen, dari wanita  wanita Belanda masa ini di Netherlands? Kami sangat berminat sekali akan  masalah Gerakan Wanita.

Naskah ini disadur dari http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=1825

Surat Kartini diambil dari http://krista7.wordpress.com/2012/08/11/surat-r-a-kartini-kepada-stella-zeehandelaar/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − one =