Ekonomi Mandiri Buruh: dari Siapa, oleh Siapa, dan untuk Siapa? – Bag. 2

Pada tulisan sebelumnya, terdapat gambaran bahwa konsep ekonomi mandiri sedang dijalankan oleh Koperasi Sejahtera FSBPI. Para penggiat koperasi ini selain mengelola koperasi simpan pinjam, mereka juga memproduksi sabun cuci piring dan dipasarkan kepada para anggota dan warga secara umum. Belakangan kapasitas mereka pun bertambah, dengan memproduksi karbol permbersih lantai.

Inisiatif membuat sabun cuci ini bermula saat pandemi bergejolak. Jakarta Utara pun tak lepas dari kondisi itu. Kawan-kawan buruh kaget dengan situasi itu. Para pengusaha pun bisa jadi kaget dengan arahan lockdown dari pemerintah, harus ada Pembatasan Sosial Berskala Besar–PSBB hingga PPKM Darurat dan PPKM Level – 4,
sementara jumlah buruh di pabrik ratusan sampai ribuan.

Para pengusaha membuat kebijakan baru, sebagian besar buruh dirumahkan, diliburkan, dibuat kerja shiff/bergantian, sampai ada yang diputus hubungan kerjanya (PHK) demi mengurangi jumlah kerumunan buruh di area pabrik. Bagi buruh yang mempunyai serikat buruh, maka serikat buruh dapat melakukan perundingan dengan pengusaha menyikapi situasi ini. Namun, bagi buruh yang tidak mempunyai serikat buruh rata-rata mereka mengikuti saja apa kebijakan pengusaha.

Kondisi ini kontan membuat kegelisahan bagi para buruh perempuan, yang utamanya adalah pencari nafkah utama di keluarga. Penghasilan buruh berkurang drastis, karena hanya mendapat upah saat ia datang bekerja ke pabrik. Saat diliburkan tidak datang ke pabrik, tidak diupah. Ini prinsip “no work no pay” seperti yang ada di Undang-undang Ketenagakerjaan. Jika Upah Minimum Provinsi/UMP DKI Jakarta tahun lalu adalah sebesar Rp 4,2 juta, maka saat pandemi penghasilannya hanya sekitar 2 juta sebulan. Nominal yang sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti kebutuhan makan, membayar kost, trasportasi, biaya kesehatan dan kebutuhan yang mendadak meningkat adalah untuk membeli paket internet karena sekolah anak-anak mereka dilakukan secara online. Bagi buruh yang ter-PHK, kontak kehilangan pendapatan bulanan. Kondisi ini mengkondisikan mereka masuk dalam ruang kerja informal.

Penggiat koperasi kemudian menyelenggarakan rapat untuk menyikapi situasi ini. Muncullah ide untuk memproduksi sabun cuci secara manual, melibatkan kawan-kawan buruh terdampak covid. Harapannya ini bisa meringankan beban buruh perempuan yang terdampak PHK, kerja shif atau diliburkan. Mereka memproduksi bersama, memasarkan bersama, dan menikmati keuntungan bersama pula. Saat pesanan banyak, mereka sangat gembira dan bersemangat melakukan produksi. Mereka punya mimpi, andai situasi ini berjalan terus suatu saat akan jadi perusahaan yang dikelola dan dimiliki bersama.

Dalam perjalanannya mereka pun mengalami kendala, namun itu semakin membuat mereka tertantang. Kendala-kendala itu diantaranya adalah: pertama, kadang produksinya kurang bagus; karena ini adalah hal baru sehingga membutuhkan percobaan-percobaan agar menjadi pengalaman; kedua, modal yang dimiliki masih minim sehingga kesulitan menerobos harga pasar yang sudah mempunyai brand ternama; ketiga, situasi pandemi cukup membatasi ruang gerak mereka untuk terlalu sering berkumpul dan memasarkan sabun; keempat, jangkauan pemasaran yang masih terbatas; kelima adalah membutuhkan kesabaran dalam berproses. Memang tidak mudah memulai sebuah usaha, apalagi masyarakat kita sudah terbiasa “dicekoki” dengan hal-hal yang instan. Makanan instan, pengetahuan instan, dan lain-lain serba instan. Padahal jika ditelaah lebih dalam tidak ada yang instan di dunia ini. Semunya butuh proses, dengan begitulah kita menikmati keindahan proses.

Di tengah kendala dan keterbatasan itu, mereka tetap mempunyai harapan dan mimpi besar. Mempunyai pabrik dengan sistem yang berbeda dari sistem kapitalisme yaitu semua pekerja adalah pemilik pabrik. Keuntungan membesar dan menjangkau pasar ke pelosok negeri. Apakah ini mungkin? Mungkin saja, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selagi kita berusaha dengan baik dan sungguh-sungguh.

Satu hal yang tidak dilupakan oleh mereka adalah, semangat membangun ekonomi mandiri adalah semangat yang sama bagi serikat buruh. Keduanya saling terhubung dan saling menguatkan. Keaggotaan mereka yang saling beririsan, cita-cita yang sama akan semakin mendekatkan diri pada cita-cita utama gerakan, yaitu menghapuskan sistem ekonomi kapitalisme dan memanusiakan manusia. Dan inilah kesempatan yang baik itu.

Bagi kawan-kawan buruh yang penasaran dan ingin belajar tentang koperasi dalam mengelola ekonomi mandiri buruh, silahkan menghubungi kawan Ico 087880167516 dan Hartini 085924088126.

(Tulisan ini dinarasikan oleh Jumisih, berdasarkan wawancara dengan Ico dan Hartini selaku Pengurus dan Pendiri Koperasi Sejahtera FSBPI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + fifteen =