Dear, 30 September 2019

Aku AL, Pelajar STM di daerah Kabupaten Bogor. Aku bersama ke-3 temanku berencana akan mengikuti demo di depan gedung DPR/MPR RI di Jakarta. Waktu itu pukul 10:00 WIB, aku dengan keberanian membawa motor untuk ikut demo tersebiut. Aku tau demo tersebut untuk menolak RKUHP (Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana). Aku mengendarai motor menuju Jakarta, tepat pukul 12:00 WIB aku tiba di Jakarta. Aku dan temanku memilih untuk parkir di salah satu mall daerah Senayan. Lalu berjalan kaki ke depan DPR.

Meski hanya ber-4, Aku tidak takut. Aku adalah orang yang membela keadilan. Maka dari itu aku ikut demo. Aku melihat kakak-kakak dari beberapa universitas sudah ada di lokasi, sekilas aku melihat ka Manik (Ketua BEM UI) yang beberapa saat ini terlihat di media social ataupun di televisi.

Bukan hanya kakak-kakak universitas saja, tetapi ada juga organisasi-organisasi Buruh yang ikut menyuarakan suaranya. Tidak lupa kawan-kawan persejuanganku dari STM lain. Aku juga bergabung dengan mereka. Menyanyikan lagu kebanggaan kami para anak STM.

“assalamualikum, waalaikumsalam
STM datang, bawa pasukan”

Begitulah nyanyiannya. Jika aku hitung mungkin ada ratusan anak STM yang ikut, melebihi aksi tanggal 24 September 2019 lalu. Aku sesekali menyapa kakak-kakak universitas dan berjabat tangan dengan mereka. Ku akui pasukan kami memang berada paling depan. Tidak ada atribut di badan kami. Kami hanya memakai seragam kebanggaan kami(pelajar STM), seragam putih abu-abu. Berbeda dengan yg lain, mereka terlihat sangat mempersiapkan alat-alat seperti, masker, kacamata, bahkan helm.

Kurang lebih pukul 05:00 WIB, aku melihat mobil polisi lewat. Lalu, aku juga melihat teman-teman ku melempari botol ke arah mobil polisi tersebut. Disitu pula tepatnya para polisi menembakan water Canon kepada para pendemo. Ricuh seketika. Aku lari ke dekat mobil komando(mokom). Lalu ada yang menarik ku untuk naik ke atas mobil komando dan orasi di sana. Itu pengalaman pertama ku orasi di atas mokom. Aku arahkan semua teman temanku agar tidak terpancing emosi, sehingga harus ada peperangan antara polisi dan masa aksi. Temanku ada yg melihat dan bilang, “Al Al , ngapain lu di atas?”. Sebenarnya itu kebanggaan tersendiri untukku. Dan aku berterimakasih telah di beri kesempatan untuk orasi.

Setelah aku orasi, aku turun, waktu baru berjalan 15 menit keadaan sudah makin ricuh, polisi tidak segan segan menembak water Canon ke arah massa aksi. Aku sempat berpikir, “kita (aku dan yg lain) hanya ingin suara kami didengar, suara tentang keberatan kami atas Undang Undang ngawur yang di buat oleh pemerintah, bukan untuk rusuh dan malah membuat banyak korban”.

Bahkan azan berkumandang pun kami tetap menghadapi tembakan water canon yang mengarah kepada kami. Aku sendiri bingung dan sempat terpisah dengan ke-3 temanku. Aku merasakan walaupun kita tidak saling mengenal, mereka(masa aksi) tetap mementingkan yang lain.

Itu pertama kalinya aku mengikuti demonstrasi, seperti yang diajarkan di bidang PPKN di sekolah. Tapi aku masih heran, kenapa kita belajar demonstrasi tetapi ujungnya kita tidak diperbolehkan untuk ikut unjuk rasa. Hmmm, maaf pak/ibu guru, menurutku keadilan di negara lebih penting, negara sedang tidak sehat. Bukan aku tidak mematuhi perintahmu. Aku tahu jelas kalian(guru) merasa khawatir.

Setelah kejadian kejar-kejaran dengan polisi, dan setelah menghadapi perihnya water canon (gas air mata), aku bertemu dengan ke-3 kawanku. Memutuskan untuk lari ke arah parkiran. Ya pasti dengan kencang, karena aku tidak mau sampai tertangkap. Setelah sampai, aku langsung mengendarai motorku. Di perjalanan pulang aku masih memikirkan “aku orasi, ada yang foto ga ya? Aku nggak mau sampai viral, memang kebanggaan dan suatu pengalaman untukku, tapi aku takut bahkan benci terkenal, entah, aku juga tidak tahu”.

Sampai akhirnya aku sampai di tempat tinggalku sehabis isya kurang lebih pukul 20 :00 WIB. Aku bersyukur aku masih diberi selamat, dan tidak tertangkap. Aku mendengar kabar bahwa banyak sekali anak STM yang lain tertangkap polisi dan diarahkan ke Polsek. Menunggu orangtua mereka datang. Ah sayang sekali aku tidak bisa membantu. Maaf kawan, aku tetap mendoakanmu. Aku jadi teringat satu temanku, ketika peristiwa 24 September 2019 yang lalu, dia harus kehilangan nyawanya. Maka dari itu, ketika hari ini, tepat tgl 30 September 2019 aku akan meneruskan semangat kawanku.

Terimakasih pemerintah, Undang-Undang ngawurmu mengadu domba kami, antara masyarakat dan polisi. Sehingga kami saling membenci, bukan keadilan yang kami dapat. Tapi justru, rasa marah yg menggebu-gebu.

Saya Al, anak STM ingin memberitahukan, pendidikan kami memang belum tinggi, tapi pemerintah harus tau, kami tidak kudet (kurang update). Kami juga tidak ingin memperlihatkan jati diri kami, kami hanya ingin menyuarakan apa yang kami ketahui tentang RKUHP. Stop menyebut kami biang rusuh. Kami tidak hanya dapat pelajaran di sekolah, kami juga banyak belajar dari jalanan.

Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 6 =