Dari Mana Hari Ibu Bermula?

Tiap tahun, kita sering memperingati Hari Ibu. Di sekolah – sekolah, perkantoran hingga di rumah. Di hari itu, kita berkesempatan mengucap Hari Ibu kepada ibunda kita tersayang. Namun, tak banyak yang mengetahui dari mana Hari Ibu ini bermula, mengapa ditetapkan di Tanggal 22 Desember. Kisah apa yang tersembunyi di belakangnya.

Karena diputuskan sebagai hari Ibu, tak jarang kita menduga-duga ini memang hari khusus tentang ibu, itu saja. Namun bila kita mau bersusah payah sedikit saja berselancar di mesin pencari google, maka akan kita temukan kenyataan luar biasa soal Hari ibu. Jadi, tak perlu jadi ahli sejarah atau kuliah di jurusan sejarah untuk sekedar mengetahui asal – usul Hari Ibu. Mudah kan.

55 tahun silam, Presiden Indonesia I, Soekarno memenandatangai sebuah Dekrit yang menetapkan Tanggal 22 Desember  sebagai hari Ibu. Dekrit tersebut adalah Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. 22 Desember tentu tanggal yang istimewa sampai kemudian ditetapkan sebagai hari Ibu. Benar, tanggal tersebut adalah tanggal dimana para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra berkumpul dan mengadakan Kongres Perempuan I. Kongres perempuan itu berlangsung selama 3 hari, yaitu Tgl 22 – 25 Desember 1928, bertempat di Yoghakarta. Hasil kongres menyebutkan, salah satunya adalah membentuk organisasi payung perempuan bernama KOWANI (Kongres Wanita Indonesia).

Para pejuang perempuan ini berkumpul, menyatukan pikiran dan gagasan terkait perjuangan menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan. Mereka menggagas berbagai isu perempuan seperti pernikahan dini, akses pendidikan dan kesehatan bagi perempuan,perdagangan anak dan perempuan,  dan masih banyak lagi. Bahkan, kaum perempuan ini bicara soal bagaimana pelibatan sebanyak mungkin perempuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda.

Gagasan Kongres Perempuan Indonesia ini terpicu oleh diadakannya Kongres Pemuda Pertama di Jakarta pada tahun 1926. Semangat merebut kemerdekaan, memajukan perempuan membuat Kongres Perempuan terselenggara, meski ada saja yang nyinyir. “Orang perempuan saja kok mengadakan kongres, yang hendak dirembug itu apa?” celetuk salah satu orang ketika ide kongres perempuan ini muncul. Komentar sinis semacam itu bukan hal baru, karena persoalan perempuan memang belum jadi kepentingan banyak orang. Dan justru itu, yang merasa berkepentingan, terutama kaum perempuan mesti mendorong perjuangan perempuan agar semakin banyak yang terlibat. Kongres Perempuan Indonesia kemudian terlaksana dengan menyertakan 3 poin penting yaitu (1) Membangkitkan rasa nasionalisme; (2) Menyatukan gerakan perkumpulan perempuan dan (3) Membentuk Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia. Mendengar akan diadakannya Kongres Perempuan Indonesia, kepolisian Belanda segera menyelidiki rencana ini. Panitia Kongres, yang diketuai oleh Soejatin kemudian mengakali pihak kepolisian Belanda dengan mengutarakan bahwa Kongres Perempuan Indonesia adalah pertemuan non politis. Kepada pemerintah Belanda, Soejatin menyampaikan, kongres ini hanya membahas posisi permepuan dalam perkawinan dan pendidikan. Hanya saja, dalam kongres akan digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, sama seperti Kongres Pemuda Indonesia. Kongres pun ditutup dengan agenda utama pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi dengan lagu Indonesia Raya.

Setahun kemudian, kaum perempuan dari berbagai organisasi perempuan ini berkumpul kembali di Jakarta dengan tema yang lebih tegas lagi yakni “Merdeka” dari Belanda. Acara kongres bahkan sempat hendak dibubarkan ketika teriakan “Merdeka Sekarang” membahana memenuhi sudut ruangan.  Sebagaimana Kongres Perempuan I, Kongres Perempuan II banyak mencurahkan perhatian pada masalah perkawinan dan kemudian membentuk P4A yaitu Perkumpulan Pembasmian Perdagangan Perempuan dan Anak – anak pada tahun 1930. Kongres Perempuan III lalu berlangsung lagi pada tahun 1935 dan lebih berani mengangkat isu politik dan merekomendasikan “Perempuan Indonesia berkewajiban berusaha supaya generasi baru sadar akan kewajiban kebangsaan.” Baru pada tahun 1941, rekomendasi politiknya lebih tegas lagi yaitu menyetujui aksi Gabungan Politik Indonesia yang mengajukan “Indonesia Berparlemen” demi memperjuangkan Indonesia merdeka.

Luar biasa bukan, bagaimana kaum perempuan ini berjuang untuk diri dan kemerdekaan bangsa. Sayang, cerita bersejarah di balik hari Ibu ini sama sekali tak pernah diceritakan oleh Orde Baru. Dibuatnya hari Ibu hanya sebatas peran perempuan sebagai ibu di rumah, bukan perannya ketika turut berjuang merebut kemerdekaan, berpeluh keringat memperjuangkan kesetaraan perempuan, melawan pernikahan dini, perdagangan perempuan dan masih banyak lagi. Kini, tinggal kita melanjutkan estafet perjuangannya agar kesetaraan dan kesejahteraan perempuan bisa tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 10 =