Cerita Juang Pembebasan Perempuan

Sebagai manusia, semenjak kita terlahir di muka bumi adalah hal umum orang terdekat dan keluarga dari orang tua kita akan menanyakan apa jenis kelamin si jabang bayi. Apakah lelaki atau perempuan. Ketika terlahir dengan vagina atau penis, di situlah segala label dilekatkan pada kita tanpa kita punya kesempatan untuk mempertanyakan. Sebagai jabang bayi, bilamana memiliki vagina, maka telinga kita ditindik dan dipasangi anting, bahkan di saat kita masih menyusu air susu ibu. Di kesempatan lain, banyak jabang bayi perempuan disunat. Begitulah, dari detik pertama, nasib kita sudah ditentukan lengkap dengan berbagai peran, hak dan tanggung jawab tanpa kita pernah sempat mendiskusikannya. Baju yang kita kenakan, sepatu yang kita kenakan, model rambut kita, asesoris kita, alat dan jenis permainan kita, cara berbicara, berjalan, memilih sekolah, ketika puber dan jatuh cinta, memilih pekerjaan, pasangan, menikah, hamil, mau punya berapa anak, karir atau keluarga, dan banyak lagi. Pembagian peran semacam itu sejak dari lahir terus menerus membayangi setiap langkah kita, keputusan kita, mempertanyakan segala sikap kita tanpa henti hingga senja menjemput.

Apa yang salah dengan segala yang ada dalam pikiran, sikap dan tindakan kita hingga seperti sebuah buku yang sudah tertulis demikian adanya tanpa boleh diedit, dihapus atau dirubah awal cerita, pertengahan cerita hingga akhir cerita? Siapa yang paling berhak menuliskan cerita dalam buku hidup kita? Kita sendiri atau keluarga, masyarakat hingga negara?  Setiap manusia, terutama perempuan tak sedikit yang terpaksa berhenti dan putus langkah di tengah jalan ketika hendak menggapai cita atau sekedar menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri, di tengah struktur sosial masyarakat yang sudah menggariskan hidup kita harus sesuai dengan standar sosial masyarakat pada umumnya, adalah sesuatu yang revolusioner. Pemberontakan yang cukup keren. Bila tidak demikian, kita tidak bisa mendapatkan kualitas hidup yang kita mau, sesuai pencarian jati diri kita sebagai manusia. Betul, manusia.

Sebagaimana semua mahkluk di semesta tempat kita tinggal,tentu kita harus bertahan hidup. Tapi bagi manusia, tidak lah cukup untuk bertahan hidup saja, kita mau menjalani hidup yang berkualitas, bermanfaat, memiliki makna. Itulah fungsi pengetahuan, seni, sastra yang kesemuanya dirangkum menjadi KERJA. Dengan kerja, kita menjadi lebih bermanfaat, berdaya, merubah sesuatu menjadi hal berguna baik yang bersifat materil atau imateril. Setidaknya, ketika saya masuk sekolah dulu, saya dan teman – teman memiliki cita – cita beragam, ada yang ingin jadi jurnalis, ada yang ingin jadi aktor atau artis, dokter, guru dan banyak lagi. Paling tidak, saya pribadi masih punya cita jadi jurnalis, menuliskan banyak kisah di sekitar saya sebagai bacaan bagi banyak orang supaya setiap orang tahu bahwa  setiap kita punya cerita dan alangkah indah bila berbagi. Pun, ketika memasuki universitas cita – cita saya tidak berubah.  Tapi, pikiran saya risau mana kala banyak teman yang jauh berprestasi di kelas baik ketika SD, SMP atau SMA, kehilangan cita – cita. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena mimpi mereka jatuh berkeping berbenturan dengan kenyataan yang terlampaui pahit. Ada yang putus sekolah di SD atau SMP atau SMA dan terpaksa bekerja. KERJA yang awalnya adalah sesuatu yang keren karena bisa menghasilkan sejumlah uang untuk kebutuhan, membeli hal – hal yang kita senangi, mengembangkan diri, mendadak menjadi suatu hal yang mencerabut semua mimpi sejak dari usia anak – anak. Suatu kali, ayah saya pernah berkata seperti ini

“Kamu beruntung, sepulang sekolah masih bisa bermain, dan punya kesempatan belajar meski enggan. Murid – muridku tidak pakai sepatu ketika masuk sekolah, angon sapi sepulang sekolah, sebagian murid perempuan keluar sekolah kelas 5 SD  karena hendak dinikahkan agar tidak membebani keluarga”

Saya masih kecil, tapi kata – kata itu saya ingat sampai usia dewasa, dan membuat saya menjadi mengerti bahwa tidak mudah punya impian. Punya impian di dunia yang keji, adalah bentuk kekurangajaran sekaligus keberanian.

Singkat cerita, kerja, yang semestinya merupakan hal yang berfaedah, menjadi saluran untuk meningkatkan kapasitas, rasa dan karsa menjadi suatu hal yang mengerikan. Setidaknya, ketika saya sendiri menjadi jurnalis di sebuah perusahaan media, hasrat menulis justru hilang, tergantikan dengan rasa penat, lelah dan kreatifitas musnah digantikan dengan target yang tidak berjeda. Tidak ada waktu istirahat, tidak ada waktu membaca buku baik novel atau teori sosial yang sebelumnya sangat saya suka. Apa yang saya rasakan ini mungkin juga dirasakan oleh  banyak manusia lainnya. Terasing.

Membaca realita tetap bukanlah hal yang mudah, membuat resah dan kuatir karena hati bisa menjadi kebal akan realita pahit sekitar. Ketika pertama saya berkecimpung dengan aktivisme di tengah buruh perempuan, mendengarkan cerita teman – teman, terlibat melakukan advokasi membuat hidup saya  merasa berguna. Sampai kini pun, saya senang dan merasa bermanfaat. Tapi tak jarang hati mengeras dan kebal dengan cerita harian buruh perempuan, awalnya terasa sedih, sakit, perih lalu mengalir sebagai hal biasa karena terbiasa. Jangan salah, rasa getir dan sedih bahkan putus asa merasa selalu kalah karena perubahan tak jua hadir secara signifikan, membuat kaki saya nyaris limbung dan jatuh berkali – kali, bangun lagi, jatuh lagi dan saya bersyukur masih bisa bangun kembali setiap jatuh, karena dikelilingi teman – teman yang baik hati.

KERJA, bagi teman – teman buruh perempuan adalah hal membanggakan. Ketika kami meriung, berbagi cerita sambil makan gorengan sepulang kerja pabrik di kantin atau pinggir got depan pabrik, kami mengenang masa lalu. Ada yang kabur dari rumah karena tak mau dikawinkan paksa, masih ingin lanjut sekolah. Maka, nekatlah teman saya ini merantau di Jakarta dengan uang ala kadarnya. Ia berimajinasi, bekerja di Jakarta sambil meneruskan sekolah ke tingkat universitas. Di pabrik garmen, ia bekerja. Rasanya senang sekali, bertemu teman baru, lingkungan baru dan tentu saja gaji. Gaji yang diperoleh, ia tak risau berapa jumlahnya. Mana kala uang terpegang dalam genggaman,ia bisa mengirim uang buat keluarga di kampung, membeli baju baru, atau sekedar bersenang- senang dengan teman sebaya. Tapi, tunggu dulu. uang dalam genggaman ternyata hanya singkat saja masa hidupnya. Uang hasil jerih payah setelah dikirim ke keluarga sebagian, hanya cukup untuk makan sehari – hari, sewa kamar 3×3. Maka, melayanglah baju baru, tas baru, sepatu baru, hangout dengan teman. Bulan pertama bekerja, ia akhirnya mengerti, impiannya melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, bahkan tidak memiliki kesanggupan melangkah di anak tangga paling pertama. Mendengar ceritanya, saya teringat dengan teman  – teman sekolah saya terdahulu, mereka dinikahkan sejak lulus SD meski pandai dan berprestasi. Saya kagum dengan teman saya satu ini, ia kabur dari rumah menolak perkawinan paksa dan menunjukkan bisa mencari nafkah sendiri. Betul, menjadi diri sendiri sungguh tidak mudah. Bagi saya, itu revolusioner.

Masih dalam sebuah obrolan ringan sambil meriung sepulang kerja, seorang teman tampak gelisah sambil sesekali melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan. Ia lalu berpamitan pulang karena suami sebentar lagi sampai di rumah dan ia sudah harus membereskan rumah, menyediakan secangkir kopi hangat. Rumahnya agak jauh, ia tinggal di wilayah Bekasi, setiap hari ia mengendara motor dan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Bila dihitung – hitung, maka perjalanan pulang pergi sudah memakan waktu tiga jam. Perusahaan tempat ia bekerja sudah berbunyi bel nya di angka 7 pagi. Artinya, ia sudah harus berangkat jam 05.30 pagi. Suatu ketika, saya bertanya jam berapa ia bangun, ia menjawab ketika ayam belum berkokok dan matari belum betul muncul dari peraduan, jam 2 dini hari. Mari kita kalkulasi, teman saya mulai bangun pagi jam 2 dini hari, memasak, mengepel, menyapu, menyiapkan seragam sekolah anak, mandi hingga jam 5.30 pagi. Ada sekitar 3,5 jam ditambah perjalanan 1,5 jam. Artinya selama 6 jam, teman saya sudah mulai bekerja. Di perusahaan, ia bekerja selama 8 jam atau lebih bila lembur. Katakanlah, ia bekerja selama 10 jam, pulang sekitar jam 6 malam, ditambah1,5 jam perjalanan maka menjadi 11,5 jam. Sesampai di rumah, pekerjaan menanti, mulai dari menemani anak membuat PR sekolah, menyeduh secangkir kopi untuk suami, membersihkan rumah dan akhirnya tidur jam 11 malam. Secara keseluruhan ia bekerja di rumah dan di perusahaan selama 17,5 jam. Baiklah kita total menjadi 18 jam kerja/ hari. Dengan demikian,kerja yang sudah dicuri oleh pemilik modal (kerja reproduksi dan produksi) bisa tak terbilang nilainya.

Kerja Produksi dan Reproduksi = Satu Kesatuan

Cerita – cerita harian buruh perempuan seperti yang terhambur dalam ruang – ruang obrolan ringan sepulang kerja adalah gambaran lapisan ketertindasan buruh perempuan baik sebagai buruh di ranah produksi maupun sebagai perempuan dalam tatanan sosial yang timpang, bernama patriarki. Watak dari kapitalisme itu sendiri adalah patriarki, keduanya adalah satu tubuh bagai darah dan daging, seperti Hidrogen dan Oksigen yang bertemu menjadi H20. Keduanya bukan bangunan terpisah, keduanya adalah satu. Buruh perempuan dieksploitasi tenaganya di ranah reproduksi dan produksi demi keberlangsungan sistem ekonomi kapitalisme, dimana kerja produksi dan reproduksi adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tanpa kerja reproduksi, kerja – kerja produksi tidak akan bisa berlangsung dan roda ekonomi kapitalisme tidak akan bisa berjalan.

Bila tidak ada buruh perempuan yang mengerjakan pekerjaan reproduksi seperti apa yang tergambar dalam cerita teman saya tadi, maka tenaga kerja lelaki (dalam hal ini suami) yang terserap dalam proses produksi tidak akan bisa mereproduksi dirinya. Mereka tidak akan bisa memulihkan tenaganya di rumah dengan menyantap makanan yang dipersiapkan perempuan (istri) yang oleh budaya patriarki ditempatkan sebagai takdir kaum perempuan. Pun, bagi kalangan perempuan mampu, akan mengalihkan pekerjaan tersebut kepada perempuan pekerja lain (PRT/ Pekerja Rumah Tangga). Demikianlah, tanpa kerja ibu rumah tangga, buruh lelaki tidak bisa mereproduksi tenaganya, tanpa buruh, kapital tidak bisa direproduksi. Dalam hal ini, akumulasi kapital ditentukan oleh tenaga kerja tak berupah perempuan buruh di ranah reproduksi (rumah tangga). Maka, jelaslah kerja rumah tangga yang penuh peluh, menguras mental dan fisik itu adalah KERJA. Tak hanya memulihkan tenaga buruh lelaki, kerja rumah tangga bertanggung jawab penuh atas calon tenaga kerja dari sejak dalam kandungan hingga siap bekerja di usia belia. Ia terpampang dalam brosur lowongan kerja, dalam deretan kalimat dibutuhkan tenaga kerja dengan usia 18 tahun – 25 tahun. Mereka, para pelaku pasar dan pemerintah menyebutnya angkatan tenaga kerja muda.

Menurut Mariarosa Dalla Costa, tenaga kerja domestik perempuan buruh memproduksi nilai guna (nilai pakai), bukan nilai tukar yang muncul mana kala tenaga kerja menjual tenaganya di pasar kerja untuk menjadi tenaga kerja upahan.  Dalam skema ini, perempuan buruh secara tidak langsung menciptakan nilai lebih yang menciptakan akumulasi kapital. Singkat cerita, tanpa nilai guna yang diciptakan buruh perempuan di ranah rumah tangga (reproduksi), tidak akan ada nilai lebih yang menciptakan akumulasi kapital.

Cerita Perjuangan Pembebasan Perempuan

Matahari masih bersinar terang meski jarum jam sudah bergerak ke angka 05 lewat 30, jelang  malam hari. Kami masih meriung dan bersenda gurau ditemani makanan gorengan ala kadarnya. Seorang teman lain lagi berbagi cerita tentang teman – teman Nasrani di tempat ia bekerja yang tidak diijinkan pulang lebih awal untuk beribadah Natal yang diadakan sore hari pada 24 Desember. Akibatnya, teman – teman tersebut pulang seperti biasa dan kemungkinan besar tidak sempat menjalankan ibadah. Di lain cerita, salah seorang teman Nasrani berkisah tentang rumah ibadahnya yang tidak boleh berdiri. Kami saling melempar pandang.

Seorang buruh perempuan, ia adalah buruh juga perempuan, adalah juga manusia. Dalam dirinya melekat beragam identitas mulai dari jenis kelamin, orientasi seksual, agama yang dianut, warna kulit (ras), setiap identitas tersebut memuat beragam cerita penindasan. Demikianlah, serangkaian penindasan berlapis menyatu dan tak jarang menimbulkan ketegangan sesama manusia tertindas. Karenanya, perjuangan pembebasan perempuan dan manusia keseluruhan untuk kesetaraan di keseluruhan aspek, yaitu tanpa kelas, membutuhkan perjuangan di semua lini yang terhubung satu sama lain, tidak terpisahkan. Perjuangan pembebasan perempuan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kelas, pun demikian sebaliknya. Keduanya tidak subordinat satu sama lain dan tidak bertentangan. Demikian pula dengan persoalan kelas, tidak lepas dari konsep ras, etnik, gender maupun agama. Perjuangan di setiap lini tersebut seharusnya dilakkukan secara serentak dan dialektis untuk perubahan fundamental dan menyeluruh.

Lalu mau mulai dari mana? Semua pintu tertutup, terkunci dan seolah tidak ada jalan keluar. Buntu. Berbenturan dengan persoalan harian yang hadir bertubi – tubi. Kapitalisme mengajarkan bila mau selamat, selamatkan diri sendiri, bila perlu singkirkan yang lain, mari bersaing dan berkompetisi, saling menyingkirkan. Solidaritas dan kebersamaan, mengajarkan sakit ini bukan hanya aku yang rasa, bukan hanya kau yang rasa, ada aku dan kau yang lain, yang berjibaku dalam arena pertarungan tak berjeda ini. Tak hanya aku, kau dan kita yang punya cerita, ada aku dan kau yang lain yang juga punya cerita. Marilah saling mendengar, saling bercerita dan berbagi dengan beragam cara. Ia bisa melalui goresan tangan, gambar begerak yang bisa berputar dalam sebuah alat komunikasi yang ada di genggaman tanganmu, pun melalui suara bagai dongeng yang mengalun dalam indera pendengaran kita. Demikianlah, kadang setiap kita perlu berhenti sejenak untuk duduk dan saling mendengar, memahami, untuk gerak bersama. Dari sanalah kita bisa saling terhubung, jangan tergesa, lupakan sejenak target kerja karena ia tidak akan lari kemana. Hentikan sejenak pekerjaan rumah tangga itu, hidup kita tidak akan berhenti. Dari sanalah pintu akan terbuka, bukan karena kita menemukan kuncinya, tapi karena kita punya kesanggupan untuk mendobraknya bersama.

Oleh DST

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 5 =