Bermula Dari Serpihan Semangat Juang

Rapat Akbar FBLP  pada tahun 2011

Oleh Dian Septi Trisnanti 

untuk semua kawan yang mendukung dan terlibat dalam perjuangan FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik)

Ini hanya sebuah kisah, bukan yang paling hebat tentu saja. Karena sedemikian banyak aktivis yang lebih militan dan berani. Terimakasih untuk semua kawan. Panjang umur perlawanan, Selamat Ulang Tahun FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) yang ke enam

Berawal Dari Sebuah Perpecahan

Semua berawal dari perpecahan PRD (Partai Demokratik) pada tahun 2007, ketika Papernas (Partai Persatuan Pembebasan Nasional) yang dibentuk PRD dan organisasi – organisasi pendukungnya, diputuskan bergabung dengan PBR (Partai Bintang Reformasi) dan kami yang tidak bersetuju, dipecat. Saya, adalah salah satu yang dipecat, baik dari PRD maupun LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi).

Pada tahun 2008, saya diminta pindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Saya mundur dari pekerjaan saya sebagai jurnalis UNISI FM meski serikat yang sedang saya rintis masih dalam proses. Saya, juga pergi meninggalkan AJI Yogyakarta (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta. Pun saya meninggalkan proses LMND PRM (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) Politik Rakyat Miskin, yang sedang dalam pertarungan internal dengan LMND.

Menuju Ibu Kota Belajar Dari Buruh

Membagi selebaran dan mimbar bebas di KBN Cakung

2008/Membagi selebaran dan mimbar bebas di KBN Cakung/ catatan: seting tanggal di kamera keliru

Pertama kali menginjakkan Jakarta, saya hanya dibekali NO HP Jumisih (Ketua FNPBI Jabotabek)  dan NO HP Ilham Syah (Ketua Umum FSBTPI – Federasi Serikat Buruh Transportasi). Saya dibekali alamat  Jumisih dan rute menuju Jakarta Utara. Seingat saya Jakarta sangat panas, penuh polusi dan begitu padat. Membuat saya rindu setengah mati dengan Yogyakarta, dimana saya sering berkumpul dengan kawan-kawan.

Akhirnya kos Jumisih dan keluarga kecilnya saya temukan. Kamar kos sederhana yang awet ia tempati hingga sekarang. Jumisih, sudah saya dengar namanya dari lama. Pernah bertemu tapi tak sempat bercakap lama. Anaknya masih bayi, sakit-sakitan (hingga sekarang) terutama asma. Kami berdiskusi tentang peluang kembali membangun kelompok diskusi buruh yang nantinya (semoga) menjadi serikat buruh. Akhirnya Jumisih menyatakan bersedia dengan catatan masih minim sekali waktunya karena harus mengasuh anak. Waktu itu, cukup seminggu sekali. Saya bilang tidak apa – apa. Tapi Jumisih memang hebat, militansinya luar biasa. Bagi saya, ia adalah mentor, guru dan sahabat yang baik. Selalu sabar menghadapi saya yang agak atau (sangat?) temperamen dan keras.

Berikutnya saya menghadiri front ABM (Aliansi Buruh Menggugat) Jakarta Utara di sekretariat SBTPI di jembatan pocis, Jakarta Utara. Untuk pertama kalinya, saya bersentuhan dengan gerakan buruh karena pengalaman saya di Yogyakarta adalah mahasiswa, buruh tinta dan warga kampung (membangun Papernas Brebah, Yogyakarta). Di sinilah saya bertemua Boing atau Ilhamsyah. Hampir setahun saya sering sekali menginap di SBTPI, yang saat itu sekretariatnya juga berada di Lorong 20. Saya juga sempat bertemu dengan Sultoni,  Kamal dan Basuki, mengadvokasi buruh PT. Visindo Artha Printing, yang berlokasi di KBN Marunda.

Pengalaman mengadvokasi buruh pabrik Marunda ini menyakitkan karena akhirnya kalah dan semua buruh menyerah. Saya berkeliling menemui mereka dari rumah ke rumah di Marunda hingga di rumah buruh yang bertempat tinggal di Cengkareng. Saya mencoba kembali meyakinkan mereka untuk meneruskan perjuangan. Namun hasilnya nihil, sementara uang saya terbatas untuk membiayai transportasi. Sempat saya menginap di beberapa rumah buruh tersebut. Pengalaman saya mengorganisir rakyat, mereka selalu baik hati, tak pernah saya kelaparan atau kehabisan uang. Tapi sungguh, saya tak mau merepotkan sehingga tak pernah tinggal lama.

Sempat Mengorganisir Warga Tanah Merah, Jakarta Utara

Setelahnya, saya mengorganisir Tanah Merah, Jakarta Utara dan sempat mengadakan perkumpulan dari RT 01 sampai RT 07. Tiap pertemuan dihadiri tak kurang dari 200 sampai 300 penduduk tentang Jamkesmas. Saya mengadvokasi warga yang sakit dan bagaimana membuat jamkesmas. Dari aktivitas advokasi ini pula, kami membentuk PRMJ (Persatuan Rakyat Miskin Jakarta) bersama Vivi Widyawati, pendiri Perempuan Mahardhika.

Sayang, di tahun 2009 warga kemudian beralih ke parpol parpol peserta pemilu karena iming-iming uang dan juga kartu Jamkesmas gratis. Saya tentu kecewa, tapi jauh di lubuk hati, saya tidak menyalahkan warga. Kemiskinan yang sedemikian akut, himpitan hidup yang luar  biasa membuat mereka tak punya pilihan. Sementara saya, masih punya banyak pilihan. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, pengorganisiran dihentikan dan saya fokus mengorganisir buruh bersama Jumisih.

Menyisir Kawan, Mengajak Berjuang

Untuk mengorganisir buruh, saya dan Jumisih membutuhkan kawan. Itulah mengapa, kemudian bersama Jumisih saya menemui Kurniati atau Atin. Atin adalah pengurus  FNPBI (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia) PT. Bintang Adi Busana, yang baru bebas dari penjara selama 3 bulan akibat dituduh mencuri baju reject milik perusahaan. Padahal, sudah biasa buruh pabrik membawa baju yang gagal produk untuk dijadikan lap di rumah. Itu hanya akal bulus pengusaha untuk membrangus serikat dan mengkriminalkan pengurus serikat.

Saya kagum dengan Atin, ia tak banyak bicara, bukan orang yang menguasai forum, tapi ketulusan, militansi, keuletannya, jangan ragukan. Seorang Atin, bahkan bisa sedemikian pemaaf.  Setelah ia keluar dari penjara dan bekerja di salah satu perusahaan di KBN Cakung, Manajer  PT. Bintang Adi Busana menemuinya sepulang kerja dan meminta maaf, karena telah menjebloskan Atin ke penjara. Usut punya usut ia sedang sakit keras dan mungkin hidupnya tidak akan lama. Tahukah apa jawaban dari Atin? Ya, Atin memaafkannya. TULUS. Selang beberapa tahun kemudian, sang manajer akhirnya meninggal.

Dari Atin, kami kemudian diajak bertemu mbak Mini, Lamoy Farate dan Nana Suprianta. Ketiganya adalah teman-teman FNPBI. Hanya Nana yang kemudian ikut bergabung dengan kami.

Dari Nobar Film Marsinah, Lahir FBLP

Kami lalu mengadakan ajang “Pemutaran Film Marsinah” dengan pembicara Boing. Yang hadir 100 lebih. Proses mobilisasi kami lakukan dengan mendatangi rumah ke rumah, pabrik ke pabrik dengan bekal selebaran serta undangan bagi serikat – serikat lain.

Setelah proses ajang itu, kami mengumpulkan semua yang hadir di ajang tersebut. Pertemuan itu dihadiri 30 orang yang kemudian bersama membentuk FBLP (Forum Buruh Lintas Pabrik). Iuran kami Rp 30.000,00 per bulan. Tanggalnya terbentuk FBLP 5 Juni 2009.

Kenapa kami namai FBLP? karena kondisi buruh yang mayoritas berstatus kerja kontrak membuat buruh berpindah-pindah dari satu pabrik ke pabrik lain sehingga sulit diorganisir dan gabung ke serikat. Makanya kami namai Lintas Pabrik. Harapannya dimanapun berpindah pabrik, ia tetap anggota serikat.

Dari sinilah, pengorganisiran kami mulai, dari selebaran reguler, diskusi dan silaturahmi dari satu hunian ke hunian dengan berbekal satu spidol dan kertas plano mengisi diskusi. Untuk mendanai perjuangan tersebut, saya bekerja sebagai Jurnalis di Jurnal Perempuan. Selain dari iuran anggota dari anggota kami yang sedikit itu dan juga dari kolektif organisasi saya.

– saya berharap, bisa terus berjuang sepanjang usia. semoga

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − two =