Berjuang Menghadapi Pre-eklampsia

Namaku Parti. Aku seorang ibu dari tiga anak.

Anak pertama ku berumur 19 tahun
Anak ke dua ku berumur 7 tahun dan anak ke tiga ku berumur 4 bulan. Semuanya laki – laki.

Suka duka menjadi ibu sangat kurasakan .
Anak pertama dari hamil sampai melahirkan selalu dikelilingi keluarga. Begitupun anak ke dua, yang berbeda adalah anak ke tiga. Aku hamil di saat aku menjalani proses penyembuhan pasca operasi patah tulang. Rasa takut dan stress memenuhi hati ku (takut janinku terkena radiasi dan mengalami cacat bawaan lahir). Karena faktor itu juga aku divonis pre-eklampsia oleh dokter kandungan.

Akhir Oktober 2018 aku mengalami kecelakaan motor dan mengakibatkan kakiku patah dan harus dioperasi. Awal November aku menjalani operasi dan di akhir November aku merasa ada yang aneh. Sudqh dua bulan aku tidak mendapat tamu bulanan. Akhirnya, aku meminta tolong seorang teman untuk dibelikan tespack dan ternyata garis 2. Percaya nggak percaya. “Ya Allah, begitu indah rencana mu”. Tapi jujur hatiku belum bisa menerima. Atas saran teman juga, aku check up ke RS F. Aku memilih RS itu, karena lebih dekat dari tempat tinggalku.
Hasilnya, di dalam rahimku sedang tumbuh janin berusia 12 Minggu. Ashtaghfirullah, aku sempat galau, namun akhirnya, aku memutuskan melahirkannya.

Itulah hari – hari paling sulit yang kulalui. Aku berpikir penyembuhan pasca operasi, sekaligus mengkuatirkan janin di dalam kandungan. Akhir nya aku divonis dokter kandungan pre-eklampsia ( keracunan dalam kehamilan). Tanda tandanya Hipertensi, protein urine tinggi dan edema (cairan berlebih dalam tubuh).

Karena vonis itu, setiap chek up aku selalu ke dokter kandungan paling lama sebulan sekali dan semua biaya mandiri karena BPJS kesehatan tidak bisa mengcover semua biaya. Alhasil, setiap periksa paling murah ya 250.000. Sementara, tes lab bisa samp 500.000, itu berlangsung tiga kali selama masa kehamilan.

Dan karena pre-eklampsia juga, selama masa kehamilan aku tidak pantang, karena pikirku proses kelahiran tidak bisa normal dan pasti operasi. Hal itu, menurut dokter, demi keselamatan ibu dan bayi dan sebelum usia lahir sudah harus dikeluarkan. Ya Allah, begitu mahal harga yang harus aku tebus untuk bayiku ini .

Dan Alhamdulillah pertengahan bulan Ramadhan, aku melahirkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dengan BB 2,9 kg, lahir normal. Sesaat sebelum melahirkan, seorang perawat bertanya “Apakah mau dilanjutkan untuk lahir normal atau SC?”
Ku jawab kalau nanti yang di ruang SC keluar sebelum bayiku lahir nggak apa aku di SC tapi kalau bayi ini mau terlahir normal juga nggak apa. Jujur aku sudah pasrah apapun yang akan terjadi nanti. Yang terpikirkan olehku saat itu, “bayi bisa keluar, karena memang dia sudah ingin keluar. Terkait resiko kelahiran karena pre-eklampsia, aku sudah tidak pikirkan lagi. Sudah lah pasrah sama Yang Kuasa saja .

Dan akhirnya aku bisa melahirkan secara normal. Dua minggu sebelum jadwal kelahiran yang ditentukan oleh dokter.

Intinya untuk ibu yang hamil pre-eklampsia itu butuh support dari orang – orang terdekatnya , karena sangat berat melalui hari – hari

Terimakasih ya Rabb ,
Terimakasih keluarga ku
Terimakasih teman – teman ku yang selalu ada untuk ku .


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × four =