Berdialog Dengan FIlm

Untuk kali ke tiga, Angka Jadi Suara kembali menyapa kota Bandung. Tepatnya di acara Bioskop Kampus 9009 ITB yang diselenggarakan Liga Film Mahasiswa. Sebuah acara yang diselenggarakan tiap tiga bulan sekali. Liga Film Mahasiswa ITB sendiri, keberadaanya sudah hadir sejak tahun 1960, ketika ITB menerima hadiah proyektor dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, yang diserahkan kepada mahasiswa untuk dikelola. Sejak itu, pemutaran film rutin berlangsung hingga kini.

Pada Jumat, 2 Juni 2017, Bioskop Kampus menyajikan 3 film dokumenter, diantaranya Harta Karung, Angka Jadi Suara dan Sa.sar Interaksional. Menghadirkan sutradara ketiga film dokumenter tersebut, diskusi berlangsung pasca pemutaran.

Harta Karung, film yang disutradarai oleh Miftachul Rahman dalam rangka memenuhi tugas kuliah tersebut, berkisah tentang Tempat Pembuangan Sampah di Surakarta. Film ini mendokumentasikan kisah hidup para pemulung, yang menyandarkan hidupnya dari Tempat Pembuangan Sampah tersebut.

Angka Jadi Suara, sebuah film dokumenter karya buruh perempuan yang mengisahkan perjuangan buruh perempuan melawan pelecehan seksual di tempat kerja, hingga terwujud pemasangan plang “Bebas dari pelecehan seksual” di kawasan industri.

Sa.sar Interaksional,  film dokumenter yang disutradarai oleh Nanda Arya S ini menceritakan tentang tempat rehabilitasi bagi orang sakit jiwa yang menolak pengobatan kimia. Alih – alih memberikan obat kimia, pihak pengelola lebih memilih pengobatan dalam bentuk interaksi (percakapan) dan obat herbal.

Bioskop film di ITB ini dihadiri sekitar 100 orang yang kemudian beberapa diantaranya mengajukan beberapa pertanyaan dan komentar. Bagaskara misalnya, menyampaikan tema yang diangkat oleh para sutradara film ini, tidak banyak yang mau mengangkat. “Kenapa berani mengambil isu ini? Apa hambatan dalam mengangkat isu tersebut?”

Riri, tak ketinggalan, mahasiswa ITB ini juga memberikan pertanyaan khusus pada sutradara Angka Jadi Suara, Dian Septi Trisnanti. “Saya mengapresiasi film karya teman teman yang duduk di depan. Terkait pelecehan seksual di tempat kerja, Angka Jadi Suara, apakah ada tentangan dari buruh lelaki?”

Menjawab pertanyaan Riri, Dian Septi Trisnanti, selama proses pembuatan film tidak ada tentangan dari buruh lelaki. Meski mayoritas anggota FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) dan pengurusnya adalah perempuan, namun anggota maupun pengurus FBLP yang lelaki mendukung pembuatan film Angka Jadi Suara.

Sementara, Rahman, sutradara Harta Karung menuturkan butuh motivasi yang kuat untuk mendalami sebuah isu. Dalam konteks pembuatan film Harta Karung, nara sumber termasuk “welcome” dengan kru film. Selain, memang sudah saling kenal dari lama. Kebetulan, TPS itu berada di sekitar tempat tinggalnya.

Nanda, sutradara Sa.sar Interaksional, menceritakan pengalamannya meski ia dan nara sumber dekat, namun kru film lainnya tidak terlalu dekat dengan Tempat Rehabilitasi untuk Penyandang Sakit Jiwa sehingga butuh pengenalan terlebih dahulu. Tak ayal, butuh waktu tiga bulan bagi kameramen dan tim film lain untuk mendekatkan diri. Hambatan lain, adalah masalah alat dan keuangan pembuatan film yang terbatas.

“Apasih yang unik dari proses pembuatan film?” Tanya Dinda kepada para sutradara di depan.

“Kami disuruh makan sampah, diospek sama para pemulung” ujar Aman sambil tergelak mengenang  proses pembuatan filmnya. Dia menceritakan bagaimana tim film disajikan sisa sisa teh kemasan yang terbuang dan dikumpulkan lalu ditaruh di dalam kulkas. Para pemulung itu, ucap Rahman, sudah biasa mengkonsumsinya. Untuk merasai dan mendalami kehidupan para pemulung, hal itu dilakukan oleh Aman dan teman teman. Namun, Rahman kagum dengan para pemulung tersebut yang bangga dan tidak malu dengan profesi yang dijalaninya. “Mereka  merasa mampu, karena mereka tidak mengambil hak orang lain”.

“Buat sutradara Sa.Sar Interaksional, katanya tidak percaya obat kimia, tapi tadi itu sepertinya dikasih ramuan gitu ya?” Tutur Dinda melanjutkan pertanyaannya

Nanda menjawab bahwa yang diberikan pada pasien sakit jiwa adalah obat herbal dan bila dilihat di film tadi itu, pasien sakit jiwa selalu diajak ngobrol meski jawabannya belum tentu berkaitan. Namun jawaban itu sendiri adalah jawaban dan itu percakapan. “Interaksi itu ya, ketika ditanya A dijawab B”

“Lalu untuk AJS apa ya follow up dari pemasangan plang tersebut? Apakah ada penurunan jumlah tindak pelecehan seksual?” Tanya Linda

“Untuk menurun atau tidaknya belum mengetahui pasti, tapi plang tersebut bermanfaat bagi korban, bahwa pelecehan diakui sebagai masalah dan harapannya korban tidak merasa sendiri. Selain plang ada juga posko pembelaan buruh perempuan yang menerima pengaduan pelecehan seksual meski masih belum permanen. Tindak lanjut dari film sendiri adalah pemutaran film keliling dan dialog yang harapannya bisa terwujud jaringan perempuan melawan kekerasan seksual” Ucap Dian Septi Trisnanti, sutradara Angka Jadi Suara.

Menutup acara diskusi, tiap sutradara diminta memberikan kata penutup, ketiga sutradara senada menyatakan bahwa film adalah metode penyampaian pesan yang efektif kepada khalayak luas. Melalui film, setiap orang bisa menyampaikan pesan tentang kehidupannya, kehidupan sekitarnya sehingga bisa bertukar pengalaman. Keberagaman pengalaman tersebut bila didialogkan, maka masyarakat bisa mengetahui bahwa banyak sisi kehidupan dari manusia. Dari sana bisa tumbuh kepekaan dan empati satu sama lain.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 2 =